
...Keesokan harinya, Gevan mendapat telpon dari kepolisian mengenai laporannya. Lalu Gevan langsung pergi ke kantor polisi tanpa pamit kepada Adara....
Nampak Adara belum keluar kamar, ia hanya menitip pesan ke Sumi untuk memberi tahu Adara jika dirinya berangkat ke kantor polisi.
"Bi, tolong bilangin sama Adara! Aku harus ke kantor polisi." Ucap Gevan.
"Den mau sarapan? Bibi belum selesai masak." Ucap Sumi.
",Gak usah bi, saya sarapan di luar aja. Tolong bilangin ya bi." Perintah Gevan.
"Baik den."
Gevan pergi, tak lama Adara turun dan menanyakan keberadaan Gevan.
"Bi, Gevan kemana ya?" tanya Adara.
"Katanya ke kantor polisi non." Sahut Sumi.
"Kebiasaan deh gak ngomong dulu."
"Loh memangnya den Gevan tidak bilang sama non?"
"Nggak bi, kita tidur aja beda kamar."
"Kok bisa non."
"Gak tahu Bi Gevan ngambek."
"Yaudah non sarapan dulu, nanti juga gak bakal marah lagi."
"Iya bi."
...Adara sarapan, sementara itu Gevan sampai di kantor polisi. Untuk membuat laporan polisi....
"Tolong isi formulir ini dulu, alamat dan mama lengkap harus jelas! Dan nama pelaku." Titah polisi itu."
"Baik pak."
...Gevan menuliskan dirinya yang melaporkan atas nama Arif Rahman, karena tidak memungkinkan jika mengatas namakan Tiffany. Kondisinya saja tidak meyakinkan....
...Setelah selesai membuat laporan, Gevan menghubungi Mona untuk memberitahukan apa yang terjadi kepada Tiffany....
"Hallo Van, kenapa?"
"Mon aku cuma mau ngabarin kondisi Tiffany, kamu sudah tahu belum?"
"Nggak Van, emangnya ada apa sama Tiffany? Dari semalam gak ada pulang tuh."
"Tiffany saat ini sedang dirumah sakit, dia dianiaya sama Arif."
"Hah serius Van? "
"Iya Mon, sekarang kamu dimana?"
"Aku di apartemen Tiffany."
"Mau aku jemput gak kita ke rumah sakit bareng bareng."
__ADS_1
"Boleh Van, kamu tahu gak alamat apartemen ini"
"Kamu share loc aja."
"Oke aku Share loc."
...Mona mengirimkan lokasi dimana dia berada, lalu Gevan menjemput Mona. Dirumah sakit sudah ada Brian yang menunggu Tiffany untuk sadar....
...Beberapa lama Gevan sudah berada di apartemen Tiffany lalu ia menunggu Mona keluar di depan, Lalu Mona masuk....
"Van, kamu niat banget jemput aku."
"Yaa sekalian lewat aja, searah kok sama Rumah sakit." Ucap Gevan.
"Emang istri kamu gapapa kalo aku numpang."
"Nggak lah, kita kak gak ada apa apa. Tenang aja."
"Kalo ada apa apa sama hubungan kalian aku gak ikut campur ya!" Canda Mona.
"Tenang aja Mon, kan kita kenal lebih dulu. Kalo mau kenapa gak dari dulu kan."
"Kamu bisa aja, dulu juga kan ada Clara. Eh iya gimana kabarnya dia?"
"Kamu tahu, aku nikah sama saudara tiri Clara. Dunia itu sempit ya!" Kata Gevan.
"Oh ya? Emang sih setahu aku ibunya Clara single parents."
"Iya, makanya dia nikah sama papa mertua aku."
"Hati hati loh sama ipar, apalagi ini mantan terindah."
"Gitu ya, syukur deh kalo udah pada menikah tinggal aku." Sindir Mona.
"Tenang Brian sama Excel belum nikah kok, kamu tinggal pilih salah satu aja dari mereka." Kata Gevan.
"Gak lah Van kan kita cuma temenan, kecuali kamu. Dulu spesial banget ."Mona tertawa.
"Masih inget aja kamu, pasti belum ada yang bisa kalahkan mekanik aku ya!" Kata Gevan membuat Mona mengingat hal yang sering mereka lakukan dulu.
...Belum sempat menjawab, mereka sampai di rumah sakit. Kemudian mereka masuk dan mencari Gevan. Tak di sangka ternyata dirumah sakit itu ada Adara yang baru saja sampai....
"Oh jadi kamu buru buru itu karena ini?" Tanya Adara.
"Nggak lah, aku habis dari kantor polisi. Kebetulan aja ketemu sama Mona."
"Iya, maaf ya sebelumnya tapi kita gak ada hubungan apa apa kok. Dari dulu kita hanya temenan." Mona menimpali.
"Gapapa kok, mau ada hubungan apapun aku gak perduli." Celetuk Adara.
Brian datang, "Loh Mona, Lo ngapain kesini?" Tanya Brian.
"Gue mau jenguk Tiffany, kita kan tinggal serumah." Sahut Mona membuat Adara malu sendiri.
"Jadi kamu serumah sama Tiffany."
"Iya, Mona juga yang kasih semua bukti sama aku." Timpal Gevan.
__ADS_1
"Maaf aku gak tahu, tapi sebelumnya kenapa kamu gak tahu kalo Tiffany terkena musibah." Ucap Adara.
"Dia gak bilang apapun sama gue, bahkan gak pamit saat dia pergi." Balas Mona.
"Yaudah deh, udah jangan ribut. Dari semalam Tiffany masih koma, Kita doakan yang terbaik buat dia." Ucap Brian.
Tak berselang lama, dokter datang kemudian mengabarkan sesuatu.
"Maaf, keluarga Nyonya Tiffany."
"Iya dok kita teman dekatnya." Sahut Brian.
"Maaf, pasien mengalami keguguran. Dan saat ini harus melakukan tindakan kuretase. Apa ada yang bisa bertanda tangan." Kata Dokter.
"Tapi kami bukan anggota keluarganya dok, apa bisa?"
"Bisa, suster tolong kasih surat persetujuannya agar segera ditandatangan."Titah dokter.
"Baik dok." Suster itu pergi lalu membawa surat persetujuan.
Brian memutuskan menyetujuinya dengan bertanda tangan di surat tersebut. Selesai
...Saat tengah tengah akan di operasi tiba tiba saja Tiffany pendarahan, dirinya kehilangan banyak darah sehingga dibutuhkan pendonor....
...Dan tiba tiba saja dokter mengabarkan jika Tiffany sudah meninggal dunia. Karena mengalami dua pendarahan yaitu di bagian otak dan di bagian rahim....
"Maaf, pasien tidak bisa kami selamatkan."
"Kok bisa dok? Bukannya pasien harus di kuretase. Ini gimana pelayanan disini?"
"Maaf Bu, pasien mengalami pendarahan di otak. Bisa jadi itu akibat benturan keras yang terjadi kepada pasien. Apa beliau ini korban kecelakaan?"
"Bukan dok, ini korban kekerasan. Kalo boleh saya minta agar korban di pisum." Pinta Gevan.
"Tiffany, gue gak nyangka bakal secepat ini." Mona merasa lemas, ia hendak pingsan namun ditahan oleh Gevan.
"Mon, kamu gapapa?"Tanya Gevan kemudian mendudukkan Mona di kursi.
...Adara sinis melihat mereka, namun disisi lain ia bigung ia bersedih atas kematian Tiffany yang bahkan belum mendapatkan keadilan untuknya. Namun di satu sisi ia merasa lega karena masalahnya selesai....
"Saya akan melakukan pisum." Ucap Dokter.
"Iya dok, saya mohon. Kasihan korban seorang diri sangat membutuhkan keadialan." Pinta Brian.
"Baik kalo begitu, dan kami akan menyiapkan ambulan untuk membawa pasien."
"Apa boleh kita lihat pasien dok." Tanya Adara.
"Silahkan."
...Mereka masuk untuk melihat jasad Tiffany untuk terakhir kalinya, Adara tidak habis pikir melihat tubuh Tiffany terbujur kaku dengan beberapa luka di bagian wajah, kaki dan tangan....
"Tiffany, terima kasih di hari terakhir kamu bisa lebih baik. Aku bersyukur pernah kenal sama wanita kuat seperti kamu." Ucap Adara.
"Mau bagaimanapun kamu sama kami, kami sudah memaafkan kamu. Yang tenang di sana ya Tiff, we Will always love you." Sambungnya.
"Tiffany maafkan aku, sebagai sahabat aku lalai jaga kamu. Bahkan di hari terakhir kamu aku gak ada disisi kamu." Timpal Mona.
__ADS_1
Ia menangis melihat Tiffany sudah meninggal dunia.