Sincerely Love Nayla

Sincerely Love Nayla
Kasihan Anak Kita


__ADS_3

Sepasang suami istri sedang mengadakan pertemuan dengan rekan kerja sang suami. Saat dua orang asyik mengobrol tentang bisnis, sang istri minta ijin untuk menemui seseorang, karena ia sempat melihat seseorang yang dia kenal.


"Mas, aku ke sana dulu ya sebentar," ucapnya pada sang suami, "Maaf saya tinggal sebentar ya Pak," kini tatapannya beralih ke klien sang suami dan di angguki oleh mereka berdua.


Tiga orang yang duduk agak jauh dari tempat duduknya, ia mengira wanita berhijab yang ia kenal itu sedang bersama Mama dan saudara laki-lakinya, karena sang lelaki tak terlihat wajahnya.


Perlahan ia menghampiri mereka bertiga yang sepertinya sedang asyik mengobrol sambil menunggu pesanan mereka datang.


"Nayla ya?" tanyanya. Membuat atensi ketiganya menoleh ke arah wanita itu. Mereka bertiga sepertinya terkejut dengan kedatangannya.


"Eh ada Tante juga," wanita itu memang mengenal Mama Adela karena beberapa kali bertemu.


"Sherena ya? Apa kabar, lama sekali tidak berjumpa," Adela menyapa wanita yang terlihat tengah hamil seperti putrinya dengan ramah. Ya dia Sherena, mantan kekasih Farhan. Adela beberapakali bertemu karena Farhan sering mengajak Sherena ke rumah Adela sebelum Fahri putra Mama Adela menikah, tepatnya saat mereka masih kuliah.


"Alhamdulillah baik Tan, Tante gimana kabarnya, kalian juga gimana kabarnya?" tanyanya menoleh satu persatu dari ketiganya.


"Alhamdulillah kami baik," hanya Adela yang menjawab pertanyaan Sherena.


"Nayla makin cantik aja pake hijab, jadi iri. Akhirnya cita-cita Farhan buat punya istri yang berhijab kesampaian juga," ucap Sherena tersenyum ke arah Nayla.


"Makasih Kak," Nayla membalas senyum Sherena sekilas, lalu ia kembali menatap wajah sang suami yang sepertinya kurang nyaman dengan kondisi saat ini.


"Maaf kalau mengganggu kalian, kalau gitu aku permisi aja deh," merasa tidak enak karena sepasang suami istri yang berada di hadapannya terlihat canggung dengan kehadirannya.


"Duduklah dulu, santai aja, kami tidak terganggu kok, lagian makanan juga baru di pesan," Mama Adela mempersilakan Sherena untuk duduk.


Dengan sungkan Sherena duduk di sisi Adela, "Kamu sama siapa Ren?" tanya Adela.

__ADS_1


Sherena menunjuk dua orang yang asyik mengobrol sedikit jauh dari meja mereka, "Suamiku Tan," jawabnya.


Adela menatap dua orang yang terlihat sedang asyik berdiskusi itu, "Tante kira kamu mau nikah sama Farhan, eh ternyata dia malah nikah sama anak Tante," Adela memang tidak tahu kejadian hampir dua tahun lalu, karena Nayla belum pernah menceritakan kenapa ia bisa menikah dengan Farhan.


Sherena semakin tidak enak apalagi melihat Nayla dan Farhan sepertinya tidak nyaman dengan kehadirannya. "Bukan jodoh Tan," jawabnya.


"Berapa bulan usia kandungan mu saat ini?" sepertinya Adela tidak merasakan adanya kecanggungan di sana.


"Tujuh Tan, kalau Nayla berapa?"


"Delapan bulan, perkiraan bulan depan lahiran," bukan Nayla yang menjawab tapi Adela.


Tak berapa lama makanan pun datang, akhirnya Sherena memilih untuk kembali ke tempat sang suami, ia tidak mau mengganggu acara makan siang mereka. Ia tidak menyangkan jika laki-laki yang bersama dua orang yang ia kenal itu adalah Farhan, karena ia mengira laki-laki itu Irfan.


Farhan bernafas lega saat mengetahui kenyataan jika Sherena sudah menerima suaminya, apalagi saat ini Sherena sedang mengandung. Farhan bisa menebak jika Sherena sudah mencintai sang suami dan melupakan dirinya. Tidak seperti beberapa bulan lalu saat mereka bertemu, Sherena yang masih mengharapkan dirinya.


Sontak sang Mama menoleh ke arah putrinya itu, "Kamu cemburu?" tanya sang Mama.


Nayla menggeleng, "Enggak, buat apa juga cemburu Ma," menyantap makanannya tanpa menatap sang suami.


Farhan hanya menghela nafas, ia sudah tahu apa yang akan terjadi setelah ini, apalagi Mama Adela akan pulang ke rumahnya, ia sudah meminta Irfan untuk menjemput di mall tersebut.


Setelah menyelesaikan makan mereka, akhirnya mereka pun kembali ke rumah karena Irfan sudah datang menjemput sang Mama.


Selama perjalanan Nayla tampak diam, bahkan memilih untuk melihat jalanan dan mengabaikan sang suami. Padahal biasanya saat berdua seperti ini, Nayla selalu menyender di bahu sang suami, hingga mobil sampai halaman rumah.


"Sayang, kamu marah sama Mas?" tanya Farhan, ia mengusap pipi sang istri supaya menghadap dirinya.

__ADS_1


Saat ini lampu lalu lintas sedang berwarna merah, apalagi jalanan juga terlihat macet, terbukti lampu merah masih sekitar tiga ratus meter dari mobil Farhan.


"Enggak," jawab Nayla tanpa menoleh.


"Kalau enggak marah coba hadap sini," titah Farhan.


Nayla bergeming, ia enggan menoleh ke arah sang suami. Wanita hamil memang begitu, selalu berubah-ubah moodnya. Hatinya mudah rapuh, bahkan hanya dengan sikap seseorang saja bisa membuat hatinya melengkung.


Farhan menghela nafas, ia kembali fokus dengan kemudinya, karena lampu sudah berubah warna. Ia akan menyelesaikan ini nanti di rumah, karena jika di jalan hasilnya tidak akan baik.


Setelah cukup lama di jalanan, akhirnya mereka pun sampai di rumah. Nayla keluar saat mobil berhenti, membanting pintu mobil hingga membuat Farhan terkejut. Farhan langsung mengejar sang istri, karena Nayla berjalan dengan tergesa-gesa, takut terjadi sesuatu dengan istrinya itu.


Benar saja, Nayla berlari sambil menaiki anak tangga, "Sayang, jangan lari, kalau terpeleset gimana? Hati-hati sayang," teriak Farhan sambil mengejar sang istri yang tampak kualahan sambil berlari menaiki anak tangga.


Farhan berhasil meraih tangan istrinya, menghentikan laju Nayla, lalu menuntun sang istri sampai ke dalam kamar. Nayla tidak menolak dengan perlakuan Farhan. Mendudukkan sang istri di atas ranjang, lalu ia berlutut di hadapan istri tercintanya itu.


"Maaf kalau sikap Mas, membuat kamu marah," ucapnya sambil menggenggam kedua tangan sang istri dan menatap lekat wajah sang istri.


"Kamu nyesel ya? Sherena hamil dia masih cantik dan seksi, tapi aku? Berat badan makin membengkak," ucap Nayla, ternyata dia tidak percaya diri saat melihat Sherena tadi. Memang Sherena terlihat cantik, bahkan yang bertambah besar hanya perutnya saja, seluruh badannya masih sama seperti dulu. Tidak seperti Nayla, setelah hamil berat badannya semakin bertambah hingga saat ini.


"Kok kamu ngomong gitu sih sayang, aku enggak pernah menyesal, kamu kaya gini juga untuk anak kita, soal gemuk atau langsing buat Mas tidak masalah yang penting kamu dan anak kita sehat," tutur Farhan.


"Mas tadi juga keliatan gimana gitu pas ketemu Sherena, seperti salah tingkah, Mas masih cinta ya sama dia?" tuding Nayla, wanita hamil itu merasa jika sang suami masih mencintai mantannya.


"Tadi Mas cuma enggak enak aja, Mas sudah tidak ada perasaan apapun sama dia sayang, percayalah, itu cuma masa lalu," Farhan mengecup beberapa kali punggung tangan istrinya, lalu ia duduk di sisi sang istri, merengkuh tubuh sang istri kedalam pelukannya.


"Tidak usah pikirkan hal-hal yang membuat kamu marah, kasian anak kita, dia juga pasti marah dst Mamanya marah, sudah ya. Mas sayang dan cintanya cuma sama kamu," ucap Farhan masih setia memeluk sang istri.

__ADS_1


Nayla mengangguk, ia percaya kepada suaminya. Tadi entah kenapa ia rasanya ingin marah pada Farhan, padahal Farhan hanya diam saja karena Sherena berbincang-bincang dengan sang Mama.


__ADS_2