Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Apa Mereka Janjian?


__ADS_3

Mama Adela menitikan air mata, ketika melihat siapa yang berada tepat di depan pintu. Jika saja dirinya tidak terbaring lemas di atas brangkar, sudah di pastikan ia akan lari dan memeluk tubuh seseorang yang ada di sana. Rasa haru bahagia bercampur menjadi satu, sudah tidak bisa di utarakan lagi dengan sebuah kata-kata.


Melihat Mama Adela menangis, Nayla dengan gerakan secepat kilat membawa kursi rodanya menuju pembaringan sang Mama. Ia meraih punggung tangan Mama Adela dan menciumnya beberapa kali, lalu memeluk tubuh yang terlihat lemas itu.


"Maafin aku Ma, gara-gara aku Mama sampai sakit seperti ini. Enggak seharusnya aku egois, maafkan aku ya Ma," ucap Nayla dalam pelukan wanita paruh baya itu yang baru saja ia akui sebagai Mama.


"Mama bahagia sekali kamu mau datang ke sini, Mama sudah takut jika kamu tidak akan memaafkan kesalahan Mama sayang, Mama takut kamu benci sama Mama" ucap Adela dengan bergetar air matanya tak henti- henti mengalir, sambil mengusap rambut panjang Nayla.


"Itu tidak akan terjadi Ma, aku tidak mungkin membenci Mama karena Mama yang telah melahirkanku ke dunia ini," air mata Nayla pun ikut mengalir.


Ibu dan anak itu berpelukan cukup lama, menumpahkan rasa rindu yang sejak bertahun-tahun lamanya tak berjumpa, bahkan Adela sudah menganggap jika putrinya sudah tiada.


Mama Adela lebih dulu melepas pelukannya, menghapus air mata yang membanjiri pipi putrinya, "Sudah enggak usah nangis lagi, Mama paham kamu pasti marah sama Mama, setidaknya kejadian itu membuat Mama tersadar jika sebuah dendam justru akan menyakiti diri kita sendiri," tuturnya.


"Iya Ma, sudah enggak usah bahas itu lagi, aku tahu Mama khilaf," timpal Nayla, "Yang penting sekarang Mama hasur sembuh, biar cepet pulang, kapan-kapan kalau aku sudah bisa jalan, aku akan nginep di rumah Mama, tidur sama Mama, kita akan bercerita, atau Mama yang mau menginap di rumahku, aku pasti seneng banget," tambahnya.


"Maafkan Mama ya sayang, gara-gara Mama kamu jadi seperti ini," air mata Adela kembali tumpah, ia benar-benar menyesali perbuatannya.


"Sudah Ma, aku sudah memaafkan Mama. Sekarang Mama makan ya, aku lihat tadi makanannya masih utuh pasti Mama belum makan, kan? Biar aku suapi," Nayla baru saja akan mengambil makanan itu, tetapi sang suami lebih dulu mengambilkannya. Karena ia tahu jika Nayla pasti akan kesulitan untuk mengambil makanan tersebut.


"Makasih Mas," ucap Nayla setelah menerima mangkuk berisi bubur untuk sarapan Mama Adela.

__ADS_1


Farhan mengangguk, lalu ia menghampiri Adela mencium punggung tangan Mama mertuanya. "Semoga lekas sembuh Tan," ucap Farhan, ia belum terbiasa ataukah lupa memanggil Mama mertuanya dengan sebutan tante, entahlah.


"Kok Tan? Kamu sekarang juga anak Mama Han, jadi panggil Mama ya," ucap Adela sambil tersenyum.


Farhan tersenyum canggung, lalu ia mengagguk, "Iya Ma," ucapnya.


Setelah itu Farhan memilih untuk duduk di sofa bersama Irfan dan Papanya, ada juga adik Irfan Ayna yang turut serta.


Ketiga orang tersebut nampak terharu menyaksikan interaksi anak dan Mamanya yang sudah bisa saling menerima dan memaafkan itu. Ayna memilih untuk mendekati sang Mama dan Kakak barunya, ia belum pernah sekali pun bertemu dengan Nayla. Gadis lima belas tahun itu terlihat bahagia saat mengetahui jika ia memiliki kakak perempuan.


"Kak, kenalkan aku Ayna," mengulurkan tangan ke hadapan Nayla.


Nayla pun tersenyum, ia meletakkan sendok ke dalam mangkok, lalu menerima uluran tangan Ayna, "Cantik sekali adikku ini, mirip seperti Mama," ucap Nayla. Yang di puji terlihat bahagia.


"Kakak bisa aja," timpal Ayna malu-malu.


Mama Adela tersenyum melihat interaksi kedua putrinya yang langsung akrab bahkan saat pertama kali bertemu. Adela harus berterimakasih pada Hania karena telah mendidik putrinya menjadi wanita yang luar biasa.


Setelah selesai menyuapi Mama Adela, Nayla pun kembali bercengkrama dengan Ayna, bahkan Ayna nampak antusias sesekali keduanya tertawa bersama, entah apa yang mereka bahas. Sedangkan ketiga lelaki yang ada di sana juga sedang berbicara entah apa, ralat hanya Papa Aditya dan Farhan yang berbicara sedangkan Irfan jadi pendengar setia.


Lega hati Mama Adela saat ini, melihat anak-anaknya begitu akrab bahkan sudah bisa menerima keadaan ini. Terutama Nayla yang sudah menerima dan memaafkan dirinya, Adela menjadi bersemangat untuk sembuh dan kembali ke rumah, ia tidak sabar ingin menemani Nayla samapi putrinya itu benar-benar pulih.

__ADS_1


¤¤¤


Waktu sudah menjelang senja, akan tetapi Nayla masih betah tinggal di rumah sakit menemani sang Mama. Bahkan Ayna sudah lebih dulu pulang bersama Irfan, gadis itu beralasan ingin mandi.


"Sayang, kalian pulang aja ya, kasian Nayla butuh banyak istirahat. Mama juga di sini ada Papa, nanti ada Fahri sama istrinya juga," tutur Mama Adela, ia kasihan melihat putrinya yang justru bertahan di rumah sakit untuk menjaganya, padahal Nayla masih butuh banyak istirahat.


"Tapi Ma," Nayla menolak, ia masih ingin tinggal lebih lama lagi di sana, meskipun lelah telah berpihak padanya, tapi ia masih rindu dan ingin dekat dengan sang Mama.


"Besok kalian boleh kesini lagi, Mama enggak mau kamu sakit Nak," membujuk Nayla supaya mau kembali ke rumah.


"Baiklah Ma, aku sama Mas Farhan pulang, besok kita kesini lagi. Tapi inget Mama harus makan ya, biar cepet sembuh," Nayla mengingatkan sang Mama karena sejak tadi Mama Adela susah sekali untuk makan meskipun Nayla turun tangan sendiri untuk menyuapi.


"Iya sayang, Mama janji. Mama juga pengen cepet sembuh," tutur Adela.


Akhirnya keduanya pun berpamitan untuk pulang. Farhan lega, karena sejak tadi istrinya itu susah sekali di ajak pulang, padahal ia tahu jika istrinya juga lelah di sana, karena pergerakannya kurang bebas hanya bisa duduk di kursi roda.


Farhan mendorong kursi roda menuju parkiran, lalu membopong Nayla masuk ke dalam mobil, setelah itu ia pun menyusul masuk ke dalam mobil melewati pintu sebelah kemudi, memasangkan sabuk pengaman untuk sang istri dan dirinya sendiri, lalu melajukan kereta besinya dengan kecepatan sedang menuju kediaman mereka.


Setelah sampai rumah, mereka di kejutkan dengan adanya mobil milik orang tua mereka. Sepertinya kedua orang tua mereka sudah janjian untuk datang secara bersamaan.


"Kok Mama sama Papa ke sini enggak ngasih kabar kita sih Mas?" tanya Nayla.

__ADS_1


"Mas juga enggak tahu, bisa barengan juga, apa mereka janjian ya?" Farhan justru balik bertanya. Karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah.


Bersambung....


__ADS_2