Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Menerima Takdir


__ADS_3

Setelah mata kuliah keduanya selesai, mereka pun bergegas ke luar kelas menuju parkiran, karena orang yang ingin bertemu dengan Nayla sudah beberapa kali mengirim pesan pada Nayla supaya sedikit lebih cepat, katanya orang itu tidak punya banyak waktu.


"Untung, gue tadi sempet anterin adek ke sekolah dulu, jadi bawa due helm deh," ucap Rara lalu mengambil helm yang berada dalam jok motornya dan di berikan pada Nayla.


Nayla menerima helm tersebut lalu memakainya. Ia langsung menaiki motor Rara setelah sang empunya lebih dahulu naik.


Rara melajukan motornya dengan kecepatan rata-rata, rambut panjang keduanya terlihat berterbangan meskipun mereka sudah memakai helm. Tak butuh waktu lama mereka pun sampai di sebuah kafe yang sudah di janjikan. Rara memarkirkan motor metic kesayangannya, lalu keduanya turun dan berjalan masuk ke dalam kafe.


"Yang mana sih orangnya?" tanya Nayla entah pada siapa, setelah mengedarkan pandangan dan tidak menemukan seseorang yang ia cari, semuanya yang ada di dalam kafe tidak ada yang duduk sendiri.


"Yaudah tunggu aja, gue tunggu di meja ini, lo meja sebelah, biar deket," saran Rara. Nayla pun mengikuti saran dari Rara.


Sudah sepuluh menit Nayla menunggu, tapi orang itu tak kunjung datang, rasanya ia ingin meninggalkan kafe itu saja, ia pikir orang itu hanya mengerjai dirinya. Ia menoleh ke arah belakang di mana ada Rara yang duduk di sana, tapi tunggu Rara tidak sendiri melainkan dengan seseorang yang sangat ia hafal.


Nayla beranjak dari duduknya, lalu menghampiri mereka, "Lo ajak Bang Irfan?" tanya Nayla saat mendapati Irfan di sana.


Rara tersenyum canggung, "Iya maaf, gue takut orang yang mau ketemu sama lo itu membahayakan, kalo ada Irfan kan gue sedikit lebih tenang," ucap Rara.


"Yaudah deh terserah, Bang jangan ngelakuin yang aneh-aneh kalo orang itu beneran tidak berniat jahat," Nayla memperingati Irfan.


Irfan mengangguk, "Iya, tenang aja, yaudah sana kembali nanti orangnya datang," Irfan menyetujui ucapan Nayla.


Nayla pun duduk di tempat yang tadi, menunggu seseorang itu. Tak lama terlihat seorang wanita yang amat ia kenali berjalan ke arahnya, di belakang wanita itu ada dua orang berpakaian hitam, yang satu laki-laki dan satunya perempuan. Tapi dua orang itu duduk di tempat yang berbeda, dan wanita itu terus melangkah dan duduk di hadapan Nayla.


Nayla terkejut saat mengetahui siapa yang datang, pantas saja orang itu menyuruh Nayla untuk datang sendiri, ia berfikir jika orang tersebut akan melakukan sesuatu lagi atau bahkan ingin merebut suaminya.

__ADS_1


Irfan dan Rara pun sama terkejutnya, bahkan Irfan sudah menggeser kursi yang ia duduki akan beranjak dari sana dan menemui wanita itu, akan tetapi Rara mencekal tangannya sambil menggelengkan kepala, membuat pemuda itu mengurungkan niatnya.


"Hai apa kabar? Kita bertemu lagi ya," sapa wanita tersebut sambil tersenyum, "Kamu menepati janji juga ternyata," tambahnya.


"Apa mau kamu? Udah enggak usah basa-basi," ucap Nayla tegas.


"Aku pesen minum dulu ya, jangan terburu-buru, oke," wanita itu pun memanggil pelayan dan memesan minuman, karena Nayla sudah lebih dahulu memesannya tadi.


"Ayo katakan, apa yang mau kamu bicarakan," ucap Nayla dengan tegas, setelah pelayan itu pergi.


"Oke, oke, santai dong. Aku beneran enggak akan berniat jahat, aku juga tidak bisa berkutik sekarang, lihat kan dua orang di belakang sana, mereka mengawasiku, kenapa aku melarang kamu mengajak Farhan? Ya karena dua orang itu," jelas orang tersebut.


"Terus apa yang mau kamu omongin sama aku? Jangan basa-basi deh, ngomong aja," Nayla sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang akan wanita itu katakan.


Wanita itu menghela nafas dalam, ia lebih dulu tersenyum dengan pelayan yang baru saja mengantar minuman untuknya, "Tenang aja, aku enggak akan merebut Farhan, aku sudah menikah meskipun aku tidak mencintai suamiku untuk saat ini, tapi mau tidak mau aku harus mengikuti semua perkataannya, jika tidak akan berbahaya buat keluargaku," wanita itu justru mencurahkan isi hantinya.


"Oke, aku akan katakan tapi duduk dulu," wanita itu yang tak lain adalah Sherena mencegah Nayla yang akan meninggalkannya.


"Cepat katakan!" ucap Nayla dengan nada memerintah.


"Kamu harus hati-hati dengan orang yang berada di dekat suamimu, karena aku juga masuk dalam perangkapnya, orang itu bekerja sama dengan Samuel yang kini jadi suamiku, untuk menjebak aku supaya tidur dengan Samuel waktu itu. Tapi aku tidak yakin siapa orangnya, aku bahkan sudah bertanya pada Samuel tapi dia tidak mau memberitahuku," Sherena memberitahu Nayla supaya berhati-hati.


"Oh, jadi yang waktu itu mukul Mas Farhan calon suaminya Sherena, mungkin dia mengira Mas Farhan menyembunyikan wanitanya kali ya," ucap Nayla dalam hati.


"Dan soal Samuel yang pernah memukul Farhan karena ia mengira Farhan menyembunyikanku, aku minta maaf atas nama dia, aku juga minta maaf sudah berniat merebut Farhan dari kamu, sekarang aku akan menerima jalan hidupku yang seperti ini demi kebaikan bersama, aku akan bahagia jika orang yang aku cintai dan sayangi bahagia," ucap Sherena panjang lebar.

__ADS_1


"Iya, aku sudah memaafkanmu dan cobalah untuk mencintai suamimu, karena aku yakin dia sangat mencintaimu," tutur Nayla dengan suara lembut.


"Iya aku akan mencobanya," timpal Sherena.


"Tapi kenapa kamu di kawal ketat seperti itu?" tanya Nayla penasaran, ia sedikit iba dengan Sherena.


"Kamu mau mendengarkan ceritaku?" tanya Sherena memastikan.


Nayla menanggapinya hanya dengan anggukan, ia tahu wanita di hadapannya ini menyimpan banyak luka, terlihat dari matanya yang sayu.


"Waktu aku datang ke kantor Farhan dulu itu sebenarnya aku kabur. Aku bisa lolos dari penjagaan anak buah Samuel, setelah lolos aku pun bergegas ke bandara untuk kembali ke Indonesia. Tentu saja Samuel mencariku, yang pertama ia datangi adalah kantor Farhan, setelah dia tidak mendapati aku di sana, dia langsung ke rumah, dan menemukan aku di sana. Dia mengancam akan menghancurkan keluargaku bahkan akan membunuh ayah dan ibuku jika aku tidak menurutinya, akhirnya dengan terpaksa aku menurut dan sebulan kemudian kami menikah di Australia, dan baru kali ini aku kembali ke sini dengan berbagai alasan, akhirnya Samuel mengijinkan asalkan aku di kawal dengan pengawasan ketat, karena dia takut aku kabur lagi," menjeda ceritanya sejenak.


"Karena itu, aku memutuskan untuk menerima takdir ini, aku juga berniat memberti tahu kamu suapaya waspada, karena banyak yang menginginkan suamimu, entah itu sebagai pasangan atau bahkan mungkin sebagai persaingan bisnis dan ingin mengahancurkan karirnya, aku juga tidak tahu," tambahnya.


Nayla mencerna semua perkataan Sherena, ia jadi merasa kasihan dengan wanita itu. Ia bahkan melihat ketulusan di netra hitam Sherena.


"Terimakasih sudah memberitahu, aku akan hati-hati," timpal Nayla sambil tersenyum, "Dan semoga kamu bahagia dengan suamimu, mungkin Samuel adalah jodohmu dan Mas Farhan adalah jodohku, jadi kita sama-sama menerima takdir ini," tambahnya.


Sherena membalas senyuman Nayla, lalu ia mengangguk, "Terimakasih sudah mau mendengarkan keluh kesahku. Kamu memang pantas mendapatkan Farhan, kamu baik seperti dia," ucapnya.


"Yaudah, aku permisi kalau emang sudah tidak ada yang ingin di bicarakan lagi," Nayla lebih dahulu berpamitan, ia meninggalkan Sherena yang masih duduk di sana sambil menikmati minuman yang ia pesan tadi.


Rara dan Irfan pun mengikuti Nayla keluar dari kafe tersebut.


Bersambung....

__ADS_1


Yang udab suudzon sama Sherena, ayo minta maaf sama dia😁. Canda✌


__ADS_2