Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
pelaporan


__ADS_3

Diluar ruangan Anggita meminta untuk ngobrol berdua dengan anaknya, untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Van, mama mau bicara berdua sama kamu! kami tinggal dulu ya pak, Brian." Anggita pamit kepada Wisnu dan Brian.


Wisnu dan Brian mengangguk, kemudian Anggita mengajak Gevan untuk berbicara di taman sekitaran rumah sakit.


"Van, coba jelaskan secara detail sama mama. Apa sih sebenarnya yang terjadi sama Adara sampai kejadian ini menimpanya?." Cecar Anggita.


"Ma, maafin Gevan ya! ini semua memang murni kesalahan Gevan ma." Ucapnya memohon.


"Tolong jelasin dulu.." Ucap Anggita.


Gevan menceritakan semua yang terjadi semuanya, sampai akhirnya Adara mengalami hal seperti ini.


"Gevan... Apa sih yang kamu pikirkan saat kamu melakukan hal itu? Mama gak habis pikir kamu itu bodoh." Anggita memakai Gevan walaupun ia adalah anaknya namun apa yang dilakukannya tidak dapat dibenarkan.


Gevan hanya tertunduk. "Mama tahu sakitnya diduakan, Mama tau rasanya dikhianati. Kalaupun Adara meminta cerai sama kamu itu memang pantas ia lakukan." Ucap Anggita membuat Gevan semakin kalut.


"Mama jangan ngomong gitu dong, aku jadi semakin gila kalo gini. Aku gak mau sampai pisah sama Adara ma." Ucap Gevan sambil menangis ia memeluk mamanya.


Malam pun tiba, Excel gelisah di dalam apartemen miliknya. Dengan darah yang masih berada di lantai, ia tak kuasa untuk membersihkannya. Dirinya dihantui rasa bersalah yang sangat besar terhadap Adara.


Ia tak habis pikir setan apa yang merasukinya hingga ia tega menyakiti wanita yang sangat baik terhadapnya. Hanya karena emosi sesaat yang di timbulkan dari masalah yang belum tentu benar atau salah.


Bell apartemennya berbunyi, ia melihat di lubang pintu. Ternyata polisi datang untuk menemuinya.

__ADS_1


Excel membuka kunci pintu apartemennya.


"Permisi, apakah sodara bernama Excel?." Tanya polisi.


"Iya betul pak, ada apa ya?." Tanya Excel dengan gugup.


"Saya mendapatkan perinta untuk menangkap anda dengan laporan penganiayaan terhadap sodari Adara. Saya harap kamu kooperatif untuk ikut ke kantor." Ucap polisi tersebut.


Tanpa perlawanan apapun Excel mengangguk kemudian tangannya di Borgo sementara, kemudian polisi yang lain masuk ke kamarnya dan melihat ada bercak darah di lantai. Itu semakin memperkuat tuduhan pelapor.


Excel di bawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Tanpa persetujuan dari siapapun Brian berani melaporkan Excel ke polisi.


Brian mendapat telepon dari pihak kepolisian untuk mengabarkan jika Excel sudah di tangkap. Ia memberi tahukan kepada Wisnu.


"Pak, mohon maaf jika saya lancang. Saya sudah melaporkan pelaku penganiayaan terhadap Adara." Ucap Brian membuat Wisnu kaget.


"Iya pak, dia adalah teman kami. Bahkan sempat menginap di rumah bersama saya Gevan dan Adara." Jelas Brian.


"Saya ikut ke kantor polisi. Saya mau lihat tampang orang yang sudah menyakiti anak saya." Ucap Wisnu Tegas.


Walaupun bersikap tenang, namun ayah mana yang tidak marah dan khawatir melihat anaknya tidak berdaya di tangan orang lain.


Wisnu pamit kepada istrinya.


"Sayang, ayah mau ke kantor polisi dulu. Kamu bisa kan tungguin Adara sebentar?." Ucap Wisnu kepada istrinya.

__ADS_1


"Iya yah, kamu hati hati ya!." Ucap Istrinya.


Kemudian Wisnu mencium kening anak kesayangannya yang sedang terlelap tidur.


Ia bergegas pergi bersama Brian. Gevan tidak mengetahui jika Brian melaporkan Excel ke Kantor polisi. Bahkan ia tidak sempat melaporkannya.


Ponsel Gevan berdering.....


"Van, gue sama bokapnya Adara sekarang menuju Kantor polisi. Gue di telpon katanya Excel sudah di tangkap." Ucapnya melalui sambungan telepon.


"Wait ... Lo laporin Excel?." Tanya Gevan.


"Iya Van, sorry. Tapi gue harus melakukannya biar ada efek jera." Jelasnya.


"Makasih ya yan Lo memang sahabat gue. Nanti gue nyusul ya sama Nyokap gue." Kata Gevan sambil melirik ke Anggita.


"Iya Van, dan satu lagi. Lo kasih waktu Adara untuk menenangkan diri dulu sejenak. Om Wisnu sudah jelasin sama gue." Ucap Brian mengingatkan sahabatnya.


"Iya yan, gue ngerti kok. Yaudah gue berangkat sekarang juga ya." Gevan menutup telpon.


Anggita menanyakan apa yang ia bicarakan dengan Brian.


"Kenapa Van?." Tanya Anggita.


"Ma mau ikut ke kantor polisi gak? Gevan mau kesana katanya pelakunya sudah di tangkap." Katanya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Yaudah mama ikut." Anggita beranjak.


Gevan dan Anggita menyusul Brian dan Wisnu ke kantor polisi.


__ADS_2