Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Gimana Rasanya


__ADS_3

Dengan sedikit ragu-ragu, Nayla beranjak dari duduknya, ia melangkah mendekati Farhan duduk di sisi lelaki itu.


"Ada apa Mas?" tanyanya


Farhan menoleh ke arah Nayla, "Ada masalah sedikit," kilahnya.


Nayla tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Farhan, pasalnya wajah sang suami terlihat memendam amarah.


"Cerita aja Mas, kali aja aku bisa bantu," Nayla memberanikan diri berkata seperti itu, "Kalau pun aku tidak bisa membantu setidaknya Mas lebih lega karena sudah menceritakan masalah itu," tambahnya.


Farhan menghela nafas, ia ragu ingin bercerita dengan Nayla karena masalahnya berhubungan dengan mantan kekasih, tapi mendengar ucapan Nayla selanjutnya ia pun memutuskan untuk bercerita.


"Ini soal Sherena," Farhan beralih menatap Nayla, memastikan apakah Nayla bersedia jika ia menlanjutkan ceritanya, ternyata Nayla mengangguk seakan ia tahu jika Farhan bertanya.


"Tadi orang suruhanku mengatakan kalau dia pergi ke Australia bersama lelaki, mungkin lelaki yang menghamilinya," wajah Farhan terlihat memerah memendam amarah dan Nayla tahu itu. Tapi ia mencoba bersikap biasa saja.


"Yang buat aku marah, kenapa dia justru mau melangsungkan pernikahan denganku dan akhirnya mempermainkanku, apa maksudnya coba? Tega sekali dia." Terlihat Farhan mengepalkan tangannya.


Reflek Nayla menyentuh punggung Farhan, mengelusnya, ia tidak bisa berbuat apa-apa selain menjadi pendengar yang baik.


"Kamu tahu Nay, lelaki itu ternyata rivalku dalam dunia bisnis. Apa dia sengaja melakukan ini semua karena lelaki itu? Aku bener-bener enggak nyangka," tambahnya.


Nayla masih mengusap-usap punggung suaminya, "Yang sabar Mas, kalau memang rencana mereka seperti itu maka tunjukkanlah pada mereka jika Mas Farhan tidak terpengaruh dengan semua itu, bahkan lebih baik setelah kepergiannya," tutur Nayla.


"Makasih Nay," Farhan tersenyum, beban pikirannya sedikit berkurang setelah bercerita pada Nayla. "Kamu boleh lanjut belajar lagi, aku mesti menyelesaikan beberapa laporan ini," tambahnya.


Nayla tersenyum lalu mengangguk, ia pun beranjak dan menuju temapat ia belajar tadi.


Pukul sepuluh malam, Nayla beberapa kali menguap, ia melirik ke arah Farhan yang masih sibuk dengan laptopnya. Ia sebenarnya sudah mengantuk dan ingin tidur, tapi merasa tidak enak saat melihat Farhan masih sibuk dengan kegiatannya.


"Kalau udah ngantuk tidur dulu aja, aku harus menyelesiakan pekerjaanku dulu," ucapan Farhan mengejutkan Nayla, seakan ia tahu apa yang asa dalam pikiran Nayla.


"Eh, iya Mas," jawab Nayla sedikit gugup.


Nayla membereskan buku-bukunya, lalu ia beranjak bukan ke arah ranjang justru ia berjalan ke arah pintu keluar. Menyadari itu Farhan pun bertnya.


"Mau kemana?" tanya Farhan matanya masih fokus ke arah laptop.

__ADS_1


Nayla menghentikan langkahnya, ia berbalik menghadap Farhan, "Mau ambil minum. Mas Farhan mau aku buatin kopi?" tanyanya.


"Boleh," masih fakus dengan laptopnya.


Nayla mengangguk lalu ia melenggang keluar kamar menuju dapur. Membuatkan secangkir kopi untuk suaminya dan mengambil satu botol air putih dari dalam kulkas. Membawanya ke kamar.


"Ini kopinya Mas," ucap Nayla setelah sampai di dalam kamar, ia meletakkan kopi tersebut di atas meja depan Farhan.


"Makasih Nay," jawabnya, ia tersenyum ke arah Nayla dan di balas oleh gadis itu.


"Sama-sama. Beneran aku boleh tidur dulu?" tanya Nayla, karena ia memang sudah sangat mengantuk.


"Tidurlah, besok kamu juga masuk kuliah," jawab Farhan.


Mendengar jawaban dari Farhan, Nayla pun berjalan menuju ranjang. Menaiki ranjang yang terasa empuk sekali itu lalu merebahkan dirinya di sana, menutup tubuhnya dengan selimut sampai atas dada. Ia memejamkann matanya dan berkelana dalam alam mimpi.


Tak berapa lama pun Farhan menyusul Nayla, ia sudah lelah dan menagntuk. Memandang kedamaian di wajah Nayla saat tertidur, ia tidak menyangkan jika Nayla sekarang adalah istrinya, mengingat dari dulu ia menganggap gadis itu sebagai adiknya.


Cup


Entah mengapa ia reflek medaratkan kecupan di kening gadis itu. Tentu saja Nayla tidak menyadari itu, karena ia sudah tidur nyenyak. Jika saja ia menyadarinya pasti ia akan sangat bahagia.


¤¤¤


Pagi hari Farhan terbangun lebih dulu, ia turun dari ranjang menuju kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, ia langsung mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian sholat, lalu keluar dari walk in closet ternyata Nayla sudah bangun, ia masih duduk di sisi ranjang.


"Aku ke masjid ya Nay," pamit Farhan, ia sudah mengenakan baju koko berwarna putih, sarung kotak-kotak dan peci hitam di kepalanya. Ia memang sengaja membeli rumah dekat dengan masjid.


Nayla mendongak, ia melihat penampilan Farhan lalu ia pun mengangguk.


Setelah melaksanakan sholat, Nayla berinisiatif membuat sarapan untuknya dan Farhan, mulai saat ini ia akan belajar memasak demi sang suami.


"Bik, biar aku yang masak ya, Bibik melakukan pekerjaan yang lain aja," ucap Nayla setelah sampai dapur, ia melihat pembantunya sedang memepersiapkan bahan-bahan makanan.


"Tapi Non,"


"Sudah enggak apa-apa, aku mau buat sarapan untuk suamiku Bik," ucap Nayla tersenyum.

__ADS_1


Pembantu itu pun mengiyakan, ia membiarkan Nayla memasak sediri tanpa bantuannya.


Waktu berlalu, Nayla telah menyelesaikan masakannya, ia kembali ke kamar dan mendapti Farhan sudah siap dengan baju kantornya.


"Ayo sarapan dulu Mas," ia mengajak Farhan untuk sarapan, ia bahagia karena pertama kalinya masak untuk sang suami, semoga hasilnya memuaskan, pikirnya.


"Kamu enggak mandi dulu?" tanya Farhan, ia melihat penampilan Nayla yang masih mengenakan piama tidurnya.


"Nanti aja, aku masuk kuliah jam sembilan, jadi masih bisa santai," jawabnya.


"Baiklah. Nanti kamu pake mobil yang ada di bawah aja ya pas kuliah, kuncinya di dalam laci," ucap Farhan.


"Mas Farhan gimana?" tanyanya, pasalnya ia tidak tahu jika di garasi ada dua mobil. Yang ia tahu hanya ada satu mobil milik Farhan.


"Ada dua mobil, enggak usah aku jelaskan alasnnya kenapa, kan? Kamu sudah tahu jawabnnya," ucap Farhan lalu ia melangkah keluar kamar.


Nayla berfikir sejenak, "Semua itu udah di persiapkan buat Kak Sherena ya, tapi sayangnya justru aku yang menikmati, seharusnya aku bahagia apa sedih ya?" gumamnya, ia bahkan tidak merasa bahagia sedih pun tidak tapi biasa saja. Jika saja ia sudah merasakan cinta pada sang suami pasti ia akan sedih, mengingat semua barang-barang yang ada di rumah itu bukan diperuntukkan untuk dirinya.


Nayla memilih tidak memikirkan itu, ia melangkah menyusul Farhan yang mungkin sudah sampai ruang makan.


Benar saja, saat ia masuk ke dalam ruang makan Farhan sudah menunggunya. Tanpa meminta persetujuan, Nayla mengambilkan nasi goreng yang tadi ia buat ke dalam piring Farhan, lalu meletakkan piring itu di depan Farhan. Kemudian ia mengambil nasi untuk dirinya sendiri.


Nayla terus menatap Farhan saat ia memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.


"Gimana rasanya Mas?" tanyanya.


Farhan berhenti mengunyah, "Sedikit keasinan," celetiknya, lalu ia melanjutkan makan kembali tanpa peduli dengan rasa nasi goreng tersebut.


Nayla penasaran ia pun menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Seketika ia berlari ke arah wastafel dan membuang semua yang ada dalam mulutnya.


"Udah enggak usah dimakan Mas, ini bukan sedikit keasinan tapi nasi goreng rasa garam," ucapnya, lalu mengambil piring Farhan yang tersisa separo.


"Maaf ya, aku baru belajar masak, aku janji besok akan masak lebih enak dari ini," ucapnya menyesal kenapa ia tidak mau mendengarkan ucapan Mamanya dulu.


"Tidak masalah, kalau kamu mau belajar pasti bisa," Farhan menegak air putih yang ada di depannya, lalu berdiri dari duduknya, "Aku berangkat ya," pamitnya lalu mengusap puncak kepala Nayla.


Nayla memgangguk, ia mengekori Farhan sampai ke teras rumah. Ia kembali masuk ke dalam rumah saat suaminya sudah pergi.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2