Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Masukkan Aku Dalam Mimpimu


__ADS_3

"Assalamu'alaikum Mama," ucap salam Nayla, ia pulang ke rumah Mamanya.


"Wa'alaikumussalam, sayang, tumben inget ucap salam," jawab salam sang Mama.


Nayla menyengir, lalu ia meraih tangan Mamanya untuk di kecup.


"Suamimu mana? Kok sendirian?" tanya Hania, ia melihat ke arah luar.


"Mas Farhan ke luar kota Ma, aku boleh menginap di sini untuk beberapa hari kan, selama Mas Farhan di luar kota?" tanya Nayla, kenapa juga ia harus meminta ijin, padahal itu rumah yang telah ia tempati bersama keluarga selama kurang lebih empat tahun.


"Tentu saja, ini rumahmu juga," ucap Mama.


Keduanya masuk ke dalam rumah, Nayla memilih langsung ke kamar, karena rasa lelah yang menyerang di hari pertama ia ujian. Merebahkan diri di atas ranjang kesayangannya yang sudah beberapa hari tidak ia tempati. Karena saking lelahnya, Nayla pun langsung terlelap, mungkin hipnotis dari kasur dan bantal sangat manjur.


¤¤¤


Sore hari ia sudah membersihkan diri, dan sudah berganti pakaian santai. Ia melangkah ke dapur, di lihatnya sang Mama dan seorang art sedang sibuk di dapur, sepertinya mereka sedang membuat hidangan untuk makan malam.


"Aku bantu ya Ma," ucapnya ketika sudah berada di belakang sang Mama.


Mama menoleh ke arah putrinya itu, "Kamu sudah banyak perubahan setelah menikah, padahal dulu mana pernah mau ke dapur, kalau enggak di paksa," celetuk sang Mama, ia teringat putrinya itu sangat anti dengan dapur.


Nayla menyengir, menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal, "Aku mau belajar jadi istri yang baik Ma, mau belajar masak dan yang lainnya," ucapnya.


Mama menyentuh pundak putrinya, "Bagus, Mama mendukung usahamu sayang," tersenyum bangga, "Ayo kalau mau bantu masak," tambahnya, mengajak Nayla untuk memasak.


Mereka larut dalam acara masak-memasak, sampai hidangan yang mereka buat selesai.


¤¤¤


Setelah makan malam selesai, Nayla kembali ke kamar, ia harus belajar untuk ujian besok pagi. Baru beberapa menit ia membaca buku, ia kembali menutup buku tersebut, menyangga dagunya dengan kedua tangan. Wajahnya sedikit murung, entah apa yang ada dalam pikirannya.

__ADS_1


"Kenapa rasanya ada yang kurang ya, padahal sebelumnya aku merasa enjoy aja di kamar ini," gumamnya. Ia terlihat bosan, bahkan sepertinya enggan untuk melanjutkan belajarnya.


Tersenyum saat mendengar ponselnya berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Ia dengan segara mengambil ponsel itu dan membuka pesan tersebut, sudah bisa menebak siapa yang mengirim pesan, karena jarang sekali orang lain yang mengirim pesan, selain orang yang di tunggu-tunggu.


Senyumnya semakin merekah setelah membaca pesan dari sang suami yang jauh di luar kota, ia membalas pesan itu dengan senyuman yang tak memudar. Entah pesan apa yang di tulis oleh Farhan, hingga membuat gadis itu kembali bersemangat dan melanjutkan membaca buku.


Pukul 22.00 Nayla membereskan semua peralatan belajarnya, ia sudah mengantuk jika di teruskan membaca bisa-bisa ia tertidur di depan meja belajar, dan tentunya ia membaca pun sia-sia belaka.


Naik ke atas ranjang, merebahkan diri di sana. Melihat ponsel tapi tidak ada pesan, mau mengirim pesan terlebih dahulu takut jika mengganggu, tapi jika tidak ia pasti tidak bisa tidur. Karena Farhan tadi mengatakan akan menelfonnya setelah selesai pekerjaannya. Tapi hingga larut, sang suami belum juga menelfonnya.


"Udah jam segini kok belum telfon sih, apa Mas Farhan masih sibuk ya?" gumamnya, tentu saja tidak ada yang menjawab pertanyaannya, karena ia di dalam kamar hanya sendirian. Kan seram jika pertanyaannya tadi ada yang menjawab.


Nayla memutuskan untuk tidur saja, ia takut jika Farhan masih bekerja dan ia menganggunya.


Satu jam berlalu, ia belum bisa memejamkan mata, padahal tadi saat belajar matanya sudah sangat mengantuk.


"Kenapa sih, enggak bisa di ajak merem nih mata?" ia akhirnya memutuskan untuk duduk dan bersandar di kepala ranjang.


Meraih ponselnya melihat jam yang tertera di sana, "Ck, dah malem, katanya mau telfon, ternyata enggak jadi, masak iya bekerja sampai selarut ini? Kayaknya cuma gue yang merasakan gelisah kek gini, dia mah enggak, mungkin lupa sama istrinya," melempar ponsel ke samping tentu saja dengan pelan, sayang kalau sampai ponsel itu terjatuh.


Melipat kedua tangannya di dada, ia menoleh ke arah ponsel yang tadi di lempar lalu mengambilnya. "Kenapa semakin kesini justru semakin gelisah? Akkh bisa setres kalo gini terus, telfon aja, enggak peduli dia udah tidur apa belum," gumamnya, mungkin rindu yang mengalahkan egonya.


Di tempat lain, Farhan pun sama. Setelah selesai bekerja, ia melihat jam ternyata sudah sangat larut, sudah janji dengan sang istri jika akan menelfonnya, tapi jika telfon sekarang bisa jadi Nayla sudah tidur, tentunya akan mengganggu gadis itu istirahat. Mengingat saat dirinya di rumah, Nayla akan tidur lebih awal sebelum dia.


Ia pun memilih merebahkan diri, mencoba untuk memejamkan mata, tapi nyatanya tidak bisa. Pikirannya melayang jauh, memikirkan Nayla.


"Coba telfon aja lah, kalau belum di coba kan enggak bakalan tahu," gumamnya, lalu menghubungi Nayla.


"Kok sibuk? Telfon siapa dia malam-malam gini?" ucap Farhan bertanya-tanya, sambungan telfonnya terhubung namun ternyata Nayla sedang berada dalam panggilan lain.


Pun sama dengan Nayla ia mendengus saat sambungan telfon Farhan sedang sibuk. Ya pasti sedang sibuklah, mereka sama-sama telfon dalam waktu bersamaan, benar-benar sehati.

__ADS_1


Saat akan kembali merebahkan diri, ponselnya berbunyi, ternyata Farhan tidak menyerah begitu saja, tidak seperti Nayla.


Nayla menggeser tombol hijau, ternyata video call dari Farhan. Tersenyum manis saat terlihat wajah Farhan.


"Assalamu'alaikum, Nay," ucap salam Farhan.


"Wa'alaikumussalam Mas,"


"Kamu telfonan sama siapa tengah malem gini?" tanya Farhan, ia penasaran istrinya telfonan sama siapa tadi saat pertama ia menghubunginya.


Nayla mengernyitkan dahinya, bingung. Ia tidak telfon dengan siapa-siapa, justru Farhan yang sedang sibuk.


"Aku telfon Mas juga sedang sibuk, aduh berarti pada saat bersamaan kita menelfon masing-masing," Nayla terkekeh, ternyata mereka telfon secara bersamaan.


Farhan ikut terkekeh, "Pantes aja sibuk, aku sampai suudzon kamu tengah malem gini telfonan sama orang lain,"


"Kenapa baru telfon? Aku sudah nungguin dari tadi, mau tidur takut enggak denger pas ada telfon," gengsi jika harus mengakui ia tidak bisa tidur memikirkan Farhan. Sepertinya rindu.


"Maaf, tadi aku kira kamu udah tidur, jadi aku putusin buat tidur tapi enggak bisa, dan pas aku coba telfon malah sibuk, telfon kedua baru di angkat,"


Nayla tersenyum, ternyata Farhan juga memikirkannya, tadi berarti dia telah berburuk sangka.


"Aku belum tidur, nungguin telfon dari Mas Farhan,"


Mereka mengobrol panjang lebar, bercerita kegiatan hari ini, hingga tidak terasa mereka telfonan sudah lebih satu jam.


"Udah tengah malem, sekarang kamu tidur ya, besok kan harus kuliah pagi. Istirahatlah, aku juga mau istirahat, selamat malam istriku, selamat beristirahat, jangan lupa masukkan aku dalam mimpimu, assalamu'alaikum," Farhan memberikan kecupan jarak jauh, Nayla justru tersipu malu mendapatkan ciuman jarak jauh itu.


"Makasih Mas, selamat malam juga dan selamat istirahat, wa'alaikumussalam," jawab salam Nayla, ia mengahiri panggilannya, lalu merebahkan diri dan memejamkan mata untuk tidur tanpa suami untuk pertama kalinya.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2