
...Adara mencari tahu tentang Tiffany melalui sosial media, di sosmed nama Tiffany seakan tidak asing di beberapa orang. Ia seringkali seolah menjadi independent woman dengan memamerkan hartanya yang bisa sukses di usia muda. Dan ternyata uang itu berasal dari sugar Daddy....
...Sungguh sangat disayangkan, dengan kecantikannya Tiffany memilih untuk kaya lebih instan dari pada harus merintis terlebih dahulu....
Adara mencoba menghubungi Tiffany lewat sebuah pesan singkat.
"Hallo, Tiffany aku Adara. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu."
Namun tidak ada balasan dari Tiffany.
...Sementara itu Gevan dan Brian bertemu di lapas, tempat dimana Excel di tahan. Gevan membawakan makam siang untuk sahabatnya yang mana dahulu mereka sering bersama dalam suka dan duka....
...Gevan dan Brian masuk lalu bertemu dengan Excel, tampak tubuh Excel menjadi lebih kurus dari sebelumnya. Melihat itu Gevan merasa prihatin....
"Gevan.." Sapa Excel.
"Cel, gimana kabar Lo." Tanya Gevan.
"Gue baik Van.." Excel memeluk Gevan spontan.
"Maafkan kesalahan gue Van, Gue kebawa nafsu sesaat. Bahkan saat gue tertimpa masalah seperti ini Tiffany tidak sekalipun jenguk gue." Ungkap Excel.
"Jujur, dalam hati gue Lo udah gue maafkan. Tapi sorry gue belum bisa bebasin Lo dari sini, Karena ini semua harus gue perhitungkan lagi bersama keluarga." Kata Gevan.
"Gapapa gue di penjara, asalkan kalian tidak meninggalkan gue. Dan kita tetap menjadi keluarga." Pinta Excel.
"Sampai kapanpun Lo akan tetap jadi sodara kita, satu kesalahan gak bisa menghapus seribu kebaikan yang Lo kasih ke gue." Ucap Gevan.
"Iya cel, asalkan Lo berubah. Jangan langsung bertindak sebelum Lo cari tahu yang sebenar benarnya." Brian menimpali.
"Terimakasih banyak atas kesempatan kedua yang kalian kasih, gue janji gak akan kecewain Lo berdua lagi." Excel.merasa terharu dengan solidaritas yang sahabatnya berikan.
"Tapi cel, gue sekalian mau tanya. Lo tahu gak orang ini?" Tanya Gevan lalu memberikan foto.
"Tunggu..." Excel berfikir. "Bokapnya lucky." Sambungnya.
"Hah, seriusan Lo." Ucap Brian melongo.
"Iya, gue pernah anter Lucky ke rumahnya dan dia panggil papa sama orang ini." Jelas Excel.
"Anjrit, kenapa dunia ini sempit banget. Tuhan." Gerutu Gevan.
"Kenapa Lo tanya dia, ini foto sama Tiffany?" Excel baru menyadarinya.
__ADS_1
"Iya, kayaknya foto baru. Soalnya di tanggalnya baru bulan kemarin." Jelas Gevan.
"Gila, tapi emang tajir bener keluarga lucky itu. Mereka punya pertambangan di Samarinda." Kata Excel.
"Gue gak pernah lihat bokap lucky." Timpal Brian.
"Sama gue juga." Sahut Gevan.
"Emang kenapa sih ." Tanya Excel.
"Bokap Lucky punya anak dari Tiffany, karena saat ini dia sedang mengandung."
"Anjing tuh orang.. Untung gak gue nikahi tuh si lakor." Celetuk Excel, tak sadar ada polisi di sekitarnya.
"Ssstt, ada polisi." Tegur Brian.
...Lalu mereka lanjut mengobrol, sampai jam besuk berakhir. Mereka akan merinduka saat saat bersama....
Tiffany membalas pesan Adara.
"Mau ngapain" Tanya Tiffany.
"Aku cuma mau ngobrol aja sama kamu."
"Di Taman kota, dekat rumah sakit sehat sentosa."
"Oke."
...Lalu mereka janjian untuk bertemu di tempat yang sudah mereka tentukan, Adara berharap dengan ngobrol dan mendekati Tiffany bisa sedikit mengurangi masalah....
...Beberapa lama kemudian mereka bertemu, Tiffany merasa tidak nyaman dengan Adara. Ia merasa jika dirinya akan di interogasi....
"Hallo." Sapa Adara.
"Gak usah sok akrab." Sahut Tiffany memalingkan wajah.
"Aku kesini cuma ingin ngobrol sama kamu."
"Apa yang harus di bicarakan? Sudah jelas aku sedang hamil. Dan aku yakin ini anak Gevan." Ucap Tiffany.
"Sabar dulu, kamu duduk dong." Adara menepuk kursi disebelahnya.
"Hmm." Tiffany duduk, namun ia tidak berani untuk menatap Adara.
__ADS_1
"Kamu perlu temen ngobrol atau temen curhat? kamu bicarakan apa yang mau bicarakan. Jangan anggap aku musuh kamu, anggap aja aku itu orang lain yang kamu percaya untuk mendengarkan curhatan kamu." Ucap Adara membuat air mata Tiffany tidak dapat tertahankan.
"Aku capek." Ucap Tiffany lirih, dengan nada terisak.
"Aku capek terus terusan hidup dalam kegelisahan, aku capek hidup dengan kepura-puraan. Aku capek hidup dalam tuntutan, aku capek untuk hidup di dunia ini. Tapi dengan kehadiran bayi yang di dalam kandungan ini aku harus semangat untuk hidup. Agar kelak anakku tidak merasakan kehilangan sosok seorang ibu." Sambung Tiffany sembari terisak.
"Aku capek hidup dalam tekanan, aku bingung kepada siapa aku harus bersandar. Saat ini aku benar benar sendirian, walaupun selalu di manjakan oleh uang. Tapi kesepian selalu menghantui aku." Ia kembali menangis.
"Aku tahu rasanya jadi kamu, tapi hal yang harus kamu lakukan. Yaitu hidup lebih baik untuk anakmu, anak ini membutuhkan sosok ibu. Jangan sampai kamu membuatnya merasakan hal seperti mu."
"Aku bingung.." Ucap Tiffany lirih.
"Aku akan bantu kamu untuk memberikan keadilan untuk kamu dan bayi ini, bagaimanapun masa lalu kamu. Anak ini butuh sosok ayah yang jelas, untuk itu kita sama sama berjuang untuk mendapatkan keadilan itu."
"Tapi tak semudah itu, dia orang yang sangat berpengaruh disini, aku tidak bisa lepas darinya. Dan dia tidak ingin merusak reputasinya hanya karena mengakui anak yang bukan dari istrinya." Kata Tiffany.
"Kita akan lakukan berbagai cara, bahkan kita bisa melibatkan polisi untuk masalah ini. Jangan kamu kira dengan kekuasaannya dia mampu menentukan hidupmu."
"Adara, maafkan aku harus melibatkanmu dalam masalah ini. Tapi aku malu dengan apa yang telah aku perbuat kepada kalian, saat ini aku benar benar bingung."
"Jangan takut, aku akan bantu kamu." Adara memeluk Tiffany yang sedang menangis.
...Tanpa harus bersitegang Tiffany akhirnya bercerita sendiri, ia berfikir kenapa tidak dari awal memilih cara ini. Kejahatan akan luluh oleh kebaikan, kata kata itu yang selalu diingat oleh Adara....
"Aku gak akan marah sama kamu, asalkan kamu mau aku bantu untuk meminta dia bertanggung jawab. Tapi tolong jangan buat kami yang menanggung semua ini." ucap Adara.
"Aku tahu aku salah, tapi jujur dalam setiap malam aku selalu dihantui rasa gelisah. Walaupun didepan kalian aku nyolot tapi di lain waktu aku rapuh."
"I feel you."
" Makasih kamu mau dengerin aku, maafkan atas semua kesalahan ku. Mulai saat ini aku gak akan ganggu Gevan lagi, Gevan tidak pernah menggauliku." Ucap Tiffany merasa lega.
"Akhirnya kita menemukan titik masalahnya, mulai sekarang jadilah temanku." Pinta Adara.
"Are you sure?"
"Yap."
"Aku mau temenan sama kamu." Tiffany memeluk Adara.
...Tidak menyangka sebuah godaan itu akhirnya sudah tidak ada, mereka saling berdamai dengan keadaan yang ada. Hingga saat ini masalahnya adalah ia harus menyelesaikan masalah Tiffany....
...Tanpa harus ada ketegangan, akhirnya masalah dengan Tiffany selesai. Ini merupakan ujian terberat pernikahan mereka. Semoga kedepannya tidak ada masalah seberat ini lagi....
__ADS_1
...Mereka terlalu capek dengan semua ujian yang Tuhan berikan, namun ada hikmah yang mereka ambil dari masalah ini. Kekerasan tidak selamanya menang....