Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Delapan Belas Jam


__ADS_3

Sore hari akhirnya mereka memutuskan untuk ke luar dari hotel, melangkahkan kaki mereka ke luar kamar hotel menuju menara Eiffel yang letaknya tidak jauh dari sana, ternyata banyak orang yang melakukan hal sama seperti mereka berdua, ada juga yang menaiki sepeda. Berjalan dengan tangan saling bertautan, menikmati sore hari di negara orang.


"Mas kita sewa sepeda aja gimana? Itu sepertinya tempat penyewaan sepeda, biar enggak terlalu capek," usul Nayla saat mereka melewati tempat penyewaan sepeda.


"Boleh, ayo,"


Mereka segera mendekat ke tempat penyewaan sepeda.


Farhan terlihat berbincang-bincang dengan pemilik tempat sewa itu dengan menggunakan bahasa asing, entah apa yang mereka bicarakan Nayla tidak begitu menyimak, ia justru melihat-lihat sepeda mana yang ingin ia sewa.


"Mas kita sewa ini aja ya," Nayla menunjuk salah satu sepeda yang bisa di naiki dua orang. (Seperti sepeda si botak Upin Ipin).


"Enggak mau yang sendiri-sendiri aja?" tanya Farhan.


"Ini aja deh, keliatannya lebih seru,"


Akhirnya mereka pun memilih sepeda yang di inginkan Nayla tadi. Setelah membayar sewa mereka pun menaiki sepeda tersebut menuju menara Eiffel. Berkeliling di sekitar menara yang terlihat ramai pengunjung, sepertinya banyak pelancong yang singgah di sana, karena yang terlihat seperti ada orang dari timur tengah, orang Asia juga ada termasuk mereka berdua.


Setelah lama berkeliling, akhirnya mereka pun beristirahat. Duduk di sebuah kursi taman yang terletak di sekitar area menara.


Bukannya istirahat, Nayla justru selfi-selfie ria, "Mas sini, fotoin aku dong!" seru Nayla karena jaraknya dengan sang suami sedikit jauh.


Farhan beranjak dari duduknya, lalu ia melangkah mendekati sang istri, "Oke, Mas fotoin ya, satu, dua, tiga," ucapnya.


Ckrek


Ckrek


Ckrek


Mereka mengambil gambar banyak sekali, ada yang sendiri-sendiri dan tak sedikit pula yang berdua. Saat foto berdua mereka meminta salah satu turis untuk memfotokan.


"Ayo kita kembali ke hotel dulu sayang, ini sudah waktunya sholat maghrib, setelah sholat kita cari makan malam," ucap Farhan saat menyadari jika senja telah berganti malam dan lampu di sekitar menara juga sudah menyala menerangi kawasan itu.


Mereka pun kembali ke hotel, sebelum ke hotel mereka lebih dahulu menuju tempat penyewaan sepeda tadi.


"Jalan malam berdua gini terlihat romantis ya Mas, kapan-kapan bisa kita coba jalan-jalan malam keliling komplek," celetuk Nayla, keduanya kini sedang berjalan menuju hotel setelah mengembalikan sepeda. Dengan Farhan yang merangkul pundak sang istri, dan salah satu tangan Nayla memeluk tubuh sang suami.


"Bener juga apa yang kamu katakan, Mas baru menyadarinya. Boleh deh, kapan-kapan Mas ajak kamu ke warung nasgor yang ada di komplek kita," timpal Farhan, ia menyetujui ide Nayla.

__ADS_1


Saat berjalan mereka terus bercerita hingga memasuku kamar hotel.


¤¤¤


"Mas, kita cari makanan Indonesia aja ya," pinta Nayla saat ini mereka sedang berjalan menuju loby hotel. Mereka akan makan malam di luar, setelah tadi membersihkan diri dan melaksanakan sholat maghrib.


"Oke, nanti kita naik taksi aja, minta di antar ke restoran ala Indonesia," Farhan menyetujui usul sang istri.


Keduanya pun berjalan sampai depan hotel, pas sekali ada sebuah taksi yang lewat, menyetop taksi tersebut lalu mereka menaiki taksi, meminta sopir taksi supaya mengantar ke restoran ala Indonesia.


Dua puluh menit berlalu, keduanya pun sampai di restoran tersebut, membayar taksi lalu mereka masuk ke dalam restoran.


Penjaga restoran sepertinya paham dengan mereka, jika keduanya berasal dari Indonesia, mereka menyapa dengan bahasa Indonesia, tersenyum ramah seakan menemukan saudara di negara orang.


"Harganya luar biasa, bahkan ada yang lima kali lipat dari harga asli di negara kita," celetuk Nayla saat melihat beberapa menu yang tertulis di buku menu.


"Ya, karena di kota ini cuma ada satu restoran ala Indonesia, seperti yang di katakan oleh sopir taksi tadi," timpal Farhan.


"Bener juga sih,"


Mereka pun memesan apa yang ingin mereka makan. Tak lama makanan sudah di sajikan oleh pelayan restoran itu, yang sepertinya juga orang Indonesia.


"Mas kan ikutin maunya kamu," timpal Farhan, Nayla hanya tersenyum menaggapi.


Mereka pun menikmati makan malam ala Indonesia di negara Prancis dan sudah di pastikan, jika memebeli di Indonesia, makanan itu bisa untuk satu keluarga besar mereka.


Setelah menyelesaikan makan malam, mereka pun keluar dari restoran tersebut. Menunggu taksi di depan restoran, setelah mendapatkan taksi mereka pun menaiki taksi tersebut menuju hotel.


¤¤¤¤


Seminggu berlalu, artinya bulan madu plus libutan mereka telah berakhir. Mereka selama seminggu mendatangi berbagai wisata di Paris. Belanja banyak oleh-oleh untuk semua orang yang ada di rumah, tentu saja menguras kartu kredit milik Farhan.


Kadang mereka juga menghabiskan waktu seharian di dalam kamar hotel, mungkin karena mereka sudah lelah berjalan-jalan mengelilingi kota Paris.


Hari ini penerbangan mereka ke Indonesia, Nayla sebenarnya malas untuk pulang, bukan karena masih betah di negara orang ini, tetapi ia enggan untuk naik pesawat yang membutuhkan waktu berjam-jam.


"Rasanya kalo inget gini, aku enggak mau kembali ke sini lagi Mas, tapi kalau inget pas lagi senengnya, rasanya pengen kembali ke sini lagi," celetuk Nayla, mereka kini berada dalam pesawat.


"Yaudah kamu tidur aja, biar enggak pusing," Farhan menarik tubuh sang istri supaya bersandar di dadanya.

__ADS_1


"Tenang aja sayang, nanti kalau Papa sama Papa Aditya jadi beli jet pribadi, kita tidak akan susah-susa seperti ini, bisa tidur di kamar," cletuk Farhan. Papa Bayu dan Papa Aditya memang sudah berencana akan membeli jet pribadi, supaya memudahkan jika perjalanan bisnis ke luar negeri mereka tidak naik pesawat umum.


"Kenapa enggak beli sendiri-sendiri aja Mas?" tanya Nayla, ia masih bersandar di dada sang suami.


"Pengennya sih gitu, tapi Papa yang enggak mau, entah alasannya apa," jawab Farhan.


"Udah, tidur aja, Mas juga mau tidur, perjalanan kita masih panjang," tambah Farhan, ia mengelus rambut panjang sang istri sambil sesekali mengecup puncak kepala Nayla. Tak butuh waktu lama Nayla pun tertidur, dan Farhan memutuskan untuk menyusul istrinya ke alam mimpi.


Delapan belas jam sudah terlewat, mereka pun sampai di bandara. Pesawat baru saja landing beberapa menit yang lalu.


"Sayang, bangun kita sudah sampai," Farhan mengusap-usap bahu Nayla, supaya istrinya itu terbangun dari tidurnya yang entah sejak berapa jam yang lalu.


"Mas, pusing banget," rengeknya setelah membuka mata.


Akhirnya mereka menunggu semua penumpang turun terlebih dahulu, setelah semuanya turun mereka pun menyusul untuk turun dari pesawat, dengan Farhan yang menuntun Nayla.


Istrinya itu terlihat pucat, dan lemas. Berjalan pun dengan perlahan-lahan.


"Mas gendong aja ya sayang," ucap Farhan, merasa kasihan dengam istrinya.


Nayla menggeleng, "Enggak usah Mas, Mas juga capek, aku masih kuat jalan kok," tolak Nayla.


Akhirnya Farhan pun menuruti ucapan Nayla, ia mendudukkan istrinya di tempat duduk yang tersedia di sana, lalu memberi Nayla sebotol air mineral. Setelah di rasa Nayla telah membaik Farhan pun mengambil semua barang-barang yang mereka bawa.


Setelah semua barang berhasil di ambil, Farhan pun menghubungi Dika supaya masuk ke dalam bandara untuk mengambil semua barang-barang mereka, karena Farhan akan mengusur sang istri yang terlihat lemah.


Farhan sudah menghubungi Dika sebelum mereka menaiki pesawat, dan ia meminta Dika supaya menjemput mereka tepat waktu karena ia sudah menebak jika Nayla pasti akan mambuk perjalanan, apalagi selama di pesawat istrinya itu tidak mau makan apapun hanya minum saja yang Nayla mau, bisa di bayangkan seperti apa kondisinya.


"Tidur aja di sini sayang, nanti kalau sampai rumah Mas akan bangunin kamu." Farhan menepuk-nepuk pahanya, supaya sang istri meletakkan kepalanya di sana.


Nayla pun menurut, ia merebahkan diri dan berbantalan paha sang suami, tangannya memeluk erat perut Farhan.


Keduanya kini sudah berada di dalam mobil, dengan Dika yang mengemudikan mobil tersebut.


Farhan merasa kasihan melihat sang istri yang tidak berdaya, selama perjalanan tangannya tak lelah megelus rambut panjanh sang istri yang tergerai indah.


Tak lama mereka pun sampai di rumah, merasa tidak tega untuk membangunkan Nayla, Farhan pun mengangkat tubuh sang istri dari dalam mobil ke kamar mereka. Merebahkan tubuh Nayla secara perlahan di pertengahan ranjang, lalu ia pun mendaratkan bibirnya di kening sang istri, sebelum ia kembali ke bawah menemui Dika.


Bersambung.....

__ADS_1


Sudah pada enggak sabar pengen Nayla hamil, nanti ya, dia pasti akan hamil tapi nanti ada saatnya. Aku sudah mengatue cerita ini sedemikian rupa, meskipun kadang banyak yang ku ubah. Terimakasih untuk semua yang setia membaca cerita ku.


__ADS_2