
Saat sedang asyik sarapan, keduanya di kejutkan dengan suara deringan ponsel.
Drrrt Drrrt Drrtt
"Ponselmu bunyi sayang," ucap Farhan, diangguki oleh Nayla.
Nayla meraih ponselnya yang berbunyi di atas nakas, mengernyitkan dahi saat tahu siapa yang telfon.
"Siapa?" tanya Farhan.
"Temen kampus Mas, tumben banget dia telfon," jawab Nayla "Aku angkat dulu ya," tambahnya lalu ia menggeser icon hijau dari layar ponselnya.
"Assalamu'alaikum, tumben telfon ada apa Va?" ucap salam Nayla.
"Wa'alaikumussalam, Nay kenapa lo enggak berangkat lagi? Gue di teror melulu sama si Irfan, dari kemaren nyuruh gue nelfon lo, kenapa sih kalian berdua, nih orangnya mau ngomong sama lo," ucap Erva, ia terlihat kesal saat mengucapkan kata-kata tersebut, mungkin kesal karena Irfan.
"Jangan kasih ke dia, atau gue enggak mau ngomong sama lo lagi!" Nayla mengancam Erva, jika gadis itu memberikan ponselnya pada Irfan.
Erva tidak menjawab tetapi terdengar suara berisik di tempat Erva berada, sepertinya dua orang itu sedang berdebat.
"Va!" seru Nayla.
"Iya Nay, gue sama mau ngasih tahu ke lo, ada tugas kemaren, ntar gue kirim lewat email aja ya. Terus lo mau libur sampai kapan?" terdengar Erva menghela nafas.
"Selesain masalah kalian berdua, kalo enggak cepet di selesain dan lo terus ngehindar, bisa-bisa lo sendiri yang rugi, karena ketinggalan mata kuliah," tutur Erva.
"Ntar lah, gue masih males ketemu sama dia, rasanya mau pindah kuliah aja," timpal Nayla sewot.
"Yaudah deh, terserah lo, dah ya gue tu ...." ucapan Erva menggantung karena Irfan merebut ponselnya dengan paksa.
"Nay, please de ...."
Tut
Nayla memutus sambungannya secara sepihak saat mendengar suara Irfan.
__ADS_1
Sedangkan di seberang sana, Irfan tampak kesal ia hampir saja melempar ponsel Erva jika saja gadis itu tidak merebutnya.
"Apa sih sebenarnya masalah kalian berdua? Heran gue, kenapa gue di bawa-bawa sih," dengus Erva, ia kesal dengan Irfan yang selalu menerornya.
"Gue nembak dia," ucap Irfan dengan pelan, tetapi Erva masih bisa mendengarnya.
"Hah, lo nembak Nayla!" seru Erva, ia menggelengkan kepala tidak percaya.
"Gila lo Fan, dia udah punya suami, apa lo enggak mikir. Pantes aja Nayla semarah itu, kalau gue di posisi dia pasti akan melakukan hal yang sama," menghela nafas, tidak percaya dengan apa yang di lakukan Irfan.
"Saran gue, lo harus ikhlasin Nayla dia udah bahagia sama suaminya, dan enggak usah ngejar-ngejar dia lagi, kalo lo masih ngejar-ngejar dia, gue pastiin Nayla bakalan ilfil sama lo," tambah Erva, lalu ia pergi meninggalkan Irfan yang masih tertunduk lemah.
Di sisi lain, Nayla meletakkan ponselnya dengan kasar, ia terlihat kesal, tentu saja Farhan menyadari itu. Bahkan ia juga mendengar percakapan Nayla tadi.
"Kenapa sayang? Terus siapa yang telfon kok keliatan kesel gitu?" tanya Farhan.
"Erva yang telfon Mas. Dia mengatakan kalo Irfan yang nyuruh dia, anak itu enggak ada kapok-kapoknya. Aku jadi males kuliah kalo harus ketemu sama dia, apalagi kita satu ruang," Nayla mendengus, bagaimana nasibnya jika ia harus kuliah satu ruangan dengan Irfan yang ia hindari.
Farhan mengelus puncak kepala Nayla, "Sudah, nanti Mas usahain biar kalian enggak satu kelas lagi," tutur Farhan.
"Bisa dong, kan Papa donatur tetap di kampus kamu, enggak mungkin mereka menolak permintaanku," jawab Farhan dengan PD nya.
Papanya memang sejak dulu menyumbangkan banyak dana untuk kampus itu, hingga saat ini menjadi kampus yang populer dan menjadi pilihan untuk para mahasiswa yang ingin berkuliah dengan fasilitas lengkap. Bahkan sampai saat ini pun Papa Bayu masih menjadi donatur tetap.
Nayla tersenyum lalu ia memeluk Farhan, ia bahkan duduk di pangkuan lelaki itu, "Makasih ya Mas," ucapnya. Melepas pelukannya, meluapkan rasa bahagiannya dengan mengecupi seluruh wajah Farhan. Entah kenapa ia jadi seberani itu.
"Udah sayang, jangan mancing-mancing gitu," protes Farhan, karena Nayla tak henti-henti mengujani wajahnya dengan ciuman.
Nayla mengrucutkan bibir lalu melepaskan pekukannya, "Emang ikan bisa di pancing," ucapnya.
"Iya, ikan belut," ucap Farhan asal.
"Emang ada belut segede itu?" Nayla menutup mulutnya, ia tidak sadar mengucapkan kata-kata tersebut.
"Aduh bodohnya, apa sih yang aku katakan?" batin Nayla
__ADS_1
Farhan menaikkan sebelah alisnya, lalu ia tersenyum menggoda, "Apa yang kamu pikirkan, hm?" tanyanya masih tersenyum penuh arti.
Nayla tersenyum canggung, "Aku mau beresin bekas sarapan kita ya," ucapnya mengalihkan pembicaraan, lalu turun dari ranjang, mengambil piring dan gelas yang baru mereka gunakan untuk sarapan kesiangan mereka.
"Kamu yakin mau turun dalam keadaan seperti itu?" tanya Farhan saat Nayla baru berjalan dua langkan.
"Ada yang salah ya Mas?" bukannya menjawab, Nayla justru balik bertanya.
Farhan mendekati Nayla, lalu ia mengambil piring dan gelas yang ada di kedua tangan istrinya, "Biar aku yang ngembaliin, nanti Bik Sumi syok lihat kamu seperti itu," ucapan Farhan justru membuat Nayla makin bingung. "Duduklah di depan cermin, lihat ada yang janggal apa enggak," tambahnya lalu Farhan melangkah ke luar kamar.
Sedangkan Nayla bergegas menuju meja rias, "Oh tidak, kenpa aku enggak sadar ya? Untung aja enggak jadi turun dalam keadaan kaya gini, kalau sampai Bibik tahu bisa malu sepanjang tahun," gumama Nayla, sambil melihat berapa banyak tanda merah yang ada di lehernya.
"Ini gimana cara ngilanginnya sih? Masak aku seharian harus di kamar," gerutunya.
"Oh iya, coba pakein bedak aja deh," setelah berfikir beberapa menit akhirnya menemukan ide tersebut.
"Enggak lucu banget sih, masak leherku keliatan lebih putih dari muka," ia menggerutu setelah selesai mengolesi bedak di lehernya.
"Mau tahu caranya biar enggak ribet?" tanya Farhan yang tiba-tiba berada di belakangnya.
Nayla mendongak menatap wajah Farhan yang berada di belakangnya lewat cermin, lalu ia mengangguk.
"Pake jilbab, simple kan?" saran Farhan.
Nayla menghela nafas, lalu ia membalik tubuhnya dan kini berhadapan dengan Farhan, "Aku belum siap Mas, emang udah ada niatan untuk itu, tapi enggak sekarang," ucapnya sendu.
Farhan berjongkok di hadapan Nayla, memegang kedua bahu Nayla, menatap lekat netra istrinya, "Perbuatan baik jika sudah ada niatan maka lakukanlah dengan segera, sebelum berubah pikiran. Karena manusia itu mudah sekali goyah pikiran dan hatinya, apalagi itu suatu kewajiban bagi seorang wanita muslim," tutur Farhan lembut.
"Aku tidak akan memaksamu jika memang belum siap, karena suatu keterpaksaan tidak akan berahir baik, aku mau kamu melakukan itu karena tekad dan keinginanmu sendiri," tambahn Farhan.
"Iya Mas, maafkan aku ya, suatu saat aku akan melakukan itu. Dan tolong bantu aku untuk menjadi lebih baik, jika aku salah tolong tegur aku," entah kenapa suasananya menjadi lebih serius.
"Itu sudah pasti, sayang," ucap Farhan lalu mengelus rambut panjang Nayla.
Bersambung.....
__ADS_1