Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
Pertemanan berakhir


__ADS_3

Sial!!! Kenapa gue gak mikirin ini sebelum niat gue balas dendam sama Tiffany."Sesal Gevan saat ini, tanpa pikir panjang hanya karena dendamnya terhadap Tiffany membuatnya salah kaprah.


Gevan terus menerus memukuli tembok, tak lama kemudian Ibunya datang setelah mendengar kabar tentang keadaan Adara.


"Gevan, kamu kenapa? Tanya Anggita yang sedang berjalan kearahnya.


"Ma... Adara ma.. dia meminta pernikahan ini berakhir."Gevan meneteskan air matanya lagi.


"What's happen? kenapa sayang?.. Tanya Anggita kemudian memeluk Gevan.


"Aku sudah gagal menjadi suami sekaligus ayah ma, maafin aku. Aku salah, ini semua salahku."Gevan menangis diperlukan ibunya.


"Jelasin sama mama, ada apa ini sebenarnya Van? Adara gak mungkin seperti ini kalau kamu tidak menyakitinya Van, mama yakin." Anggita meminta penjelasan dari Gevan.


"Ada apa ini ma? Gevan?... Tanya Bimo (Ayah Gevan).


"Mama juga gak tau pa, Gevan terus menangis karena Adara meminta untuk mengakhiri pernikahannya."Sahut Anggita yang sedang menenangkan Gevan.

__ADS_1


"Mama sekarang masuk saja, lihat keadaan Adara dulu. Nanti kita bicarakan ini baik baik ya ma!."Ucap Bimo.


Kemudian Anggita masuk keruangan Adara, dan Gevan pamit untuk pergi keluar.


Setelah itu disusul oleh Bimo yang masuk ke ruang rawat Adara. Anggita melihat Adara yang berbaring dengan sesenggukan, Adara menangis.


Hatinya sakit mendengar pengakuan Gevan, sekaligus menangisi bayinya yang tidak sempat ia lihat.


"Adara, sayang.."Anggita berjalan menuju ranjang tempat Adara dirawat.


Dengan tangan yang dipakai selang infus, Adara mengusap air matanya. Namun itu tidak bisa menutupi kesedihan dimatanya, Anggita merasa ada sesuatu antara Gevan dan Adara.


"Yang sabar Adara sayang, kamu harus kuat. Ini ujian untuk pernikahan kalian, mama juga merasa kehilangan. Apalagi ini cucu dari anak mama satu satunya."Kata Anggita menenangkan Adara dan memeluknya.


"Aku gak bisa kayak gini ma, lebih baik aku ikut bersama bayiku ma."Adara merasa hidupnya hampa.


"Ssstt, sayang kamu gak boleh ngomong kayak gitu. Mama gak suka lihat kamu kayak gini sayang. Bagi mama kamu itu anak mama, mama sayang sama kamu."Anggita lebih merasa sakit hati.

__ADS_1


Bimo juga merasa kehilangan, hanya saja ia tak menampakan air matanya, Namun semua bisa merasakan hal itu.


Sementara itu ayah dan ibu Adara tidak kunjung datang, karena ada kerjaan yang harus diselesaikan diluar kota.


Gevan yang menyusul Brian untuk menemui Excel sampai di Permata residence, dan masuk ke apartemen.


Brughhhh!! Gevan memukul wajah Excel dengan penuh amarah, matanya menyulutkan api dendam atas hilangnya janin yang dikandung Adara.


"Bangs*t, Lo beraninya sama perempuan. PENGECUT!!." Gevan terus memukuli Excel yang diikat oleh Brian.


"Lo yang anj*ng, gue gak akan berbuat kayak gini kalo bukan Lo yang mulai duluan. Lo udah melecehkan Tiffany, dan ini balasan untuk itu."Sahut Excel.


"Tiffany mengadu domba kita cel, asal Lo tau aja. Dia manfaatin Lo untuk bales ini sama gue, lalu kenapa Lo bales ini sama Adara. Dia gak tahu apa apa men, Dan asal Lo tau juga! Gue dan Adara udah kehilangan calon bayi kami. Dan gue gak akan diam aja, lihat pembalasan gue."Ancam Gevan kemudian meninggalkan Excel bersama Brian.


"Dan ingat satu hal lagi, persahabatan kita berakhir. Gue gak sudi satu circle sama bajingan kayak lo."Sambungnya.


Gevan pergi.

__ADS_1


"Cel, hanya gara gara perempuan sialan itu. Lo tega nyakitin perempuan yang baik seperti Adara, Dan Lo bahkan sudah menjadi pembunuh."Ucap Brian.


Setelah itu Brian pergi menyusul Gevan dan Excel teringat dengan kata kata yang diucapkan Brian.


__ADS_2