Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Good Job


__ADS_3

Setelah berbincang-bincang dengan sang Mama, Irfan berinisiatif menemui Nayla, ia akan membujuk adik yang baru saja ia ketahui itu, supaya mau menemui dan memaafkan sang Mama. Meskipun ia tidak yakin, karena kesalahan sang Mama yang hampir saja merenggut nyawanya.


Melangkah perlahan menuju ruang rawat Nayla, saat akan membuka pintu, lebih dulu pintu di buka oleh seseorang dari dalam.


"Bang, boleh bicara sama Nayla?" tanya Irfan pada Farhan yang baru saja keluar dari ruang rawat Nayla yang akan ke kantin untuk membeli makanan.


"Biarkan dia menenangkan diri dulu untuk saat ini, gue tau maksud lo nemuin dia, pasti bahas tante Dela kan? Soal itu biar gue yang bicara perlahan sama dia, gue yang akan bujuk dia nanti," Farhan tahu betul jika Nayla di paksa untuk saat ini, istrinya itu justru akan stres memikirkan masalah ini, apalagi kondisinya yang masih belum membaik.


Irfan menghela nafas, ia masih saja sulit menemui Nayla bahkan saat semua orang tahu bahwa Nayla adiknya. Sebenarnya Irfan ingin marah, tapi ia berfikir benar juga apa yang di katakan oleh Farhan.


"Oke, gue enggak akan bahas Mama, gue mau nemuin dia sebagai Kakak, gue janji enggak akan bahas Mama," Irfan tetap bersikeras menemui Nayla.


Farhan berfikir sejenak, ia menetralkan pikiran negatifnya, tidak mungkin Irfan akan menyakiti Nayla karena itu sama saja menyakiti Mamanya sendiri.


"Oke, tapi jangan paksa dia dulu. Di dalam ada Mama, silahkan langsung masuk aja," akhirnya Farhan mengijinkan Irfan bertemu dengan Nayla. Setelah mengatakan itu, Farhan pun melanjutkan langkahnya menuju kantin.


Sedangkan Irfan, dengan perlahan ia membuka pintu kamar rawat Nayla, lalu melangkah lebih dulu menemui Mama Sinta yang kebetulan sedang menjaga Nayla.


"Tan, boleh aku bicara sama Nayla," ucap Irfan setelah menyalami Mama Sinta.


Mama Sinta menatap Nayla sebantar, lalu ia kembali menatap Irfan, "Boleh, silahkan bicara. Tante tunggu di luar," Mama Sinta sebenarnya tahu jika menantunya itu belum mau berbicara dengan Irfan.


"Tapi Ma,"

__ADS_1


"Bicaralah, Kakakmu perlu bicara, Mama akan tunggu di luar ya," ucap Mama Sinta, ia mengelus pundak Nayla sebentar, lalu ia melangkah keluar dari ruangan tersebut.


Irfan duduk di kursi yang berada di dekat brangkar Nayla, ia menatap Nayla yang justru memalingkan wajah tak mau melihat dirinya. Beberapa detik berlalu, keduanya masih diam tidak ada yang ingin memulai pembicaraan.


Irfan yang merasa jika ia tidak bicara lebih dahulu, pasti sampai berjam-jam akan tetap membisu, akhirnya ia pun memilih memecahkan kesunyian di dalam ruangan tersebut.


Irfan meraih tangan Nayla, tapi wanita itu segera menepisnya. "Nay, gue minta maaf untuk semua hal di masa lalu. Saat ini gue datang sebagai Irfan yang berbeda dari waktu itu, gue datang sebagai Kakak karena kenyataanya memang seperti itu, meskipun sulit buat gue menerima semuanya," menjeda ucapannya sejenak.


"Nay, gue aja belajar buat nerima semua ini, menganggap lo sebagai adik gue, kenapa lo seakan enggak mau belajar menerima semuanya Nay? Oke gue tahu lo marah sama Mama, tapi sama gue apa lo juga mau marah? Salah gue apa coba? Kita sama-sama terpisah dari orang tua kita Nay, di sini nasib kita sama. Meskipun lo belum mau memaafkan kesalahan Mama tapi cobalah kita berdamai sekarang, gue sama lo. Kita jalin persaudaraan seperti saudara-saudara yang lainnya. Gue akan jadi Kakak yang baik buat lo, dan sebaliknya gue harap lo juga jadi adik yang baik buat gue,"


Irfan kembali meraih tangan Nayla, kali ini wanita itu tidak menepisnya, tapi ia masih enggan untuk menatap Irfan, "Emang gue sempet berfikir buat merusak rumah tangga kalian, tapi itu dulu Nay sebelum mengetahui semua ini. Dan setelah gue tahu kalo lo adek gue, fikiran jahat itu udah gue buang jauh-jauh, sekarang rasa sayang gue ke lo sudah berubah, gue sayang sama lo seperti gue sayang sama Ayna adik gue, percayalah Nay," tutur Irfan, memang berat ia mengatakan hal itu, tetapi ia sudah berusaha menganggap Nayla sebagai adik. Karena kenyataanya memang seperti itu.


Ayna adalah adik Irfan yang lahir setelah pernikahan Mamanya dengan Aditya.


Nayla itu bukan seseorang yang mudah percaya dan menceritakan kehidupannya pada orang lain, tapi pada Irfan ia dengan mudah menceritakan semua keluh kesahnya dengan sang suami waktu itu. Entah kenapa ia merasa nyaman menceritakan itu, ternyata karena mereka terikat dalam satu hubungan kental yaitu saudara. Tanpa mereka sadari sebenarnya mereka memiliki telepati yang kuat sebagai saudara.


Irfan pun membalas pelukan adiknya, terdengar Nayla semakin terisak dalam pelukannya.


"Sudah, enggak usah nangis," ucap Irfan mengelus punggung Nayla.


"Maafin gue Fan, gue cuma terkejut mengetahui kenyataan ini, gue sebenarnya seneng kalau lo ternyata abang gue, karena gue enggak akan di hantui dengan teroran lo lagi," ucap Nayla, ia terkekeh dengan ucapan terahirnya.


"Kok lo nangis tapi ketawa sih?" tanya Irfan penasaran.

__ADS_1


Nayla melepas pelukannya, "Gue nangis bahagia," jawabnya, "Apalagi lo udah nerima gue sebagai adik," tambahnya sambil tersenyum.


"Beneran lo nerima gue sebagai Kakak?" tanya Irfan memastikan, ia belun percaya secepat itu Nayla menerima dirinya sebagai Kakak.


Nayla mengangguk masih terlihat senyum di wajahnya, "Iya, asal lo tahu ya sejak dulu gue anggep lo emang sebagai Kakak, tapi yang buat gue kecewa lo mengartikannya berbeda. Tapi sekarang gue seneng, karena lo ternyata beneran Kakak gue," jelas Nayla.


Irfan mendengus, "Mungkin dulu gue emang salah mengartikan rasa sayang gue Nay, bahkan setelah mengetahui ini gue enggak merasa sakit hati tapi justru lebih tenang," ucapnya.


Nayla mengangguk senyumnya yang tadi bersinar kini berubah mendung, "Soal Mama Dela ...." Nayla menggantung ucapannya.


"Udah, kalo lo belum bisa memaafkan Mama, gue maklumin karena kesalahan Mama sangat fatal, tapi gue harap lo mau memaafkan Mama. Seperti apapun Mama, dia yang sudah mengandung dan melahirkan kita Nay," tutur Irfan, ia tahu jika Nayla masih berat memaafkan Mama Adela yang hampir membunuh dirinya.


"Gue udah coba maafin Mama, tapi untuk bertemu dengannya gue belum siap Fan," ucap Nayla. Ia sudah banyak mendapat nasehat dari suami dan Mama mertuanya, makanya ia berusaha untuk memaafkan kesalahan Mama Adela.


"Udah enggak apa-apa, gue ngerti. Soal Papa gue juga masih kecewa, kenapa Papa enggak pernah cari gue sama Mama, bahkan Papa seperti ngelupain gue," Irfan kembali sendu saat mengingat Papa Aditama.


Nayla mengelus pundak Irfan, "Mungkin sebenarnya Papa cariin kalian, tapi enggak pernah mendapatkan hasilnya, coba aja nanti tanya sama Papa langsung, jangan berfikiran buruk dulu, bukannya gue belain Papa tapi lebih baik kita tanya alasan Papa dulu," tutur Nayla.


Irfan mengangguk, "Lo bener, kapan-kapan gue akan temuin Papa," ucapnya.


"Good job, itu baru abang gue," ucap Nayla sambil tersenyum.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2