Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Setuju Sama Mama


__ADS_3

Sudah seminggu ini Mama Hania tinggal di rumah Nayla tentunya sang Papa pun ikut. Hari ini mereka berencana ingin kembali ke rumah, karena Mama Adela mengabari jika nanti ia akan datang, dan bergantian menjaga Nayla. Mama Adela sudah pulang dari rumah sakit beberapa hari yang lalu, kesehatannya pun sudah pulih, ia bahkan terlihat lebih bersemangat setelah ke datangan Nayla waktu itu.


Nayla sudah bisa berjalan meski masih memakai tongkat, karena kaki sebelah belum sembuh total. Butuh waktu cukup lama supaya bisa sembuh, beberapa kali ia pun sudah kontrol ke rumah sakit.


"Mama serius mau pulang hari ini? Enggak besok atau lusa gitu?" tanya Nayla, ia masuk ke kamar tamu yang di tempati oleh Papa dan Mamanya. Mendudukkan diri di sisi sang Mama yang sedang melipat beberpa pakaian sebelum di bawa pulang.


"Iya sayang, gantian sama Mama Adela, kasian dia pasti pengen banget tinggal sama kamu, Mama enggak boleh egois dong, sebenarnya sih Mama masih kangen sama kamu, Mama juga enggak tega ninggalin kamu, tapi mau bagaimana lagi," tutur Mama Hania, ia memasukkan bebapa pakaian ke dalam koper.


"Pesan Mama, jangan nyusahin Mama Adela, kalau Mama sih udah biasa ngadepin sifat kamu," tambahnya sambil tersenyum.


Sedangkan Nayla mengrucurkan bibirnya, "Iya Ma, meskipun Mama Adela yang ngelahirin aku, tetep aja aku sungkan, enggak seperti kalo sama Mama," ucap Nayla memeluk Mama Hania dari samping.


"Makasih ya Ma, aku enggak bisa bayangin nasibku seperti apa? Jika Mama itu seperti di sinetron-sinetron yang suka menyiksa anak tirinya. Tapi Mama berbeda, Mama wanita yang paling aku kagumi deh, bisa menganggap aku seperti anak kandung sendiri dan tidak dendam sama Mama Adela, bahkan dengan mudah memaafkan Mama Adela," tutur Nayla panjang lebar, ia menerawang jauh jika nasibnya seperti anak tiri dalam sinetron, selalu menderita akan ulah Mama dan saudara tiri.


"Sudah, enggak usah bahas masa lalu, jadikan masa lalu sebagai tombak untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik, Mama juga sudah melupakan itu, yang penting sekarang kita sudah menjadi keluarga yang utuh dan rukun tentunya," Mama Hania tidak ingin terlarut akan masa lalu yang kelam.


Nayla mengangguk, masih dalam pelukan sang Mama, "Tapi apa Irfan sudah mau menerima Papa?" tanya Nayla, karena ia belum sempat menanyakan hal itu pada saudaranya tersebut.


Mama Hania menggeleng, "Belum, Papa sebenarnya sedih tapi dia selalu bisa menutupi kesedihannya," jawabnya,


"Sebenarnya Papa selalu mencari informasi tentang anaknya dulu, saat tahu Irfan dan Adela tinggal di luar negeri Papa sudah tidak mencari tahu keberadaannya lagi, karena tidak memungkinkan. Papa kamu bukan Papa Bayu yang punya segalanya, ia hanya mampu membayar orang untuk menyelidiki keberadaan Adela dan Irfan saat mereka masih di Jakarta, setelah mereka ke luar negeri Papa sudah tak mampu membayar orang suruhan, kamu tahu sendiri kan, Papa cuma pengusaha biasa tidak seperti keluarga Mama Adela atau keluarga mertuamu," menjeda kalimatnya sejenak.


"Papa pernah bercerita, jika hubungan mereka tidak di restui karena Papa bukan anak seorang pembisnis terkemuka, Papa hanya anak seorang pengusaha batik. Dan alasan kenapa Papa sama Mama di jodohkan karena orang tua kami bersahabat sejak dulu, dan lagi Mama yang hanya anak tunggal. Tentu saja Ayah Mama dulu menginginkan Papa kamu untuk meneruskan usahan garmentnya, dan sampai saat ini usaha itu berkembang berkat Papa kamu," Hania menceritakan sedikit kisahnya dan sang suami.


Nayla mengangguk membenarkan ucapan Mamanya, ia jadi rindu dengan keluarga sang Mama yang justru lebih menganggap ia sebagai cucunya dari pada keluarga sang Papa yang selalu mengucilkannya.


"Aku jadi kangen sama Kakek dan Nenek Ma, semoga beliau tenang di alam sana," tanpa terasa bulir air bening menetes dari pelupuk mata Nayla.


"Doakan saja mereka. Kapan-kapan kita ke Jogja untuk berziarah ke makan kakek, nenek dan jangan lupa doakan juga Uti, meski beliau dulu seperti itu, tetap saja belaiu nenekmu," tutur Mama Hania.


"Iya Ma, aku sudah melupakan itu semua, seperti Mama yang dengan mudah melupakan kesalahan Mama kandungku," timpal Nayla.


Tak berapa lama pun, Bik Sumi memberitahu jika Mama Adela sudah datang. Nayla dan Mama Hania pun menemui Mama Adela yang datang bersama kedua anaknya.

__ADS_1


"Ma," Nayla mencium punggung tangan Mama Adela dan kedua saudaranya.


"Mama sudah bener-bener sehat?" tanya Nayla khawatir.


"Iya sayang, Mama sudah sehat. Kamu tenang aja, jika ada kamu Mama akan selalu sehat," jawabnya.


"Yaudah ayo masuk," Nayla menuntun Mama dan kedua saudaranya ke ruang keluarga.


Mereka berjalan beriringan dan sesekali tertawa, entah membicarakan apa. Tetapi langkah Irfan terhenti manakala melihat Papa Aditama yang menatapnya penuh rindu, pemuda itu berbalik arah, belum siap bertemu dengan sang Papa. Karena hanya akan membuka luka lama, saat dirinya masih kanak-kanak. Selalu saja bayangan itu yang muncul ketika melihat wajah Aditama.


"Bang," ucap Nayla dan Ayna secara bersamaan.


Irfan menghentikan langkahnya tanpa menoleh kearah kedua adiknya, "Gue ke belakang aja," ucapnya, lalu keluar lewat pintu samping menuju taman samping rumah.


Mama Adela dan Nayla terlihat menghela nafas bersamaan, "Maaf Mas, sepertinya Irfan masih enggan bertemu sama kamu," ucap Mama Adela.


Aditama hanya mengangguk, tapi dalam hatinya begitu pilu melihat putranya sendiri enggan bertemu dengannya. Tapi ia akan tetap menunggu Irfan datang ke hadapannya tanpa paksaan.


"Karena kalian sudah datang, kita pamit pulang dulu ya," ucap Mama Hania, ia tidak akan membiarkan sang suami terlarut dalam kesedihan karena putranya yang tidak ingin bertemu dengannya, bahkan melihat wajah Aditama pun sepertinya enggan.


"Pa, nanti aku bujuk Irfan supaya mau nemuin Papa. Papa yang sabar ya," ucap Nayla setelah mencium punggung tangan sang Papa.


"Enggak usah Nak, biarkan saja, dia masih belum bisa menerima Papa, tapi Papa yakin ini hanya sementara, suatu saat dia pasti akan datang sendiri tanpa di suruh," Papa Aditama melarang Nayla untuk membujuk Irfan.


"Yaudah kalau begitu, Papa yang sabar ya," timpal Nayla. Aditama pun mengangguk, ia tersenyum kearah anak dan menantunya.


"Kami pulang dulu ya, ingat pesan Mama jangan nyusahin Mama Adela," Hania kembali memperingati Nayla.


Nayla tersenyum lalu mengacungkan ibu jarinya, "Siap Ma," ucapnya.


"Hati-hati ya Pa, Ma," ucap Farhan saat kedua mertuanya sudah memasuki mobil.


Setelah kepergian Mama dan Papanya, Nayla dan Farhan pun kembali masuk ke dalam rumah dengan Farhan yang menuntun Nayla.

__ADS_1


Baru saja mereka melewati pintu utama, suara klakson mobil menghentikan langkah keduanya. Mereka secara bersamaan menoleh ke arah depan rumah, mendapati seorang gadis dengan watadosnya tersenyum sambil berjalan ke arah mereka berdua.


"Maaf mengagetkan ya," ucapnya sambil menggaruk kepa yang tiba-tiba terasa gatal.


"Maaf baru bisa balikin mobil, tapi santai aja mobilnya aman, tidak lecet sedikitpun," tambah gadis itu.


Nayla tersenyum mendapati siapa yang datang, "Enggak masalah, ayo masuk," ucap Nayla.


Gadis yang tak lain Rara itu pun mengekori suami istri itu, ikut masuk ke dalam ruang keluarga. Ia terperangah mendapati seseorang yang baru saja duduk di sofa ruang keluarga. Sepengetahuannya, pemuda itu adalah orang yang paling di hindari oleh Nayla, tapi kenapa sekarang justru ada di rumah Nayla. Berbagai spekulasi pun muncul dalam pikirannya.


"Kamu pasti kaget kan?" tanya Nayla setelah mereka duduk.


"Kenalin Ra, ini Mamaku dia Ayna adikku, dan yang akan membuat kamu tidak percaya, Irfan itu ternyata Kakak kandungku," jelas Nayla.


Butuh beberapa detik untuk Rara mencerna ucapan Nayla, "Seriusan?" tanyanya. Karena Naya memang belum mengatakan jika Irfan itu kakak kandungnya.


"Iya serius dong," bukan Nayla yang menjawab tetapi Mama Adela, "Kalian satu kampus?" tanyanya.


Rara pun tersenyum lalu mengangguk, "Iya Tan, aku satu kelas sama Nayla," jawab Rara.


"Kamu cantik, sepertinya cocok sama Irfan," celetuk Mama Adela.


Secara bersamaan Irfan dan Rara saling menatap, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mama Adela.


Rara lebih dulu mengalihkan tatapannya, "Tante bisa aja, mana mungkin Irfan suka sama aku, sedangkan dulu waktu SMA saja mantannya cantik-cantik Tan," celetuk Rara dan mendapatkan tatapan penuh intimidasi dari Irfan. Karena selama ini Mamanya tidak pernah mengetahui jika putranya itu memiliki kekasih.


Rara mesara tidak enak dengan Irfan, karena sepertinya ia salah bicara. Ia menatap Irfan dengan penuh penyesalan.


"Aku setuju sama Mama," celetuk Nayla, "Nanti kalau abangku ini selingkuh, aku bantu gebukin Ra," Nayla kini menatap Rara bergantian dengan Irfan.


Irfan hanya mendengus mendengar ucapan Nayla, sedangkan Rara menatap Nayla dengan tatapan membunuh.


Nayla yang mendapatkan tatapan seperti itu, hanya tertawa, ia bahagia menggoda Rara. Ia juga sebenarnya berharap supaya Irfan cepat mendapatkan pasangan, supaya segera move on dari cinta terlarangnya untuk Nayla.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2