Sistem Kultivasi Sedekah

Sistem Kultivasi Sedekah
Pengepungan


__ADS_3

Setelah menstabilkan kondisinya, makelar tanah datang bersama pemilik sebelumnya. Mereka menyelesaikan transaksi dengan cepat dan mudah. Ye Xuan segera kembali ke Sekte Tianlong untuk mengambil barang-barangnya.


Lahannya berada di sebelah selatan Kota Lianyun tapi masih dalam lingkungan kota. Karena itu tidak ada bandit gunung yang berani menyergapnya, meski begitu Ye Xuan tetap waspada.


Setelah mengambil semua perlengkapan, Ye Xuan mulai menata tempatnya dibantu Wutu Sachuan dan Wen Lu yang tidak hadir di pelajaran hari kedua. Selama satu bulan mereka hanya latihan fisik sekaligus membereskan rumput di lahan seluas 8 hektar itu. Harga tanah ini sangat murah karena sudah tidak terurus puluhan tahun.


[+4 Fisik, +3 Stamina, +2 Kelincahan, +2 Qi.]


Selama sebulan Ye Xuan berhasil meningkatkan kekuatannya, di sela-sela waktunya membereskan lahan dia juga menjual ramuan herbal. 72 Poin Sedekah berhasil dikumpulkan karena banyaknya ramuan herbal yang menolong orang.


[Resep Ramuan / Obat Herbal


- Obat Pemulihan Luka Luar


- Ramuan Peningkatan Bakat tingkat rendah


- Ramuan Konsentrasi


- Ramuan Stamina.]


Ramuan dan obat punya bentuk yang berbeda, obat bisa berupa bubuk atau cair tapi sedikit kental, sedangkan ramuan berbentuk cair atau obat yang di dominasi oleh air.


4 resep yang diakui sistem, Ye Xuan bisa dengan sempurna membuat keempatnya. Dia tidak mengerti mengapa hanya 4 yang diakui, padahal dia sudah membuat banyak obat-obatan dan ramuan herbal.


“Tidak ada gunanya memikirkan itu.” Ye Xuan mendekati Wen Lu yang membajak tanah layaknya petani.


“Apa sudah siap?” tanyanya dengan suara keras.


Wen Lu yang kelelahan menjawab dengan nada rendah, “Sudah. Kapan kita menanamnya?” tanyanya sambil melempar tubuhnya ke tanah. Dia baru sadar sudah bekerja selama 6 jam tanpa istirahat.


“Apa lagi yang kau tunggu, ayo lakukan sekarang!” ucap Wutu Sachuan yang mengangkat sekarung bibit pohon coklat.


“Ayo kita lakukan!” kata Ye Xuan dengan penuh semangat.


Wen Lu dengan lesu mengepalkan tangannya dan berkata, “Ayo kita lakukan. Apa sebenarnya aku salah pergaulan, huh.”

__ADS_1


Tombak kebanggaan Wen Lu digunakan untuk membuat lubang di tanah, sehingga bibit pohon bisa di tanam dengan baik. Wutu Sachuan dengan penuh semangat menancapkan bibit dan mengubur akarnya.


Ye Xuan hanya bisa membatu karena semuanya sudah dilakukan, dia membantu sesekali dan kemudian tersingkirkan. “Sepertinya aku tidak dapat pekerjaan.” Dia pergi menuju gubuk di atas bukit untuk mengambil beberapa bahan herbal untuk membuat Ramuan Stamina. Kemudian membuat masakan sederhana dari daging rusa untuk makan malam semua orang.


Tidak berasa hari sudah beranjak malam, Ye Xuan memberi dua saudaranya itu makan malam istimewa karena dia memasaknya sendiri. Sebagai pria lajang di kehidupan sebelumnya, Ye Xuan terbiasa dengan masak sendiri.


Ketiganya melahap semua makanan dan segera meminum ramuan stamina. Situasi nyaman itu tidak bertahan lama, 20 bandit gunung yang mengetahui keberadaan mereka sudah mengepung wilayah Ye Xuan.


“Bukankah sudah aku katakan, 11 bulan lagi aku akan mendatangi bajingan itu!” kata Ye Xuan sambil menarik pedangnya.


Pedang yang awalnya berkarat sekarang sudah sepenuhnya bersih, Pedang Sky Splitter telah pulih dan siap menegakkan keadilan. Warna pedangnya belum terlihat jelas, tapi Ye Xuan bisa melihat pedang itu adalah biru langit.


Wen Lu dan Wutu Sachuan segera mengeluarkan senjatanya, mereka sudah berlatih sekuat tenaga supaya tidak menjadi beban Ye Xuan. Namun bakat mereka terbatas untuk mengejar monster bernama Ye Xuan.


“Kalian lanjutkan makan, biar aku menyelesaikannya.” Ye Xuan sudah lama tidak menggerakkan tangannya membantai para bandit.


Tanpa pikir panjang dia keluar gubuk dan segera menerjang salah satu bandit. Domain Qi digunakan untuk memprediksi arah serangan lawan, Langkah Bayangan juga digunakan untuk segera mengeksekusi musuhnya.


Tebasan pedangnya berhasil mengirim salah satu bandit ke pintu neraka, Ye Xuan tidak puas dengan satu orang. Matanya segera berpindah ke target selanjutnya. Tangannya terus berayun, menebas, dan menusuk musuh yang mengepungnya.


[+ 1 Poin Sedekah, membunuh bandit yang meresahkan masyarakat.]


Hanya dalam beberapa menit Ye Xuan membantai seluruh bandit yang mengepung wilayahnya. “Huh, tidak ada yang menarik. Tapi aku butuh Poin Sedekah yang mereka berikan.”


Setelah mengeksekusi semua bandit Ye Xuan mendapat 20 Poin Sedekah. Semua bandit itu sudah meresahkan masyarakat sekitar, jadi dia berhak mendapat Poin Sedekah.


Malam itu terasa dingin karena noda darah yang tersebar di lahannya. Namun Ye Xuan tidak menyesali perbuatannya, dia punya dendam yang mendalam pada para bandit di bawah komando Qin Lou.


Melihat banyaknya Poin Sedekah yang dia miliki, Ye Xuan memilih untuk meningkatkan Kelincahan sebanyak 40 poin.


[Penambahan berhasil, dikarenakan penambahan terlalu besar, efek samping akan diterima pengguna.]


“Efek samping?”


Sebelum mendapat jawabannya, seluruh tubuh Ye Xuan terasa sangat sakit. Dia tak kuasa menahan sakitnya dan membuat tubuhnya terjatuh ke tanah serta menggeliat layaknya cacing kepanasan. Setiap ototnya di tarik dan di peras hingga mengeluarkan kotoran hitam, Ye Xuan tidak ingin menarik perhatian dua saudaranya dia hanya meringis dan membungkam mulutnya dengan lengan bajunya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Ye Xuan akhirnya menyadari sesuatu. “Sial, ternyata penambahan tiba-tiba bisa sangat menyakitkan.”


Namun dia puas karena 3 statusnya berada di atas 100 poin. Sekarang melawan ranah Inti Emas tahap awal bukan lagi masalah. Ye Xuan mengepalkan kedua tangannya, dia harus menahan diri untuk melawan Qin Lou tahun depan.


Setelah melihat lereng bukit, Ye Xuan melihat sekelompok orang menuju pekarangannya. Mereka seperti pengungsi yang berasal dari Kota Lianyun bagian utara, setelah diperhatikan lebih teliti ternyata ada ayah dan ibu Wutu Sachuan.


Ye Xuan melompat dan segera menyambut kedatangan kelompok orang itu. “Paman, apa yang membuatmu datang semalam ini?” tanya Ye Xuan dengan nada sopan.


“Nak Ye, aku datang sesuai permintaanmu. Mereka warga desa yang sudah kehilangan rumahnya.” Ayah Wutu Sachuan sudah memulihkan sebagian kultivasinya, jadi dia bisa memandu para pengungsi menemui Ye Xuan.


“Karena sudah malam, ayo istirahat dulu di atas bukit.” Ye Xuan memimpin jalan menuju gubuk di atas bukit.


Lebih dari 60 pengungsi berhasil di selamatkan, Ye Xuan memberi mereka semua makanan dan pakaian yang layak. Karena uangnya terbatas, Ye Xuan hanya bisa mengandalkan para pengungsi untuk membuat rumah mereka sendiri di bukit atau dekat kebun.


Semua orang mendapat pekerjaannya masing-masing, meski rumah mereka hanya terbuat dari kayu dan anyaman babu, semua orang bersyukur bisa selamat. Awalnya desa mereka memiliki lebih dari 300 penduduk, tapi karena serangan bandit semuanya telah ke surga.


[Menolong Pengungsi dengan segenap jiwa dan raga, +100 Poin Sedekah, +50 Reputasi.]


“Wow, sejak kapan kamu menjadi...” Ye Xuan tidak menyelesaikan perkataannya. Dia berhenti karena teringat kejadian tempo hari saat Poin Sedekahnya di kurangi.


Meski bakat semua orang cukup rendah, Ye Xuan memberi ramuan yang cocok untuk memulihkan semua luka. Dia juga memberi 10 orang Ramuan Peningkatan Bakat. Walaupun tidak dapat mendorong mereka masuk ke ranah Pendirian, setidaknya 10 orang itu berhasil menerobos ke ranah Pengumpulan Qi tingkat 9.


Semua orang tampak menikmati hidupnya, tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama. 50 bandit gunung menyerbu wilayahnya. Ye Xuan melompat dari kasurnya dan segera keluar rumah, begitu pula dengan Wutu Sachuan dan kedua orang tuannya. Sedangkan Wen Lu sudah bergerak dulu karena tangannya sangat gatal.


Melihat kelompok Ye Xuan terlalu mendominasi, ketua kelompok penyerang memilih untuk mengubah targetnya. “Serang orang-orang lemah itu!” teriaknya.


Semua bandit yang siap berkorban untuk kelompoknya segera menyerang para orang tua dan beberapa generasi muda. 10 orang yang ditolong Ye Xuan mengerahkan seluruh kekuatannya tapi tetap saja berakhir terluka parah.


Ye Xuan berjuang sekuat tenaga menyelamatkan seluruh pengungsi, tapi setelah berhasil menghentikan bandit wajahnya tampak murung. 2 orang tua dari kelompok pengungsi tidak lagi bisa ditolong, mereka mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan generasi muda.


Ayah Wutu Sachuan hanya bisa tertunduk karena kecepatannya sangat terbatas. Kelompok musuh lebih banyak dari yang diperkitarkan, meski hanya ranah Pendirian mereka semua sangat merepotkan.


Matahari pagi mulai muncul, tapi suasana di wilayahnya terlihat suram. Ye Xuan menguburkan dua mayat pengungsi dengan baik, kemudian menaruh batu besar untuk mengenang jasanya.


“Mulai sekarang kalian adalah pahlawan. Tenanglah di surga sana.” Ye Xuan menundukkan kepala di depan batu nisan dua orang tua itu. Semua penduduk menundukkan kepala demi memberikan penghormatan terakhir untuk keduanya.

__ADS_1


__ADS_2