Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Aku Butuh Penjelasan


__ADS_3

Pagi ini Nayla sengaja bolos kuliah, ia masih malas bertemu dengan Irfan. Pemuda itu pasti tidak akan menyerah begitu saja, terbukti Irfan juga beberapa kali mengirim pesan pada Nayla lewat akun sosmednya. Nayla tetap cuek mengabaikan pesan dari Irfan, ia bersikap seperti itu supaya Irfan sadar jika Nayla bukan wanita yang tepat untuk ia cintai, karena sudah bersuami.


"Bik, jalan-jalan yuk, ke pasar apa ke supermarket gitu, aku bosen di rumah," keluh Nayla, ia sudah menganggap artnya itu seperti Bibik sendiri.


"Kebetulan Non, persediaan dapur sudah menipis. Eh tunggu Non Nayla enggak kuliah?" tanya Bik Sumi, ia heran ini bukan hari libur tetapi kenapa Nayla tidak kuliah.


"Bolos Bik, lagi males ketemu seseorang. Enggak semangat juga, dari kemarin Mas Farhan hapenya mati enggak bisa di hubungi, aku kan khawatir Bik, mana Pak Dika enggak bales pesanku," Nayla menekuk wajahnya, pancaran matanya tampak sendu.


"Doakan aja, Bapak pasti baik-baik aja Non, mungkin lagi sibuk. Udah ya, ayo kalau mau belanja." Mengelus punggung Nayla.


"Iya Bik, makasih ya. Aku ambil tas dulu, Bibik siap-siap aku tunggu di depan ya," ucap Nayla, lalu ia melangkah naik ke kamar, mengambil tas beserta isinya.


"Pasar apa supermarket Bik?" tanya Nayla, kini keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Supermarket aja, nanti kalau di pasar kasian Non, pasar tempatnya kan becek, bauk lagi, kalau Bibik sih sudah biasa," jawab Bik Sumi.


"Aku juga biasa ke pasar Bik, anter Mama, ya meskipun suka ngeluh kalau di suruh anter ke pasar," Nayla terkekeh mengingat saat dirinya di omeli oleh Mamanya jika mengeluh.


"Bibik jadi penasaran sama Mamanya Non, belum pernah main ke rumah, kan?" mengingat-ingat, selama Nayla dan Farhan menikah kedua orang tua mereka belum sekali pun berkunjung ke rumah mereka.


"Papa sibuk urusin kerjaan yang di luar kota Bik, kadang Mama juga ikut, makanya belum sempet main, mungkin beberapa hari ke depan bisa main ke rumah. Mama mertua juga sibuk urusin cucunya, ya aku maklumin lah, sebisa mungkin kita yang muda berkunjung ke sana," jelas Nayla panjang lebar.


Nayla membelokkan mobilnya masuk ke area supemarket. Memarkirkan mobil, lalu ke duanya turun dari mobil dan masuk ke dalam supermarket.

__ADS_1


Mereka membeli semua kebutuhan sehari-hari. Banyak sekali yang mereka beli, terlihat troli yang di dorong oleh Bik Sumi hampir penuh dengan berbagai macam belanjaan.


Waktu berlalu, ke duanya kini sudah berjalan kembali ke rumah. Nayla mengernyitkan dahi saat melihat ada sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Ia tahu itu mobil siapa. Memilih untuk cuek dan tidak perduli, ia pun melajukan mobil memasuki gerbang ruamhnya.


Saat Nayla keluar dari mobil, ia mendengar pemilik mobil yang parkir di depan rumahnya berteriak.


"Nay, kasih gue kesempatan buat ngomong sama lo!" teriak orang itu yang tak lain adalah Irfan. Nekat sekali pemuda ini, hingga berani datang ke rumah Nayla.


Nayla sudah mewanti-wanti satpam untuk tidak menerima tamu siapapun yang tidak biasa datang.


Karena jengah mendengar teriakan Irfan berkali-kali, akhirnya Nayla mendekat dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan dan raut wajah penuh kekesalan. Nayla juga tidak enak dengan tetangga jika Irfan berteriak-teriak seperti itu.


"Lo enggak denger omongan gue kemaren? Lo boleh datang ke hadapan gue kalau udah move on!" ucap Nayla dengan menekan kata move on. Mengacukkan telunjuk di hadapan Irfan yang berada di luar gerbang. Setelah mengatakan itu Nayla kembali masuk ke dalam rumah.


Sedangkan Irfan, menatap nanar kepergian Nayla, lalu ia berbalik badan masuk ke dalam mobilnya meninggalkan rumah itu.


Merebahkah diri di atas ranjang, sepertinya itu menjadi hobi barunya, karena biasanya ia lebih memilih baca novel atau nonton drama saat moodnya lagi hancur seperti sekarang. Selama ini ia tidak pernah merasakan kecewa seperti saat ini, ia hanya kecewa pada sang Kakak tetapi karena itu terjadi sejak ia masih kecil, jadi Nayla menganggap itu bukan sebuah kekecewaan.


Krek


Nayla terkejut mendengar pintu kamarnya di buka oleh seseorang tanpa di ketuk. Ia sempat terlelap beberapa menit, karena saking lelahnya. Beranjak dari tidur dengan mata yang masih sayup-sayup, setelah mengetahui siapa yang datang, ia pun langsung membuka mata dengan lebar. Lalu turun dari ranjang, menghampiri orang tersebut yang sedang melepaskan jas yang menempel di tubuhnya.


Grep

__ADS_1


Nayla memeluk orang tersebut tanpa permisi. "Mas kenapa sih enggak pernah ngasih kabar ke aku? Lupa ya sama aku? Enggak kangen juga? Apa di sana banyak wanita cantik sampai melupakan aku?" bukannya menanyakan kabar, Nayla justru membrondong pertanyaan bertubi-tubi, tidak memberi celah pada Farhan untuk menjawab.


"Kamu kenapa si kok aneh gini?" Farhan justru balik bertanya, ia pura-pura cuek. Padahal dalam hatinya berbunga-bunga karena Nayla sudah tidak mendiamkannya.


Nayla tidak menjawab, ia melepaskan pelukannya, lalu duduk di sisi ranjang dengan wajah di tekuk dan bibir di manyunkan.


Farhan tersenyum melihat tingkah Nayla yang seperti anak TK minta di belikan balon. Ia pun mendekat, duduk di sisi Nayla dan memeluk gadis itu.


"Aku kangen sama kamu, aku enggak melupakan kamu, aku sengaja enggak menghubungi kamu, sengaja mematikan ponsel karena enggak berguna, pake hapenya Dika aja cukup. Sesekali pura-pura jadi orang lain supaya tahu apa yang kamu inginkan, bukan begitu?" jawab Farhan dari berbagai pertanyaan yang di lontarkan oleh Nayla tadi, di akhiri dengan pertanyaan juga.


Nayla mendongak menatap Farhan yang tersenyum penuh arti, "Jadi aku chatingan sama kamu, bukan sama Dika? Jahat banget sih Mas, kenapa enggak bales pake hape kamu aja? Jadi malu kan aku, ketahuan deh," meneggelamkan wajahnya di dada bidang Farhan.


"Tapi aku jadi tahu, coba aja kalau ngirim pesannya lewat hapeku pasti kamu masih cuekin aku. Eh tunggu ada yang aneh, udah capek nyuekin aku selama beberapa hari ini?"


Nayla mengangguk, "Tapi aku butuh penjelasan," ucapnya masih dalam pelukan pemuda itu.


Farhan mengernyitkan dahinya, "Penjelasan?" tanya Farhan.


Lagi-lagi Nayla mengangguk, "Nanti saja, aku juga mau menceritakan sesuatu sama kamu Mas, tapi nanti ya. Aku tahu Mas Farhan masih capek sekarang," mendongak menatap wajah sang suami, "Mas mandi dulu aja, keliatan tadi pagi belom mandi, baunya asem," Nayla melepaskan pelukannya, jarinya menutup hidung berpuara-pura seakan Farhan benar-benar bau asam.


"Asem-asem tapi dari tadi betah banget," ucap Farhan, tersenyum menggoda, "Yaudah aku mandi ya sayang," tambahnya.


"Jangan panggil-panggil sayang, kalau masih pura-pura sayang," timpal Nayla, lalu ia memalingkan wajahnya.

__ADS_1


Farhan mengernyitkan dahinya.


Bersambung....


__ADS_2