Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Ayesha Sakhiya


__ADS_3

"Sayang, Mas berangkat kerja dulu ya, kalau ada apa-apa langsung hubungi Mas," tutur Farhan lalu mengecup kening sang istri, "Sayang baik-baik ya, jangan rewel," Farhan berpindah mengelus perut buncit sang istri lalu mengecupnya.


"Assalamu'alaikum," ucapnya, setelah Nayla menyalami punggung tangannya dan menjawab salam, lalu Farhan masuk ke dalam mobil, berangkat ke kantor.


Meskipun hari perkiraan lahir bayi Nayla dua hari lagi, Farhan tetap masuk ke kantor karena di rumah ada kedua Mama Nayla yang menjaganya. Sebenarnya Farhan ingin menjaga sang istri, tapi kedua mertuanya melarang dan menyuruh Farhan untuk bekerja saja, biar mereka berdua yang menjaga Nayla.


"Suamimu sudah berangkat?" tanya sang Mama.


"Udah Ma, baru aja," jawab Nayla lalu duduk lesehan di ruang keluarga.


"Ma, kok punggung bagian bawah panas banget ya, kenapa ini ya Ma?" tanya Nayla sambil memegangi punggung bagian bawahnya.


"Biasa sayang, kalau mau lahiran seperti ini, Mama juga dulu gitu," jawab Mama Adela yang memang lebih berpengalaman dari pada Mama Hania, karena tiga kali hamil dan melahirkan.


"Sini, biar Mama pijit pelan-pelan," Mama Adela mendekati putrinya lalu mengelus punggung bagian bawah Nayla.


"Biar Mama buatkan ramuan dari nenek kamu, dulu waktu Mama mau melahirkan dia membuatkan ramuan itu," Mama Hania melangkah meninggalkan anak dan ibu itu. Ia menuju dapur membuatkan ramuan entah apa.


Tak butuh waktu lama, Mama Hania sudah kembali dengan segelas ramuan di tangannya, "Coba minum ini, baunya memang aneh, tapi kata nenek kamu ini ampuh, waktu Arumi akan melahirkan Nenek juga memberi ini, katanya supaya mudah pas lahiran," Mama Hania menyerahkan segelas ramuan itu ke tangan Nayla.


Nayla mau menolak tapi ia tidak enak dengan sang Mama yang sudah berusaha membuatkan ramuan itu. Dengan terpaksa ia meminum ramuan tersebut, tapi baru saja ia menelannya tiba-tiba ramuan itu keluar lagi karena Nayla memuntahkannya.


Hania segera menyodorkan air putih ke hadapan putrinya, "Minum dulu. Udah enggak usah di minum lagi ramuannya," ucapnya.


"Maaf Ma, mual banget bau itu," ucap Nayla setelah meminum air putih.


Adela hanya melihat tanpa mau berkomentar, ia tidak mau berdebat dengan Hania dan membiarkan Hania melakukan apa yang dia mau.


"Sudah, tidak apa-apa, kamu ganti baju dulu aja, baju kamu kotor gini,"


Nayla melihat bajunya yang kotor karena muntahannya tadi, ia pun mengangguk lalu bangkit menuju kamar di antar oleh Mama Adela, sedangkan Hania membersihkan bekas muntahan Nayla tadi.


Setelah berganti pakaian, Nayla berbaring di tempat tidur karena rasa panas di punggungnya bertambah parah, mencoba untuk tidur saja supaya rasa sakit itu hilang, tapi bukannya menghilang rasa sakit tersebut justru bertambah kuat, di iringi dengan perutnya yang terasa sakit.


"Apa aku mau lahiran ya? Kenapa sakit banget gini, duhh kadang sakit kadang enggak," gumam Nayla sambil memegangi perutnya.


"Mama!" teriaknya karena sakit di perutnya bertambah.


Sontak kedua wanita yang di panggil itu langsung masuk ke dalam kamar Nayla, yang kini berpindah di lantai bawah.


"Kenapa sayang?" tanya mereka berdua secara bersamaan.


"Sakit Ma," keluh Nayla sambil memegangi perutnya.


"Kita bawa ke rumah sakit aja, Nayla pasti mau melahirkan," usul Mama Adela dan di setujui oleh Mama Hania.


"Ma, telfon Mas Farhan dulu, kasih tahu dia," ucap Nayla dalam rintihannya.


Hania segera mengambil ponselnya, lalu menghubungi menantunya memberi tahu jika Nyala akan melahirkan. Setelah menelfon Farhan Hania pun membawa perlengkapan untuk melahirkan yang memang sudah di persiapkan sebelumnya.

__ADS_1


"Langsung ke rumah sakit tempat Nayla biasa periksa, Mama sudah menyuruh Farhan untuk ke sana langsung," ucap Mama Hania, dia membawa satu tas keperluan melahirkan, sedangkan Mama Adela memapah Nayla menuju mobil.


"Mang, cepetan ya, ke rumah sakit Kasih Bunda, cari jalan yang tidak macet," titah Mama Adela pada supirnya itu.


Tak butuh waktu lama, mereka sampai di rumah sakit tersebut. Dua wanita itu memapah Nayla masuk ke dalam rumah sakit, dengan Nayla yang masih merintih.


"Suster, tolong anak saya mau melahirkan!" seru Mama Adela saat melihat seorang perawat melintas di sekitar mereka. Dengan segera suster tersebut mengambil kursi roda, lalu mendorong kursi roda tersebut ke ruang IGD.


"Di mana Nayla Ma?" tanya Farhan dengan ngos-ngosan karena ia berlari dari parkiran menuju IGD.


"Di dalam sedang di periksa oleh Dokter," jawab Mama Hania.


Tak lama dokter pun keluar dari ruang IGD, "Suami Ibu Nayla?" tanya sang dokter dan langsung tersenyum saat melihat Farhan, karena dia mengenal Farhan. "Silahkan masuk Pak Farhan," Dokter itu pun menyuruh Farhan untuk masuk ke ruang IGD.


"Istri anda baru pembukaan lima Pak, jadi masih lama lagi, ketubannya juga belum pecah, jadi masih aman. Coba di bawa untuk jalan-jalan dulu, satu jam kemudian masuk ke sini lagi kita periksa sudah pembukaan berapa," tutur dokter tersebut. Dokter memberi saran tersebut karena kondisi Nayla dalam keadaan baik, bahkan tensi darahnya juga normal, semuanya normal tidak ada yang perlu di khawatirkan dan bisa melahirkan dengan proses normal tanpa operasi.


"Masih kuat buat jalan-jalan kan Bu?" tanya Dokter itu pada Nayla


"Masih Dok, sakitnya juga masih bisa saya tahan," jawab Nayla.


Dokter itu pun mengangguk, lalu membantu Nayla untuk turun dari brangkar.


Farhan pun menuntun Nayla untuk keluar dari ruangan IGD.


***


"Capek Mas, kita istirahat bentar ya," keluh Nayla, ia duduk di kursi taman.


"Iya sayang," ikut duduk di sisi Nayla, "apa sakitnya bertambah?" tanyanya.


Nayla mengangguk sambil menahan rasa sakit yang berasal dari perutnya, menggigit bibir bawah tanpa di sadari.


Melihat istrinya seperti itu, Farhan sebenarnya panik, tapi ia mencoba untuk tenang, mengelus perut buncit sang istri dengan lembut, sambil berbicara mulutnya komat-kamit, entah membaca apa.


"Mas aku kok kaya ngompol ya, basah. Tapi enggak kerasa kapan pipisnya, tiba-tiba basah aja," Nayla mengusap-usap bagian belakang yang sudah basah.


Farhan ikut mengelap kebasahan di bagian belakang gamis Nayla, tanpa merasa jijik ia mencium bau air yang membasahi gamis sang istri.


"Ini sepertinya bukan pipis, apa mungkin ketubannya udah pecah?" tanyanya.


Nayla ikut mencium bau air itu, "Iya Mas, bisa jadi," ucapnya.


"Ayo kita kembali ke ruang bersalin aja, ini juga sudah sejam lebih kita berkeliling," Farhan memapah sang istri untuk ke ruang bersalin, karena dokter tadi mengatakan setelah jalan-jalan yang bertujuan untuk menambah pembukaan tersebut, mereka di suruh masuk ruang bersalin bukan ke IGD lagi.


Dengan telaten Farhan menuntun Nayla. Wanita itu berjalan sambil memegangi perutnya yang seperti di aduk-aduk. Kontraksi yang ia rasakan ritmenya menjadi lebih sering.


Setelah sampai di ruang bersalin, dokter segera memeriksa Nayla, "Sudah pembukaan sembilan Sus, mari kita persiapkan semuanya," ucap dokter tersebut, "Bapak tetap di sini temani istri anda, karena sebentar lagi dia akan melahirkan," tambahnya.


Farhan mengangguk, ia menggenggam tangan sang istri dan sesekali mengecupnya. Pilu sekali melihat Nayla yang meringis kesakitan, wanita itu tidak mengatakan apa-apa saat merasakan kontraksi, hanya ringisan saja yang nampak dari bibirnya. Sepertinya Nayla bisa menahan rasa sakit itu tanpa membuat orang lain khawatir.

__ADS_1


"Jangan mengejan dulu ya Buk, karena pembukaan belum sempurna, rileks tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan," dokter memberi wejangan, karena saat kontraksi Nayla seperti akan mengejan.


"Terus, tarik nafas lagi lalu keluarkan, rileks jangan memikirkan sesuatu yang membuat ibu takut," tutur sang dokter.


Setelah sepuluh menit berbaring dokter memeriksa kembali, "Siap Sus, pembukaan sudah lengkap," ucap sang dokter.


"Buk, rileks ya, jangan gigit bibir bawah!" ucap sang dokter, karena melihat Nayla yang sejak tadi menggigit bibir bawahnya. "Sekarang kita mulai, ibu ikuti aba-aba dari saya ya," tambahnya.


Nayla mengangguk, ia sudah tidak kuasa menahan rasa sakit di perutnya yang makin bertambah.


Tanpa terasa air mata Farhan lolos begitu saja, ia tidak tega melihat kondisi sang istri, bahkan selama hidup bersama ia tidak pernah melihat Nayla sekacau ini. Saat dia kecelakaan dulu, Nayla tidak terlihat sekacau ini.


Dokter memberikan aba-aba supaya Nayla mengejan saat kontraksi kembali hadir, Nayla pun mengikuti ucapan dokter tersebut.


"Jangan angkat pant*tnya Buk!" seru sang suster saat melihat Nayla mengangkat pant*tnya.


Nayla menurut, ia terus mengikuti instruksi dari dokter.


"Akhh...hah hah hah," Nayla seperti kehabisa nafas, ia mencengkram kuat-kuat bahu sang suami. Bahkan terdapat luka di sana karena saking kuatnya cengkraman Nayla, tapi Farhan tidak merasakan sakit sedikit pun, apalagi melihat sang istri yang sedang bertaruh nyawa demi buah hatinya.


"Sebentar lagi Buk, kepala bayi sudah terlihat," ucap sang dokter.


Nayla kembali mengejan sesuai arahan dokter tersebut. Tak berapa lama suasana ruangan itu, di penuhi oleh tangisan bayi yang baru saja lahir dari rahim Nayla.


oek oek oek.


Rasa haru menyelimuti sepasang suami istri tersebut, air mata bahagia terus menetes tanpa ampun.


"Selamat bayinya perempuan ya Pak, Buk," suster memperlihatkan bayi yang masih di lumuri banyak darah itu ke hadapan Nayla dan Farhan.


"Alhamdulillah," ucap syukur mereka secara bersamaan.


Rasa sakit yang mendalam kini berganti rasa bahagia dan haru yang tiadatara. Setahun lebih menunggu kehadiran buah hati dalam rumah tangga mereka, akhirnya buah hati itu kini dalam pelukan keduanya. Bersyukur atas kehendak Yang Kuasa dengan nikmat yang di berikan pada mereka


***


Senyum di bibir pasangan suami istri itu tak pudar sejak mereka mendapatkan kebahagiaan dengan lahirnya seorang bayi perempuan. Bahkan rasa sakit saat melahirkan sudah terlupakan oleh Nayla berganti dengan kebahagiaan.


"Wah, cantik sekali cucu ku," ucap Papa Bayu yang baru saja hadir di antara mereka, beliau telat hadir karena baru saja kembali dari luar kota. Mencium pipi bayi itu dengan sayang.


Saat ini keluarga besar mereka berada dalam satu ruang perawatan, karena Nayla sudah di pindahkan. Di sana terlihat Papa dan Mama mereka lengkap, sedangkan para saudara belum ada yang hadir karena masih dalam kesibukan mereka masing-masing.


"Mau kalian beri nama siapa bayi cantik ini?" tanya Papa Bayu tanpa menatap anak dan menantunya, karena masih mengangumi bayi cantik yang ada dalam gendongannya.


"Ayesha Sakhiya Farhan, bagus apa enggak Pa?" tanya Farhan pada sang Papa.


"Bagus," jawab mereka yang ada di sana.


Farhan berencana akan mengadakan syukuran sekaligus aqiqoh untuk putri pertamanya, nanti saat putrinya itu berumur tujuh hari.

__ADS_1


Kebahagiaan keluarga itu lengkap, dengan hadirnya malaikat kecil di tengah-tengah mereka. Akhirnya perjuangan cinta sepasang suami istri itu berakhir bahagia, setelah berbagai rintangan yang tidak mudah mereka lewati telah berlalu, kini kebahagiaan lah yang menggantikannya.


\*\*SELESAI\*\*


__ADS_2