
...Clara dan Lucky datang kerumah bersamaan dengan Wisnu....
"Clara.. kamu kesini sama siapa?" Tanya Wisnu, ia melihat Clara keluar dari mobil.
"Om, aku kesini sama Lucky." Clara mencium tangan ayah tirinya.
"Om." Sapa Lucky yang baru saja keluar dari mobil kemudian mencium tangan Wisnu.
"Syukurlah kalian sudah datang, yasudah. Kita masuk ya!" Kata Wisnu. Lalu mereka masuk bersamaan.
"Assalamualaikum, sayang. Lihat siapa ya v datang ." Sapa Wisnu. Namun Stela sudah menduga itu adalah Clara.
"Waalaikumsalam, mas. Iya aku sudah tahu, aku yang meminta Clara kesini mas." Sahut Stela.
"Mas mau bicara sama kamu sayang, Clara dan Lucky kalian duduk dulu ya! Om mau bicara dulu sama mama kamu." Wisnu memerintah.
"Iya om." Clara dan Lucky duduk.
...Lalu Wisnu membawa Stela ke dapur....
"Sayang, tujuan kamu panggil Clara kesini untuk apa? Apa kamu sudah siap dengan keputusan kamu? Ingat baik baik kata aku. Utamakan kebahagiaan anak kamu, anak kita." Wisnu menasehati Stela.
"Iya mas, kamu tenang saja. Aku sudah memutuskan yang terbaik untuk mereka." Kata Stela sembari tersenyum kecil.
"Yasudah, jangan buat Clara kecewa sama kamu ya! Mas tidak mau melihat kamu dan Clara tidak akur lagi." Ucap Wisnu.
...Lalu mereka kembali ke ruang tamu....
"Gimana kabar kalian?" Tanya Wisnu.
"Kita sehat om." Sahut Lucky.
"Tujuan mama manggil kamu kesini ingin membicarakan tentang pernikahan kalian, tapi mama mau tanya dulu sama lucky. Apa keluarga kamu merestui hubungan kamu sama Clara?" Tanya Stela memastikan.
"Maaf sebelumnya Tante, saya saat ini sedang berusaha meminta restu orang tua saya." Sahut Lucky, ia tak sanggup mengatakan jika hubungannya tidak direstui.
"Kalo seperti itu, apa tidak akan ada masalah kedepannya?" Tanya Wisnu.
"Iya, apa kamu rela menikah tanpa restu orang tua kamu? Kalau saja saya merestui pernikahan kalian." Ucap Stela sontak saja Clara merasa kaget.
"Mama serius? merestui pernikahan kita." Tanya Clara.
__ADS_1
"Apa kalian akan tetap melanjutkan pernikahan ini tanpa restu orang tua lucky? Iya mama merestui pernikahan kalian." Ucap Stela.
...Clara menghampiri Stela lalu memeluknya, ia tak menyangka jika Stela akan merestui pernikahannya dengan lucky....
...Stela meneteskan air matanya, ia rindu suasana seperti ini. Setelah Clara memutuskan untuk pergi dari rumah, ia merasa kesepian....
"Terimakasih banyak mam, mama udah mau mengalah sama aku. Maafkan aku juga selama ini jadi anak yang keras kepala dan pembangkang. Tapi percayakan aku sayang sama mama, dan aku hanya ingin memperjuangkan kebahagiaan aku."
"Iya sayang, mama juga minta maaf sama kamu. Ego mama terlalu tinggi sehingga kita jadi tidak sejalan lagi. Mama sayang kamu Clara." Kata Stela.
"Iya mam."
...Sementara itu Gevan mengirim chat kepada Brian....
"Brian, gimana dong. Mona terus chat gue."
"Gimana ya bro, gue bingung. Disisi lain kasihan Adara dia baru saja tertimpa masalah. Tapi ini juga demi membuktikan kalo Lo bukan anak dari bayi yang di kandung Tiffany." Balas Brian.
"Iya bro, tapi Mona bilang gue cuman nemenin dia doang. Sama seperti dia yang dulu selalu menemani gue disaat lagi galau sama Clara."
"Lo inget kan dulu perlakuan Lo sama Mona gimana? Bukan cuman duduk manis doang, kan One night stand juga. Lupa Lo."
"Yaa gak mungkin lah kalo sekarang, Mona cuma mau bantu gue tapi ada sedikit imbalan untuk dia."
"Ada benarnya juga Lo, biar gue pastikan dulu sama Mona. Setelah itu baru gue ambil keputusan."
"Serah lu."
Lalu, Gevan menelpon Mona di ruangan lain.
"Hallo Gevan, gimana?"
"Mona, gue cuma mastiim kalo Lo gak ada hubungannya kan sama Tiffany."
"Gevan, gue temenan sama Tiffany. Tapi gue gak mau lo di manfaatkan sama dia, sayang sih kalo Tiffany minta Lo tetap menikahi dia. Bekas om om gila."
"Yaa tapi Lo juga memanfaatkan keadaan juga sih sama seperti yang Tiffany lakukan sama gue."
"Beda lah Van. Gue kan temenan udah lama sama Lo, Gue kangen aja kalo kita bareng. Kalo gak gini deh, gue cuma minta Lo selalu ada disaat gue butuh."
"Itu doang Mon? Lo gak minta yang berlebihan kan? Gue gak mau lagi merusak kepercayaan yang istri gue berikan. Dan gue juga mau stop menyakiti perasaannya, persoalan di hidupnya berat ditambal kalo gue bikin masalah lagi."
__ADS_1
"Tenang aja Van, gue juga udah berubah pikiran kok. Gue cuman mau Lo selalu ada saat gue butuh Lo, dan kalo Lo mau ngajak istri Lo ketemu gue juga gapapa kok."
"Bener ya Mon, gue pegang kata kata Lo. Tapi gue minta tolong, minta bukti Tiffany dengan om om yang Lo sebut."
"Gue gak bisa ngomong di telpon, kita ketemu aja besok. Lo bisa bawa istri Lo kalo Lo mau."
"Oke, besok gue akan pulang ke rumah. Lo tinggal kerumah gue aja nanti gue kirimin alamatnya. Dan gue minta Lo jangan ngomong apa apa tentang masalalu kita sama istri gue."
"Tenang aja Van, Aman kok."
"Yaudah, gue tutup telponnya Mon."
"Iya Van."
...Gevan menutup telponnya, lalu ia kembali ke kamar dan tidur memeluk istrinya....
"Lo abis telponan sama siapa Mon?" Tanya Tiffany membuat Mona terkejut.
"Teman gue Tiff, kenapa emang?"
"Kok Lo nyebut Van, apa itu Gevan?" Tanya Tiffany.
"Gevan siapa? Teman gue ini namanya Ifan." Mona menyyanggah.
"Kirain Gevan."
"Ngomong ngomong, gimana masalah Lo sama Gevan?" Mona mengalihkan.
"Gue belum ketemu lagi, gue bingung sebenarnya cape bohong itu. Tapi gimana ya, gue sama Bapak anak ini gak mungkin bersatu. Tapi kalo sama Gevan bisa gue akali." Kata Tiffany.
"Lah enak di bapak anak ini dong, gak ketimpa masalah. Sementara Lo sibuk menentukan siapa ayahnya." Sindir Mona.
"Iya sih, itu yang bikin gue bingung. menurut Lo gimana?"
"Ini menurut gue pribadi mending Lo perjuangin statusnya dari bapak yang jelas. Karena Lo akan dapat masalah setelah anak ini lahir dan Gevan meminta tes DNA, karena lambat lain pasti akan kebongkar." Kata Mona.
"Iya ya, tapi nasi sudah jadi bubur. Gue udah terlanjur bilang kalo ini anak Gevan. Lihat nanti aja deh." Ucap Tiffany.
"Yaa gue cuma kasih saran aja yang menurut gue baik. Tapi balik lagi sama Lo."
"Iya Mon, makasih atas masukannya."
__ADS_1
Dikamar Brian.
"Kehidupan sebelum dan sesudah menikah emang beda ya, mereka banyak masalah setelah menikah. Sedangkan gue masih pacaran aja udah banyak masalah." Gumamnya.