Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
kecewa


__ADS_3

Gevan menemani Adara sampai dirinya ikut tertidur. Lalu Gevan terbangun oleh dering teleponnya yang beberapa kali berbunyi.


Clara missed call.. (10)


Clara menelpon Gevan beberapa kali, saat Gevan melihat jam. Waktu menunjukan pukul 7 malam.


"*Udah malem aja," Gumamnya sambil menatap ke layar ponselnya dan melihat pesan dari Clara.


Hpnya berdering lagi..


"Hallo.." sapa Gevan


"Hallo, van kamu dimana? aku udah sampe di cafe carlos." Ucap Clara dengan nada tinggi.


"Maaf aku gak bisa! Adara lagi sakit." Ucap Gevan pelan.


"Siapa Van? tanya Adara tiba tiba terbangun.


"Ini katanya ada sesuatu di kantor." Ucap Gevan.


"Yaudah pergi aja van, aku gapapa kok disini." Ucap Adara lirih.


"Aku gak enak sama kamu sayang, masa kamu aku tinggal disini sendiri."


"Udah van gapapa."


-


-


"Van!! Hallo."


"Iya, saya segera kesana sekarang." Gevan segera bergegas untuk pergi bertemu dengan Clara. Walaupun dirinya merasa berat untuk meninggalkan istrinya yang sedang sakit.

__ADS_1


Walaupun Adara merasa ada yang aneh, namun ia berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa yang difikirkan olehnya adalah kecurigaan yang biasa terjadi pada umumnya sepasang suami istri.


Sampainya di cafe.


"Hallo sayang, makasih ya udah sempetin waktunya buat aku." Clara segera beranjak dari kursi dan memeluk Gevan.


"Clara, lepasin gak enak sama orang! Tegur Gevan yang menyadari beberapa orang menatapnya.


"Yaudah, yang penting kamu sudah bersedia untuk datang kesini!


Mereka makan bareng, Clara terus mengajak Gevan ngobrol panjang lebar namun Gevan hanya tetap memikirkan istrinya yang ia tinggalkan sendirian dalam keadaan sakit.


"Van! Kamu kenapa? tanya Clara yang melihat Gevan hanya mengacak ngacak makanannya.


"Car, kayaknya aku harus pulang sekarang deh! Adara lagi sakit aku takut dia kenapa-napa."Gevan menyampaikan kekhawatirannya kepada Adara.


"Adara lagi.. Sampai kapan si Van? aku juga butuh kamu disini! Kamu dulu janji buat selalu ada untuk aku. Tapi nyatanya sekarang kamu juga yang mengingkari janji itu." Clara merasa kesal karena melihat Gevan lebih memilih menemani istrinya.


"Bentar Car, aku mau ke toilet dulu." Gevan pergi ke toilet.


"Hallo, " Sapa Clara, ia mengangkat telepon tanpa seijin Gevan.


"Hallo, siapa ini? mana Gevan? Tanya Ibunya panik.


"Gevan lagi ke toilet bu."


"Bilangin suruh dia ke rumah sakit! Ucap Anggita dan langsung mematikan telponnya.


Kemudian Clara menyimpan hp Gevan ke tempat semula dan menghapus panggilan masuknya.


"Car, aku harus segera pergi!


"Van, Tunggu! 10 menit lagi. Habis itu kamu boleh pulang." Ucap Clara.

__ADS_1


Gevan terpaksa duduk kembali ke kursinya, dan setelah selesai. Gevan pulang dengan hati yang cemas memikirkan keadaan Adara.


Setelah sampai rumah, Gevan mencari keberadaan Adara namun tidak ditemukan siapapun di rumah itu. Kemudian setelah satu jam Gevan hanya duduk, Anggita kembali menelpon dirinya.


"*Hallo, ma? .


"Hallo, van! kamu masih dimana? ini mama sama papa udah nungguin kamu dari tadi untuk datang ke rumah sakit tapi kamu tidak dateng juga.! Ucap Anggita menegur Gevan


"Rumah sakit? siapa yang sakit ma? Tanya Gevan panik*.


"Yaampun Gevan! Apa kamu tidak sadar kalo istri kamu itu lagi sakit, kamu tinggalin dia sendirian. Untung mama sama papa segera dateng."


"Gevan segera kesana ma." Gevan langsung mematikan teleponnya dan segera bergegas menuju rumah sakit.


"Kebiasaan anak papah tuh! Selalu saja begitu." Ucap Anggita


"**Lho, papah kok kena imbasnya ma? Tanya Bimo.


Anggita dan Bimo menunggu Adara di luar ruangan, Adara kembali terkena penyakit DBD dan membuatnya harus di rawat selama beberapa hari di rumah sakit itu**.


"*Mah, pah.. Adara mana? tanya Gevan yang baru saja datang dengan nafas yang memburu karena berlari dari lantai satu ke lantai 2.


"Mama kecewa sama kamu Gevan! Bisa bisanya kamu..."


"Ssssttt... Mah, udah nanti kedengeran sama Adara. Aku takut Adara akan ninggalin aku kalo sampai dia tau aku tadi habis bertemu dengan Clara." Gevan menyela pembicaraan ibunya.


"Mama gak habis fikir sama kamu, Adara itu anak yang baik. Dia rela mengakhiri masa remajanya untuk bersenang senang hanya karena untuk menikah dengan kamu Gevan! Ucap Anggita dengan nada pelan.


"Iya ma, Gevan tau Gevan salah! kalo mama tau alasannya mama juga pasti bingung untuk memilih." Ucap Gevan membela diri.


Sementara itu, Bimo hanya terdiam melihat Anggita memarahi Gevan. Ia tidak bisa lagi berkata apa apa untuk menasehati Gevan.


"Permisi bu. Untung saja pasien segera di bawa kesini. Karena kalo tidak (Maaf) mungkin nyawanya tidak akan tertolong di karenakan jumlah trombosit yang terus menerus turun! Apakah pasien sering mimisan?

__ADS_1


"Saya tidak tahu dok, karena dia kelihatan sehat sehat saja dok setelah pulang dari sini dengan kasus yang serupa yaitu DBD." Ucap Gevan yang benar saja tidak melihat Adara sakit. "Hanya saja akhir akhir ini saya melihat dia seperti kurang bersemangat atau lemas dok dan wajahnya yang pucat." tambahnya.


"Justru itu, seringkali demamnya turun tapi juga di sertai dengan penurunan Trombosit. Cenderung mengalami pendarahan dan mengalami syok yang lebih besar." kata dokter tersebut*.


__ADS_2