
...SEMINGGU KEMUDIAN...
Pagi ini, Adara sudah memutuskan untuk menemui Gevan. Adara sudah mempersiapkan dirinya untuk bertemu dan berbicara tentang pernikahan mereka kedepannya.
"Gue harus berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Adara maafin gue. Tapi gue juga harus siap apapun keputusan yang akan Adara ambil, untuk kemungkinan terburuknya." Ucap Gevan sembari melihat kaca.
Disisi lain, Adara bersiap untuk bertemu dengan Gevan. Selama seminggu mereka tidak bertemu, membuat sedikit rasa rindu dihatinya.
"Pa, aku berangkat ya! Aku mau ketemu sama Gevan." Adara pamit ke Wisnu.
"Iya sayang, hati hati. Apapun keputusan kamu papa akan dukung, asalkan kamu bahagia. Tapi ingat pesan papa, kalo kamu ragu kamu minta waktu lagi untuk berpikir matang." Ucap Wisnu sembari memeluk Adara.
"iya pa, bilangin sama mama aku berangkat ya pa." Adara mencium tangan ayahnya.
Adara berangkat diantar oleh supir ayahnya, setelah pulang dari rumah sakit Adara pulang kerumah ayahnya untuk menghindari Gevan.
Diperjalanan, ia berpapasan dengan mobil Aditya.
"Itu Adit bukan ya, Tapi gak mungkin deh kan dia di Aussie." gumamnya sembari menengok ke belakang.
Gevan sudah menunggunya di rumah mereka, harap harap cemas ia menunggu kedatangan istrinya. Entah apa keputusan yang akan Adara lakukan hari ini, Apakah ia akan menceraikan Gevan??.
Adara sampai dirumah, ia melihat pintu rumah yang terbuka menyadari jika Gevan sudah berada di dalam rumah. Adara menarik nafas panjang dan perlahan berjalan ke dalam rumahnya. Banyak kenangan yang tersimpan dirumah ini, namun rasa kecewa telah menyelimuti hatinya.
"Adara.." Gevan melihat kedatangan Adara.
"Gevan.." Ucap Adara kemudian berdiam diri.
"Kenapa diam disitu?." Tanya Gevan heran.
Adara melanjutkan langkah kakinya dan duduk di sofa.
"Adara, akhirnya kita ketemu. Aku kangen kamu." Gevan ingin memeluk Adara namun tangannya di tepis oleh Adara.
Melihat sikap Adara, rasanya kesempatan itu akan sirna.
__ADS_1
"Van, aku kesini cuma mau bilang. Aku mau pergi ge Aussie untuk pendidikan aku, Aku harap kamu bisa menerima itu." Ucap Adara.
Deg!! Dadanya terasa tersentak mendengar pernyataan Adara, air matanya mulai turun membasahi pipi Gevan.
"Kenapa kamu nangis? bukannya ini sudah perjanjian kita dari awal! Bahkan kamu juga melakukannya kan, pacaran dengan orang lain setelah kita menikah."
"Adara, aku nyesel sudah menyia-nyiakan kesempatan itu. Mungkin dulu aku melakukannya karena tidak ada cinta diantara kita. Tapi semakin kesini aku sadar kamu diciptain cuma buat aku, aku gak bisa tanpa kamu!!." Kata Gevan sambil bercucuran air mata.
"Tapi itu sudah terlambat, untuk sekarang aku emang belum ada niatan untuk menceraikan kamu. Tapi yang jelas aku mau melanjutkan sekolah aku yang tertunda." Ucap Adara dengan tenang, tanpa ada air mata.
Adara merasa sudah tidak perlu untuk menangisi hal yang sudah terjadi, ia hanya ingin melanjutkan masa depannya tanpa melihat kebelakang. Walaupun ia tidak menggugat cerai Gevan, namun Adara sudah siap untuk pergi selama beberapa tahun ke negeri orang.
"Tapi apa kamu sudah memaafkan aku? Setidaknya aku tenang kalo kamu sudah memaafkan aku. Kalaupun kamu pergi kita masih bisa berkabar kan sayang." Kata Gevan.
"Untuk saat ini aku belum tahu."
Gevan menggenggam kedua tangan Adara ia menciuminya, berharap hati Adara segera luluh. Ia tahu jika Adara masih sangat mencintai.
"Gevan, maaf aku harus pergi." Adara melepaskan genggaman tangan Gevan.
"Adara sayang, aku mohon maafin aku. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi, aku mohon sayang." Ucap Gevan membuat Adara meneteskan air matanya.
Ia berfikir apa Gevan berkata jujur atau lagi lagi ia akan menyakitinya, rasanya kepercayaan itu sudah hilang setelah apa yang Gevan lakukan.
Adara pergi dengan air mata yang menumpuk di matanya, sekalinya ia berkedip maka jatuhlah air mata.
Ada rasa sayang yang masih besar dihatinya, namun itu tidak membuat Adara menjadi berubah ia akan tetap pergi keluar Negeri. Sekaligus untuk mengobati hatinya.
Adara mampir ke sebuah Cafe untuk memesan kopi kesukaannya bersama Aditya. Sudah lama ia tidak memberi kabar setelah pernikahan Adara dan Gevan.
Aditya memberi jarak kepada Adara karena takut akan ada kesalahpahaman yang terjadi antara Adara dan suaminya. Adara merasa kesepian tanpa sahabatnya.
"Kak, aku pesan Capuccino dingin take away ya kak." Ucap Adara.
"Baik kak, mohon tunggu sebentar kami akan buatkan pesanannya."
__ADS_1
Sembari melihat sosial medianya, Adara fokus ke hp. Sehingga tidak menyadari jika namanya dipanggil oleh kasir.
"mba.. Itu dipanggil." Ucap seseorang yang menepuk pundaknya.
Adara tersadar.
"Iya saya, maaf kak gak denger." Adara menengok kearah seseorang itu.
Betapa kagetnya ia melihat sosok sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.
"Aditya.." Ucapnya merasa senang.
"Adara.. " Ucap Adit yang tak kalah kaget.
"Akhirnya kita ketemu." Adara memeluk sahabatnya.
"Gue kangen sama Lo, gak tenang banget hidup tanpa Lo disisi gue." Ucap Aditya.
"Bisa aja.. Eh gimana kabarnya?." Tanya Adara.
"Baik, Lo sendiri gimana?." Tanya Aditya kembali.
"Gue oke, yaa biasa lah masalah kecil rumah tangga." Ucapnya.
"Gue perlu ngobrol banyak nih. Gimana kalo kita jalan jalan, sekedar cari angin." Ajak Aditya.
"Ide bagus tuh.. Yaudah ayok. Tapi gue kabarin supir dulu biar dia balik duluan." Ucapnya mengiyakan ajakan Aditya.
"Yaudah."
Adara menelpon supirnya untuk pulang terlebih dahulu, ia akan diantar oleh Aditya.
"Eh tapi suami Lo gapapa emang? Takutnya ada salah paham." Tanya Aditya.
"Gak lah, santai aja." Ucap Adara.
__ADS_1
Aditya dan Adara pergi ketempat yang mereka sukai dulu sebelum ia menikah dengan Gevan.