
Tiga hari berlalu, hari ini Farhan harus memberikan keputusan, apakah ia mau di ajak kerja sama dengan Samuel atau sebaliknya, ia masih bingung. Ia juga belum meminta pendapat sang istri. Dan pagi ini ia putuskan untuk mendengar pendapat Nayla. Wanita itu sedang mandi dan Farhan akan menunggunya sejenak.
Terlihat Nayla keluar dari kamar mandi sudah rapi mengenakan pakaian santai, karena hari ini istrinya itu kuliah siang.
"Sayang, ada yang mau Mas bicarakan," ucap Farhan, saat ini ia sedang duduk di sofa sambil memperhatikan Nayla yang sedang menyisir rambutnya.
"Mau bicara apa Mas?" tanya Nayla setelah menyelesaikan kegiatannya, ia pun menghampiri sang suami dan duduk di sisinya.
Farhan menghadap ke arah istrinya, "Gini, tiga hari yang lalu Mas mendapat tawaran kerja sama dengan Samuel, tapi Mas belum menjawab. Dia memberi waktu tiga hari, dan sekarang Mas bingung mesti jawab apa. Kalau menurut kamu gimana sayang?" tanya Farhan di akhir ceritanya.
Nayla tampak berfikir, kenapa juga Samuel minta kerja sama dengan suaminya? Bukankah sejak dulu Samuel tidak suka dengan Farhan? Bahkan Samuel sejak dulu menaruh hati pada Sherena, tapi Sherena justru memilih Farhan dan itu membuat Samuel semakin tidak menyukai Farhan. Nayla mendengar cerita itu dari sang suami beberapa waktu yang lalu.
"Sayang, kok malah melamun?" pertanyaan Farhan membuat Nayla sadar dari lamunanya.
"Maaf Mas, aku lagi mikir," ucap Nayla sambil tersenyum.
"Gimana menurut kamu? Mas akan ikutin usulanmu," tanya Farhan.
Nayla menghela nafas, "Menurutku enggak usah terima dulu lah Mas, aku takut dia merencanakan sesuatu," menjeda ucapannya sejenak, "Satu lagi, kalau Mas bekerja sama dengan dia itu artinya kita akan selalu bertemu dengan mereka dan aku enggak mau itu, terlalu beresiko, bisa saja karena sering bertemu benih cinta yang udah tenggelam akan tumbuh lagi, seperti pepatah jawa mengatakan witing tresno jalaran soko kulino," tutur Nayla, ia tersenyum di akhir kalimatnya, menyadari jika ia tidak mau sang suami berdekatan dengan mantan.
Farhan tersenyum, ia tahu pada intinya istrinya itu cemburu jika Farhan kembali bertemu dengan Sherena dan mungkin itu alasan utama Nayla bukan yang pertama di ucapkan tadi.
"Apa artinya itu sayang?" tanyanya pura-pura tidak tahu, padahal sedikit-sedikit ia tahu bahasa jawa, karena memang orang tuanya berasal dari jawa. Meskipun sejak dulu tinggal di ibu kota.
"Coba Mas cari sendiri di boogle," bukannya menjawab, Nayla justru menyuruh sang suami untuk mencari tahu sendiri.
"Iya, Mas tahu artinya kok," Farhan tersenyum, "Berarti Mas tolak aja ya tawaran Samuel," tambahnya.
__ADS_1
Nayla mengangguk, "Itu lebih baik," jawabnya.
"Yaudah, aku siapin sarapan dulu ya Mas, bajunya juga sudah aku siapin, Mas mandi dulu sana," titah Nayla dan di angguki oleh Farhan.
Nayla ke luar kamar, menuruni anak tangga lalu masuk ke dapur, di sana sudah ada Bik Sumi yang sedang sibuk meracik masakan. Saat melihat Nayla datang, Bik Sumi pun mempersilahkan Nayla untuk melanjutkannya, karena Bik Sumi tahu jika Nayla ingin masak, makan ia harus mengerjakan hal yang lain, Nayla selalu tidak mau di bantu.
¤¤¤
Satu bulan berlalu, perjalanan rumah tangga mereka baik-baik saja. Bahkan respon Mama Adela setelah mengetahui Nayla belum hamil pun tampak biasa saja, tidak terlalu mendesak, kasihan jika Nayla selalu di desak justru akan menambah pikirannya.
Setelah mendapatkan informasi dari Sherena waktu itu, Nayla pun selalu mengekori sang suami kemana pun Farhan pergi, ke luar kota bahkan saat ke luar negeri pun ia selalu iku, tidak mau kecolongan sedikit pun. Memilih absen dari kuliahnya, karena menurut Nayla kuliah masih bisa di tunda, sedangkan mencari siapa yang membahayakan untuk kelangsungan rumah tangga mereka tidak boleh di tunda lagi. Tapi memang tidak ada yang mencurigakan selama ini.
Kerja sama yang di minta oleh Samuel pun benar-benar di tolak oleh Farhan. Ia tidak mau mengambil risiko dan sepertinya Samuel tidak mempermasalahkan hal itu.
Siang ini setelah kuliahnya usai, Nayla meminta Icha adik iparnya untuk mengantar belanja ke mall. Ia juga sudah meminta ijin pada sang suami, bahkan ia mengatakan tidak akan menyusul Farhan ke kantor, melainkan akan menunggu sang suami pulang.
"Iya, makanya aku minta kamu temenin ke mall karena mau buat kejutan untuk Mas Farhan. Dia pasti seneng dengan kejutan yang aku berikan nanti," Nayla membayangkan jika suaminya itu akan bahagia dengan kejutan yang akan ia berikan.
"Tahun lalu, aku sudah enggak ngasih apa-apa buat dia, karena waktu itu kami sedang dalam masalah," tambahnya.
Icha mengernyitkan dahi, ia tidak mengetahui masalah apa yang di hadapi mereka, ya karena waktu itu ia dalam fase penyembuhan setelah operasi secar.
"Masalah?" tanyanya.
Nayla mengangguk, "Iya, cuma salah paham aja kok dan itu sudah berlalu, aku enggak akan mengulangi kesalahan yang sama," jawabnya.
Icha hanya mengangguk, ia tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kakaknya karena itu bukan haknya.
__ADS_1
Tak berapa lama mereka pun sampai di sebuah mall terbesar di ibu kota. Nayla memarkirkan mobilnya, lalu keduanya pun turun dan masuk ke dalam mall.
"Tumben belanjanya ke sini?" tanya Icha, tempat yang mereka datangi adalah counter baju langganan Icha dan Mama Sinta.
"Iya, makanya aku ajak kamu belanjanya, karena kalo ajak yang lain pasti mereka enggak bisa milihnya. Ayo pilihkan baju yang cocok buat aku Cha," ucap Nayla, Icha pun menurut, ia mulai memilih beberapa pakaian untuk Nayla.
Karena postur tubuh mereka yang sama-sama kecil, meskipun Icha lebih pendek dari Nayla jadi Icha bisa menentukan mana yang pas di tubuh kakak iparnya itu.
"Nay, kamu udah pikirkan ini sungguh-sungguh?" tanya Icha mereka masih memilih beberapa pakaian.
"Iya Cha, sudah. Seperti yang pernah aku katakan dulu sama kamu," jawabnya sambil tersenyum.
"Syukur alhamdulillah kalau gitu, aku ikut seneng," Icha tersenyum bahagia melihat perubahan sahabatnya itu bahkan Nayla terlihat lebih dewasa sekarang.
Setelah membayar semua belanjaan mereka, keduanya pun memilih untuk makan siang terlebih dahulu, makan siang yang sudah sangat terlambat.
Setelah makan siang, mereka memilih untuk pulang ke rumah Nayla terlebih dahulu.
"Hari ini kamu aku sewa sehari ya, tadi aku udah bilang sama Mama, supaya si kembar di rumah Mama dulu sampai aku anterin kamu ke sana," celetuk Nayla, keduanya kini sudah berada di dalam mobil menuju rumah Nayla.
"Aku kira cuma di suruh nemenin belanja aja, ternyata masih ada lagi. Mau ngapain lagi Nay?" tanya Icha.
"Aku mau minta ajarin buat kue," jawab Nayla sambil tersenyum.
"Baiklah, aku mengalah kali ini, demi Kak Farhan juga," Icha faham jika Nayla meminta bantuannya untuk membuat kue ulang tahun buat sang Kakak.
"Makasih Icha, makin sayang deh sama kamu," ucap Nayla sambil tersenyum, menoleh sekilas ke arah Icha karena ia masih fokus menyetir.
__ADS_1
Bersambung....