Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
Prolog


__ADS_3

Assalamu'alaikum 👋


🤗HAPPY READING GUYS🤗


......................


Shanum Aida Nevandra, gadis cantik berhijab berusia 15 tahun yang polos dan pemberani namun sangat cerewet dan menyebalkan tapi hanya kepada sang kakak saja dia seperti itu. Wanita itu sering disapa dengan nama Shanum oleh keluarganya, namun dia selalu kesal jika ada orang memanggilnya dengan sebutan itu dan lebih senang jika dipanggil dengan nama Aida. Alasannya karena nama itu tak enak didengar, aneh bukan?


Wanita yang disapa Aida itu juga memiliki kakak laki-laki bernama Adnan Haidar Nevandra yang kini berusia 20 tahun. Adnan sangat menyayangi Aida dan selalu memanjakan adik perempuannya itu karena Aida memanglah anak yang penurut. Adnan juga sedang berkuliah di Universitas Indonesia Merdeka dengan mengambil jurusan kedokteran mengikuti jejak sang ayah.


Aida juga memiliki adik kecil yang baru berusia 5 tahun. Namanya Alvian Halim Nevandra, yang saat ini juga baru memasuki sekolah TK. Jarak usia antara Aida dengan Alvian memang sangatlah jauh. Karena saat itupun mereka tak menyangka akan memiliki anggota keluarga baru disaat usia sang bunda yang memang sudah 40 tahun. Namun dengan seizin Allah, keluarga itu diberi kepercayaan untuk memiliki 1 orang anak lagi.


Ayah mereka bernama Arkana Nevandra atau biasa disapa dengan nama Arka yang kini sudah berusia 45 tahun, beliau adalah seorang dokter umum yang bekerja di rumah sakit miliknya sendiri. Sementara bunda mereka bernama Larasati atau biasa disapa dengan nama Laras adalah seorang pengacara. Namun semenjak Alvian lahir, beliau tidak diizinkan lagi bekerja oleh Arka dan menyuruh untuk fokus pada pertumbuhan Alvian saja.


Arka dan Laras memang bersahabat sejak SMP dan ketika tumbuh remaja, keduanya merasakan adanya benih-benih cinta yang timbul. Pada saat lulus SMA, Arka tidak bisa lagi menahan perasaanya terhadap sahabatnya itu dan menyatakan cintanya di saat wisuda.


Mereka berpacaran selama 4 tahun dan pada saat keduanya lulus S1, Arka melamar Laras dan akhirnya mereka menikah setelah beberapa bulan lamaran itu terjadi. Selama pernikahan itu keduanya sangat menantikan sang buah hati, namun Allah belum memberinya kepercayaan. Akhirnya setelah 3 tahun penantiannya, merekapun diberi kepercayaan oleh Allah memiliki seorang putra yang tampan dan sangat pemberani yaitu Adnan Haidar Nevandra.


......................


Pagi yang cerah itu, Aida terlihat sangat gembira sambil menuruni anak tangga menuju meja makan. Dia memang baru ingin masuk SMA yang bernama SMA Garuda Pancasila yang bisa ditempuh dengan waktu 15 menit saja dari rumah. Jadi dia sangat bersemangat mengikuti MOS hari pertamanya.


Sang bunda pun menatap heran ke arah putrinya itu karena yang terlihat sangat ceria tidak seperti biasanya.


"Kamu kenapa kak? Seneng banget nih kayaknya" tanya sang bunda kepada Aida sambil menaik-turunkan alisnya. Dan yang lainpun ikut menatap Aida menunggu jawaban yang diberikan oleh Aida

__ADS_1


"Kakak seneng dong bun, kan ini hari pertama kakak masuk SMA. Pasti seru dehh kegiatan MOS nya nanti" jawab Aida dengan wajah yang masih ceria


Mendengar jawaban sang anak, Laras hanya menanggapinya dengan senyuman. Sementara yang lain kembali sibuk dengan makanannya masing-masing. Setelah makanan selesai, mereka pun bersiap memulai aktivitasnya pagi ini.


"Ayah berangkat dulu ya bun, dek, kak, bang" pamit Arka pada Laras dan ketiga anaknya itu sambil mengulurkan tangannya lalu disambut dengan Laras dan ketiga anaknya lalu diciumnya punggung tangan lelaki berusia 45 tahun itu.


"Hati-hati ya ayah" ucap Laras, Adnan, Aida dan Alvian berbarengan pada sang ayah. Ayah pun hanya membalasnya dengan senyuman


Ayah memang selalu berangkat pagi sekali jam 6.40 setelah selesai sarapan, karena tanggung jawabnya yang besar dalam menangani pasien, itulah mengapa Arka selalu berangkat pagi-pagi dan pulang pun sudah cukup larut malam.


Aida pun turun dari kamarnya setelah tadi memeriksa barang bawaannya untuk sekolah. Dia pun mencari-cari keberadaan Adnan yang ternyata sedang duduk santai diruang tamu sambil menunggu Aida dan merekapun ke depan bersama.


Sesampainya di depan pintu, disana sudah ada sang Bunda yang sedang menunggu Alvian untuk memakai sepatu, karena Alvian memanglah selalu diantar oleh bundanya itu.


"Oh iya, lagian kita juga udah mau berangkat kok. Ini tinggal nunggu Alvian pake sepatu doang" jawab Laras dengan mata fokus memperhatikan Alvian yang sedang memakai sepatu


"Ya udah kita bareng aja ke garasinya" Adnan membuka suaranya yang sedari tadi hanya diam saja


"Ya udah ayo" jawab sang bunda yang sekarang sudah menatap kedua anaknya yang besar itu dan berlalu duluan ke garasi yang diikuti oleh ketiga anaknya itu. Setelah itu, mereka berangkat ke arah tujuan masing-masing.


......................


Di perjalanan, Aida terus saja mengembangkan senyumannya. Sedangkan sang kakak sedari tadi hanya fokus menyetir mobil. Akhirnya sang kakak mengajak bicara pada Aida agar suasananya tidak bosan.


"De, ntar kamu mau ambil jurusan apa nih?" tanya Adnan

__ADS_1


"Hmm, kayaknya bahasa deh bang. Kan abang tau sendiri kalo aku suka nulis" jawab Aida


"Kenapa ga IPA aja sih?! Biar jadi dokter kayak ayah" sanggah Adnan, pasalnya ia memang tak suka jika adiknya itu sebagai penulis. Katanya, karena penghasilannya tidak seberapa jika dibandingkan dengan dokter. Sementara orang tua Aida selalu mendukung apapun keputusan terbaik yang dipilih oleh sang anak.


"Ihh, suka-suka aku dong bang, ini kan cita-cita aku yang pengen jadi penulis" jawab Aida dengan nada yang sedikit kesal


"Ya tapi kan-" belum juga Adnan selesai bicara, namun Aida sudah memotongnya terlebih dahulu


"Apa? Soal penghasilan lagi?! Kalau soal itu mah serahin aja sama Allah bang, kan rezeki Allah yang ngatur" kata Aida dengan nada yang masih kesal


"Wihh tumben nih adek abang ngomong pake nama Allah, kalo udah bawa-bawa nama Allah mahh abang ngalah aja deh" Jawab Adnan sambil mengelus kepala sang adik yang terbalut dengan hijab itu menggunakan tangan kirinya


"Nahh gitu dong, ini baru abang Adnannya Aida" kata Aida dengan senyum yang kembali merekah sambil memeluk lengan sang kakak


"Iya deh iyaa, maafin abang yaa, jangan ngambek lagi, ok?" jawab Adnan sambil mengelus lengan sang adik dan mencium pucuk kepala Aida


Tak terasa setelah perdebatan itu, ternyata mereka akhirnya sampai di sekolah Aida


"Ya udah masuk gihh, ntar telat loh hari pertamanya" kata Adnan


"Ehh iya bang, ya udah aku masuk ya" pamit Aida dan langsung bangun dari pelukan sang kakak sambil mengulurkan tangannya pada Adnan


Lalu Aida pun keluar dari mobil, sementara sang kakak sudah berlalu menuju kampusnya dengan kecepatan yang sedikit tinggi karena sebentar lagi mata kuliah akan dimulai.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2