Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
9.Kesepakatan Pernikahan


__ADS_3

Setelah sarapan Zahira dan Altan kembali ke kamarnya. Kamar yang cukup luas terdiri dari 4 bagian yang pertama adalah ruang kerja, kamar mandi, Tempat bersantai terdapat sofa dan TV, dan bagian terakhir adalah kamar tidur dengan desain modern dengan nuansa putih. berbeda dengan ruang lainnya yang lebih bernuansa klasik dengan dominan warna ke-emasan. Hal ini mungkin pengaruh dari pemilik rumah ini sebelumnya, yakni kakeknya Altan yang masih berbangsa Turki.


Zahira duduk di sofa berhadapan dengan Altan. Zahira tampak gugup namun ingin sekali menyampaikan apa yang menjadi ide gilanya.


"Om!" panggil Zahira lirih


Seketika Altan kaget karena tadi pagi sudah dipanggil mas, sekarang dipanggil Om lagi sama bocil. Altan tidak merespon panggilan Zahira


"Mas Altan." Seru Zahira untuk kedua kalinya. Barulah Altan mengalihkan pandanganya ke Zahira.


"Ada apa?" tanya Altan santai.


"Kita buat kesepakatan pernikahan mau?" tawar Zahira dengan penuh kehati-hatian karena takut melukai Altan


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk jaga-jaga."


Altan menarik kedua sudut alisnya. Ia merasa bingung dengan sikap dan pola pikir Zahira.


"Okay. Silahkan sebutkan apa yang kamu mau."


"Aku ingin setelah menikah berkerja. Tapi aku tak ingin berkerja di perusahaan keluarga mu, aku ingin belajar dan meniti karir dari nol."


"It's Okay. No. Problem, tapi aku akan mengajukan syarat juga. Kamu boleh berkarir tapi kamu tak boleh lupa akan kewajiban kamu sebagai seorang Istri."


"Silahkan Zahira, itu uang kamu. Aku tidak akan meminta sepeserpun.Tapi aku akan melaksanakan kewajibanku dengan memberikan kamu nafkah. Gunakan itu dengan baik."


" Terimakasih atas pengertiannya, karena Ayah masih butuh perawatan tiap bulan ke Rumah sakit."


" Saya akan sangat mendukung kamu, ketika kamu mengutamakan orangtuamu, sayangilah mereka. Jangan kamu abaikan setelah kamu menikah."

__ADS_1


"Ketika kamu sudah memberiku nafkah lahir, apakah aku harus ....." Kata-kata Zahira terhenti seketika karena dia malu dan tak sanggup melanjutkannya.


"Aku tidak akan memaksa, Za. Suatu saat kamu akan datang padaku, disitulah kamu menjadi milikku."


"Apakah Om kanibo sudah jatuh cinta dengan Zahira?"


Wajah asam Altan terlihat jelas dengan panggilan Zahira yang tak berperi kemanusiaan.


" Maaf Om, eh....anu ...maaf mas Altan." Zahira sambil nyengir kaku.


"Aku bukan laki-laki yang mudah jatuh cinta. Tapi aku menerima setiap pemberian Allah sebagai Rahmat dan anugerah."


kemudian Altan bangkit dan menuju ruang kerjanya. Walaupun hari Minggu Altan masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. mengingat persiapan pernikahan menguras pikirannya karena mamahnya mau nya ini itu banyak sekali. Namun Altan bahagia karena bisa memenuhi keinginan baik dari kedua orangtuanya.


Begitulah Altan, anak laki-laki yang selalu patuh dengan kedua orangtuanya. Karena Altan begitu menyayangi kedua orangtuanya. Akan menjadi tanggung jawab sebagai anak untuk selalu berbakti kepada orangtuanya. Hal ini tentu berbeda dengan kakaknya Ameer yang tidak mengikuti nasihat kedua orangtuanya. Hingga kematian itu terjadi membawa trauma yang mendalam untuk keluarga ini. Kejadian Buruk yang ditutup agar nama baik Ameer tetap terjaga dengan baik.

__ADS_1


Zahira merasa bosan kemudian melangkah ke balkon, dari atas Zahira melihat pemandangan di bawa ada kolam renang dan taman yang didominasi bunga anggrek, bunga kesayangan dari Bu Hadid. Zahira menarik nafas panjang, karena hari ini ia bagaikan mimpi menjadi menantu dengan suami yang pengertian, ibu dan bapak mertua yang baik. Semua menerimanya dengan baik. Namun hatinya merasakan masih ada perlawanan kalau ini tidak adil. Bukan karena tidak bersyukur. Zahira tidak tahu harus memulai dari mana untuk merajut jalinan suami istri yang baik. Mungkin keegoisan dan keangkuhan dalam dirinya yang belum dia taklukkan.


__ADS_2