Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
Bimbang


__ADS_3

"**Adara.. Maafkan aku! Aku gak bisa jaga kamu," Gevan menggenggam erat tangan Adara.


Adara terbangun, "Gevan... Kamu nangis? Adara melihat airmata yang membasahi tangannya.


"Sayang, kamu sudah sadar! maaf ya aku lebih memilih ke kantor daripada nemenin kamu dirumah."Gevan menghapus airmata dipipinya dan di tangan adara.


"Ssstttt, udah. Gapapa kok lagian aku sebenarnya gapapa kok, Cuman mama dan papa bersikeras untuk membawa aku ke sini." Ucap Adara lirih.


"Gapapa gimana sayang, kata dokter kamu kena DBD lagi. Itu yang kamu sebut gapapa? Akutuh panik waktu mama nelpon kalo kamu masuk rumah sakit."Gerutu Gevan.


"Hhhhhh..."Adara tersenyum tipis "Seneng deh lihat kamu sepanik itu! Coba aja dari dulu kamu kayak gini sama aku." Ucap Adara dengan tatapan yang berbinar.


"Maaf Daraa.. aku terjatuh dalam lobang yang sama lagi, Tapi aku janji akan secepatnya untuk mengakhiri semuanya." Gumam Gevan dalam hati.


"Sayang.. Mendingan sekarang kamu pulang aja yah! kan besok harus ke kantor. Maaf aku gak bisa buatkan sarapan untuk kamu." Ucap Adara memecahkan lamunan Gevan.


"Besok aku ijin, aku mau jagain kamu disini! gapapa yah." Sahut Gevan.

__ADS_1


"Yaudah terserah kamu aja sayang! Sekarang udah malem. Tidur gih di sofa gapapa?


"kamu tidur duluan sayang, aku mau jagain kamu dulu sampai kamu tidur." Ucap Gevan yang terus menciumi tangan Adara.


"Hmmm, yaudah!


Adara pun tertidur setelah itu Gevan pergi keluar untuk mencari angin segar. Ia dihampiri oleh Brian.


"Van! Brian menepuk pundak Gevan yang sedang melamun di luar rumah sakit.


"Brian? ngagetin aja lo! Tegur Gevan.


"Lo tau darimana kalo Adara disini?


"Clara! Barusan kita habis dari Club BB (BloodBlue) Dan dia BT sama lo karena lo nemenin Adara di rumah sakit." Kata Brian.


"gue gak bilang mau kerumah sakit,"

__ADS_1


"Udahlah gapenting, Gimana keadaan Adara? Dia pasti cuti beberapa hari ya." Kata Brian menyela.


"Kayaknya Adara akan resign! Gua gak mau dia kerja lagi. Dia DBD lagi trombositnya turun. Untung aja orang tua gue segera membawa Adara ke rumah sakit, Kalo nggak mungkin Adara gak akan tertolong lagi." Jelas Gevan.


"Keputusan ada di tangan Adara! Sahut Brian.


"Iya, makanya gue mau berunding dulu sama dia biar dia keluar kerja."


"Oh iya, satu lagi! Udahlah lo selesaikan hubungan lo sama Clara. Lo gak bisa hidup dengan dua wanita sekaligus Van! Itu akan menyakiti salah satu dari mereka, Terutama Adara." Brian memberi nasehat kepada Gevan.


"Bi, lo tau? Clara ngancem bakal bunuh diri kalo gue putus sama dia. Gue bener bener bingung, kalo aja dulu gue gak janji bakalan kembali lagi sama dia mungkin semua ini gak akan terjadi." Gevan mengacak rambutnya frustasi.


"Gila, Clara senekat itu? Gevan mengangguk "Gue gak tau lagi sih, semoga aja itu hanya sementara. Mungkin besok atau lusa Clara capek dengan sikapnya itu! Sambung Brian.


Gevan hanya terdiam memikirkan istrinya, "Bi, gue istirahat dulu ya! Besok aja lo jenguk Adara karena sekarang dia lagi istirahat." Ucap Gevan


"Oke, besok gue dateng lagi kesini." Ucap Brian dan langsung pergi meninggalkan Gevan. Kemudian Gevan kembali masuk ke ruangan Adara.

__ADS_1


Semalaman Gevan tidak tidur, ia selalu berada di samping istrinya dan memegang tangannya erat. Sesekali Gevan mencium Adara dan menatapnya penuh kasih sayang*.


__ADS_2