
Sore hari saat akan pulang tiba-tiba Dika datang dengan wajah yang sulit di artikan oleh Farhan. sepertinya asistennya itu sudah mendapatkan bukti tentang keterlibatan Rita dengan kejadian gagalnya pernikahan Farhan dengan Sherena.
"Gimana Dik? Apa kamu menemukan bukti?" tanya Farhan yang sudah sangat penasaran.
"Maaf Pak, Saya belum menemukan keterlibatan Rita dalam kasus itu," Dika menjeda ucapannya, "Tapi saya menemukan bukti di saat pertemuan Sherena dengan Bapak Samuel, karena saya ingat waktu itu, kejadian tahun lalu saat Bapak dengan Nona Sherena bertemu dengan klien di sebuah restoran hotel, ternyata setelah itu Nona Sherena tidak langsung pulang, melainkan bertemu dengan Bapak Samuel," jelasnya.
Farha masih mendengarkan cerita Dika.
"Tadi setelah ingat kejadian itu, saya langsung mendatangi hotel tersebut, mencari bukti CCTV. Dan benar mereka janjian untuk bertemu, Bapak bisa lihat sendiri videonya," Dika menyerahkan laptop ke hadapan Farhan, tapi lelaki itu menolaknya.
"Untuk yang itu saya percaya, dan tidak perlu melihat rekamannya, cukup kamu saja," ucap Farhan. "Yang penting sekarang, cari tahu apakah Rita terbukti bersalah dan bersekongkol dengan Samuel atau tidak? Karena istri saya bercerita kalau Samuel bersekongkol dengan orang terdekat saya, kalau tidak Rita lalu siapa? Apa kamu? Karena di hotel itu hanya ada kita bertiga dan juga Sherena dan tidak mungkin kolega saya kan?" banyak pertanyaan yang muncul dari bibir Farhan.
"Baik Pak, saya akan cari buktinya lagi, karena rekaman CCTV di hotel tersebut hilang, setelah mereka berdua bertemu, sampai hari esoknya. Sepertinya ada seseorang yang sengaja memotong CCTV tersebut Pak," jelas Dika.
"Yaudah tidak apa-apa, kita cari bukti yang lain kalau pun masih ada, yang penting kamu cari dulu," Farhan tidak mau menyerah begitu saja, karena ia ingin mengungkap apakah Rita melakukan kejahatan lain selain kemarin malam.
"Baik Pak, dan untuk laporan ke polisi, kita tinggal nunggu kabar baiknya, karena laporan saya tadi pagi sudah di terima,"
Setelah urusannya selesai dengan Farhan, Dika pun pamit untuk diri. Sedangkan Farhan menghampiri sang istri yang masih berada di dalam kamar.
"Ayo pulang sayang," ucapnya setelah berada di dalam kamar.
"Oke, tapi nanti mampir dulu ya Mas," ucap Nayla, lalu ia beranjak dari tidurnya menghampiri sang suami yang berdiri di depan pintu kamar.
"Kemana?" tanya Farhan.
"Aku pengen makan malam di rumah Icha, pengen di buatin kue sama dia," jawab Nayla.
"Tumben? Mau langsung apa pulang dulu?" tanya Farhan.
"Langsung aja, aku enggak sabar pengen ke sana, kangen juga sama si kembar,"
"Yaudah ayo,"
Mereka keluar dari ruangan Farhan, tak lupa mengunci ruangan itu. Farhan tadi sudah mengganti kunci ruangannya dengan menyuruh seseorang yang ahli dalam bidangnya, mengingat Rita memiliki kunci cadangan dan kuncinya itu masih di tangan Rita dan belum di kembalikan. Untung saja, dokumen di dalam ruangan Farhan masih utuh dan tidak ada yang hilang, bahkan Rita menyerahkan beberapa pekerjaannya ke ruangan Farhan sebelum pergi.
Farhan keluar dari ruangannya dengan memeluk pinggang sang istri. Keadaan kantor masih sedikit ramai karena beberapa karyawan masih berada di sana. Tersenyum dan menyapa para karyawan saat bertemu dengan mereka, seakan tidak memiliki masalah yang serius saat ini.
__ADS_1
****
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih setengah jam, akhirnya mereka sampai juga di kediaman Icha. Melangkah mendekati pintu utama lalu memencet bel kediaman keluarga Al.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Tak lama pintu terbuka, menampakkan wanita paruh baya di sana.
"Den Farhan sama Non Nayla silakan masuk," ucap Art itu. Keduanya pun masuk ke dalam rumah tersebut.
Sebelum Nayla buka suara, teriakan batita berumur satu tahun lebih itu membuat Nayla menghampirinya.
"Tee!" teriak salah satu anak Icha.
"Sayangnya Tante makin gemesin aja sih, udah bisa jalan ya sekarang, makin pinter deh," ucap Nayla sambil menciumi seluruh wajah balita itu.
"Tumben banget kalian kesini sore bigini?" tanya Icha yang baru saja datang sambil menggendong salah satu anaknya.
"Kak, anak kamu balas dendam deh kayaknya," celetuk Icha saat menyadari sesuatu, "Ini kemauan bayinya apa Mamanya yang sengaja mau ngerjain aku?" tanyanya.
Farhan tersenyum mendengarnya, ia jadi teringat waktu kehamilan Icha yang pertama yang selalu merepotkan dirinya.
"Mana ada aku mau ngerjain, sepertinya keinginan keponakan kamu deh Cha," jawab Nayla.
"Bener kan, dia mau balas dendam sama tantenya," ucap Icha pura-pura bersedih.
"Yaudah deh, aku buatin kue, mau kue apa? Makan malam mau sama apa? Pokonya semuanya beres, aku akan buatkan khusus untuk keponakanku,"
"Terimakasih Icha, kamu memang terbaik," ucap Nayla sambil tersenyum bahagian.
"Kalian mandi aja dulu, kamu bisa ganti baju dengan bajuku, Kakak nanti aku pinjemin punya Al deh,"
Farhan mengernyitkan dahinya lalu melihat postur tubuhnya, "Apa muat baju suamimu di pakai Kakak?" tanya Farhan. Karena postur tubuh Farhan lebih tinggi dari Al meskipun hanya berbeda beberapa centimeter saja.
__ADS_1
"Kalau muat pasti, tapi mungkin kependekan sedikit, tidak masalah Al ada beberapa baju santai yang masih baru, sepertinya muat di pakai Kakak,"
Farhan mengangguk, "Suami kamu mana?" tanyanya karena sejak tadi tidak melihat Al.
"Lagi ke luar kota sama Papa, Papa kita juga lagi ke luar kota bareng suamiku dan Papa mertua," jawab Icha.
"Kebetulan banget kalian kesini pas mereka tidak di rumah, kalau bisa sih nginep sekalian. Mama tadi bilangnya mau nginep di sini, tapi sampai sore gini belum datang," tambahnya.
"Sini Abang sama ya, Tante mau mandi dulu, Abang sama Kakak mandi juga ya," Icha meraih putranya dari gendongan Nayla.
"Yaudah, sana kalian mandi dulu," titah Icha diangguki oleh keduanya.
Setelah itu, Farhan dan Nayla pun masuk ke dalam kamar tamu.
***
"Assalamu'alaikum," ucap salam seseorang membuat ke dua wanita yang sedang sibuk di dapur itu menoleh.
"Mama," ucap mereka bersama.
"Wa'alaikumussalam," jawab salam keduanya.
Mereka menghampiri wanita paruh baya itu, lalu mencium punggung tangannya.
"Ada Nayla juga, apa kabar sayang?" tanyanya.
"Alhamdulillah baik, Mama sendiri?"
"Alhamdulillah, Mama juga baik, mana suami kamu?"
"Ada Ma, di kamar,"
"Mama kira kamu sendiri. Wah banyak banget kamu masaknya Cha?" tanya sang Mama terkejut melihat meja makan penuh dengan berbagai menu makanan yang di minta oleh Nayla tadi.
"Iya Ma, Nayla katanya mau makan masakan aku, dan jadilah ini," jawab Icha, sedangkan Nayla tersenyum canggung.
"Untung cuma masak Cha, enggak di suruh metik mangga paling tinggi dan akhirnya mangga itu di anggurin sampai membusuk," celetuk sang Mama sambil terkekeh mengingat kejadian waktu itu.
__ADS_1
"Mama, itu juga keinginan cucu Mama," rengek Icha membuat dua wanita itu tertawa.
Bersambung.....