Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Kantor


__ADS_3

Nayla tersenyum lalu menganggukkan kepala.


Kedua klien Farhan meneliti penampilan Nayla yang masih terlihat seperti remaja. Tapi mereka tidak berani bertanya. Dua orang yang terlihat seumuran dengan Farhan, msreka sepertinya juga suami istri.


Nayla yang menyadari tatapan mereka, ia sebenarnya sesikit tak enak dengan Farhan, karena penampilanya yang seperti itu. Tapi saat melihat Farhan bersikap biasa saja, ia pun lega.


"Salam kenal Bu Nayla, Saya Erik dan ini istri Saya Yuhana," orang itu bergantian memperkenalkan diri.


Nayla mengangguk lalu ia tersenyum.


Mereka melanjutkan perbincangan tentang bisnis yang mereka jalin, Nayla hanya menjadi pendengar setia karena ia tidak faham apa yang mereka bicarakan. Setelah selesai membicarakan bisnis, mereka pun memesan makanan. Tak butuh waktu lama makanan pum datang, mereka menikmati makan siang dalam keheningan. Setelah selesai makan, mereka pun mengahiri pertemuan tersebut.


"Terimakasih Pak Farhan sudah mau menerima kontrak kerja yang saya ajukan, semoga kerja sama yang kita jalin sukses kedepannya," ucap Erik, ia berdiri lalu menyalami Farhan.


"Iya sama-sama Pak, Saya juga senang bekerjasama dengan Pak Erik." Farhan menerima jabatan tangan Erik.


Saat akan berjabat tangan dengan Nayla, Nayla lebih dulu menautkan kedua telapak tangannya di depan dada lalau menganggukkan kepala dan tersenyum, bertanda ia tidak menerima jabat tangan orang tersebut. Lalu Nayla menjabat tangan istri Erik. Keduanya pun berpamitan.


"Sudah selesai kuliahnya Nay?" tanya Farhan saat kedua orang itu telah meninggalkan mereka.


"Sudab Mas," jawabnya.


Farhan mengangguk, "Ikut ke kantor ya, supaya kamu tahu dimana letak kantorku," ucap Farhan, ia juga menginginkan semua karyawannya mengenal Nayla.


"Boleh Mas, lagian aku juga bingung mau ngapain setelah ini," Nayla menyetujuinya.


"Rita, kamu bisa nyetir mobil, kan?" tanya Farhan pada sekretarisnya.


Sekretaris itu mengangguk, "Bisa Pak," jawabnya.


"Bawa mobil istri saya," titah Farhan.


Nayla menyerahkan kunci mobilnya pada sekretaris itu, lalu mereka berjalan menuju parkiran.


Sekertaris itu mengetahui yang mana mobil milik Nayla, karena saat membelinya ia ikut serta, bahkan dirinya yang di suruh Farhan untuk memilihkan mobil tersebut.

__ADS_1


"Beruntung banget dia, bisa jadi istri Pak Farhan," gumam sekertaris itu saat sudah masuk ke dalam mobil.


Farhan dan Nayla pun masuk ke dalam mobil. Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena waktu makan siang masih lama.


"Gimana kuliahmu hari ini?" tanya Farhan memecah keheningan di dalam mobil.


Nayla yang tadinya sibuk memandangi jalanan, kini ia menoleh ke arah sang suami, "Alhamdulillah Mas, lancar seperti biasa," jawab Nayla sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau seperti itu," Farhan menoleh sebentar ke arah Nayla.


"Maaf, tadi sepertinya klien Mas Farhan tidak nyaman dengan penampilanku," ucap Nayla, ia teringat waktu makan tadi.


"Sudah enggak usah di pikirkan, yang penting kamu nyaman dengan penampilanmu, tidak masalah mereka mau berfikir yang tidak-tidak juga terserah mereka, yang penting kita bersikap sopan saja," timpal Farhan panjang lebar, ia tidak mau jika Nayla minder.


"Iya Mas," Nayla bahagia mendengar ucapan Farhan.


Tak berapa lama mereka pun sampai di kantor Farhan. Keluar dari mobil saat mereka sudah sampai di parkiran.


Farhan mendekati Nayla, lalu ia meraih sebelah tangam gadis itu. Nayla terkejut, tentu saja ia terkejut dengan perlakuan Farhan, tapi ia tidak menolaknya.


"Eh?" ucap Nayla saking terkejutnya.


Sepanjang perjalanan sampai ke masuk ke dalam ruangan, Farhan tetap menggandeng tangan Nayla tak mau melepaskannya.


Mereka duduk di sofa ruangan Farhan saat keduanya sudah sampai.


"Nay, aku akan sering ngajak kamu ketemu sama klien, kalau pas kamu tidak kuliah, kamu tidak keberatan kan?" tanya Farhan, ia takut jika istrinya itu keberatan saat di ajak bertemu dengan beberapa kliennya.


"Enggak Mas, aku malah seneng, tapi kalau mau bertemu sama klien seperti tadi, Mas Farhan harus kasih tahu dulu, biar aku bisa berpenampilan lebih sopan lagi," ucap Nayla.


"Iya, nanti aku akan kabari. Tadikan tidak sengaja ada kamu di sana dan mereka sempat menanyakan kamu, jadi aku berinisiatif supaya kamu makan bareng kita," beritahu Farhan.


Nayla mengangguk.


"Aku akan kembali bekerja, kamu boleh istirahat atau mau keliling kantor ini juga tidak masalah, biar Rita yang menemani kalau mau keliling," ucap Farhan.

__ADS_1


"Aku di sini aja lah, sambil ngerjain tugas," timpal Nayla, ia memang ada tugas dari kampus, karena sebentar lagi ujian akhir semester.


"Kalau kamu mau istirahat, di sana ada kamar, aku sih jarang menggunakan kamar itu, tapi setiap hari di bersihkan sama OB," beritahu Farhan, ia menunjuk sebuah pintu yang ada di sisi kiri meja kerjanya.


Nayla melihat ke arah telunjuk Farhan, ia tersenyum, "Iya Mas, nanti kalau udah selesai tugasnya biaa aku gunain buat tidur siang," ucapnya sambil tersenyum.


Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing, hingga ketukan dari arah pintu mengalihkan atensi keduanya.


Tok


Tok


Tok


"Masuk," ucap Farhan menyuruh orang yang di luar untuk masuk.


Ternyata seorang OB yang membawa satu gelas jus jeruk beserta cemilan.


"Terimakasih, taruh meja saja," ucap Farhan, ia menunjuk meja depan Nayla dengan ekor matanya.


Setelah menaruh minuman itu, OB tersebut keluar dari ruangan Farhan.


"Ini buat aku? Buat Mas Farhan?" tanya Nayla, pasalnya hanya ada satu gelas minuman.


"Aku biasa minum air putih, kebetulan di kulkas hanya ada air putih saja, jadi aku nyuruh OB buatkan minuman untuk kamu," ucap Farhan, ia menatap Nayla yang juga menatapnya.


"Terimakasih Mas," timpal Nayla sambil tersenyum. Farhan pun tersenyum dan mengangguk, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


¤¤¤


Sore hari, Farhan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Merengganhkan otot-otot yang terasa kaku karena seharian bekerja, ia tidak bisa membayangkan jika jadi berbulan madu, pasti pekerjaannya akan bertambah banyak, pikirnya. Baru saja beberapa hari ia cuti saja pekerjaannya sudah menumpuk, bahkan saat di rumah ia juga masih harus bekerja.


Farhan beranjak dari duduknya, langkahnya tertuju ke arah ruangan yang ada di dalam ruangan itu, di mana istrinya ada di sana. Setelah menyelesaikan tugasnya, Nayla masuk ke dalam kamar, ia bosan jika harus menunggu Farhan yang sedang bekerja, jadi ia memilih untuk istirahat.


Farhan menggelengkan kepala melihat Nayla tertidur, dengan buku yang ada di atas dadanya. Sepertinya gadis itu tertidur setelah membaca buku. Farhan mengambil buku tersebut, ia mengernyitkan dahinya saat mengetahui buku apa yang di baca oleh Nayla, tak lama kemudia ia tersenyum. Pasalnya buku yang di baca sang istri berisi tentang bagaimana menjadi istri yang baik.

__ADS_1


Farhan meletakkan buku tersebut, lalu ia beralih memandang wajah polos sang istri, menyingkirkan anak rambut yang mengahalangi wajah cantiknya. Farhan baru sadar jika gadis yang selama ini ia anggap sebagai adik itu terlihat cantik, bahkan saat tidur pun ia terlihat cantik. Ia menyusuri setiap wajah sang istri, dari mata hidung hingga bibir yang berwarna merah muda tanpa polesan itu.


Bersambung.....


__ADS_2