
Pagi ini, Bimo memilih untuk ambil cuti. Karena ia ingin quality time dengan istrinya.
"Mama, papa minta kopi dong. Kita berjemur di luar." Ucap Bimo.
"Iya pa." Anggita membuatkan kopi untuk suaminya.
...Anggita tidak ingin memperkerjakan pembantu karena saat itu Bimo memilih untuk menikah siri, ia dianggap seperti seorang istri yang hanya leha leha dan hanya bisa membuang buang uang. Hingga akhirnya Bimo memilih untuk menikah dengan sekertarisnya yang dianggap sebagai wanita karir....
"Nih pa." Anggita memberikan secangkir kopi.
"Makasih ma." Ucap Bimo.
"Sama sama pa."
Lalu mereka berjemur di belakang rumah.
"Ma, kayaknya papa rindu putri papa." Ucapnya tiba tiba.
"Yaa pasti pa, yang namanya kehilangan pasti ada rasa rindu." Sahut Anggita yang sedikit berubah.
"Mama mau gak temenin papa ziarah ke makam anak papa, itu juga kalo mama mengijinkan." Bimo tidak ingin melukai istrinya lagi.
"Gapapa kok pa, karena anak itu masih butuh doa dari orang tuanya. Papa juga jangan lupa berdoa untuk almarhumah istri kedua papa." Anggita mulai merasa legowo.
"Maaf ya ma, papa udah menggoreskan luka yang begitu dalam di hati mama. Tapi mama masih perduli sama almahumah." Kata Bimo.
"Itu cuma masalalu pa, makanya mama ikut sakit saat tahu Gevan mengkhianati Adara. Mama tidak mau anak mama melakukan hal yang sama seperti yang papanya lakukan terhadap mama, Tapi mama sudah bisa berdamai dengan diri sendiri." Ucap Anggita.
"Iya papa juga tidak mau Gevan melakukan hal yang sama, untuk itu sekarang papa akan membuat contoh agar Gevan bisa setia kepada istrinya."
"Iya pa, dan untuk itu sekarang mama akan berusaha menjadi ibu rumah tangga untuk keluarga ini. Mama tidak ingin orang lain yang mengurus papa meskipun pembantu sekaligus, cuma mama yang akan ngurus papa sampai akhir hayat." Anggita memeluk Bimo.
"Papa bahagia banget sekarang, kita sudah menemukan kenyamanan di rumah tangga ini selama puluhan tahun kita bersama tapi papa baru bisa mengerti arti sakinah, mawadah warahmah itu akhir akhir ini." Bimo mencium rambut Anggita.
"Kita sekarang tinggal menunggu cucu yang banyak dari anak anak kita."
"Kasihan dong ma Adara, dua atau tiga juga cukup ." Kata Bimo.
"Iya pa, mama cuma bercanda."
Bimo dan Anggita tertawa bersama layaknya sepasang suami istri yang saling melengkapi satu sama lain, walaupun masalalu yang membuatnya renggang tapi dengan seiring berjalannya waktu. Akhirnya mereka menemukan definisi bahagia yang sesungguhnya.
Jam istirahat, Raka mengajak Adara untuk makan siang di restoran yang dekat dengan kantor. Sekalian ia ingin mengenal lebih jauh.
__ADS_1
Raka sudah tahu tentang Adara saat di acara pernikahannya, Wisnu mengundang semua staf perusahaan untuk datang ke pesta pernikahan Adara. Bahkan ia mengetahui jika calon suami Adara bermain api saat hari pernikahannya, ia tak sengaja menemukan Suami Adara dengan seorang perempuan yang mana itu adalah Clara.
"Bu, mau makan siang bersama?" Tanya Raka.
"Oh boleh, ajak yang lainnya juga ya." Sahut Adara.
Raka mengajak Nency, teman sekantornya yang biasa pergi bareng. Lalu Adara mengajak Vina sang sekertaris ayahnya.
"Kita mau makan siang dimana?" Tanya Nency.
"Di tempat biasa kita makan." Sahut Raka.
"boleh deh, udah lama aku gak kesana." Vina menimpali.
Lalu mereka pergi ke restoran tersebut lalu memesan beberapa makanan yang sering dipesan oleh mereka.
"Bu, saya Nency. Saya belum lama ini kerja disini." Ucap Nency.
"Oh ya, gimana kerja disini nyaman gak?" Tanya Adara.
"Nyaman sekali, rasanya seperti keluarga saya disini." Ucapnya.
"Syukurlah, saya senang banyak orang yang nyaman kerja di kantor ini. Saya sebenarnya baru pertama kali ini kerja disini. Dari dulu pashion saya bukan kerja kantoran tapi F&B."Jelas Adara.
"Wah, memangnya ibu kuliah jurusan apa?" Tanya Vina.
"Waduh jauh banget sama bidang properti, kenapa ibu gak coba buka usaha restoran dengan pengetahuan ibu pasti sukses membuka restoran." Kata Vina.
"Rencananya si gitu, cuma saya lagi kumpulin dulu modal usahanya. Bagaimanapun saya harus bekerja keras untuk hasil yang maksimal." Ucap Adara.
Raka memandanginya dengan kekaguman, tak disangka rupanya anak orang kaya ingin bekerja keras untuk membuka usaha. Jika dibandingkan dengan yang lain sebagai anak orang kaya harusnya bisa secepat itu membuka usaha dengan bantuan orang tuanya.
"Ka, kenapa kamu mandangin Bu Adara segitunya." Tanya Nency membuyarkan lamunan Raka.
"N-ngak cuma kagum aja, ada ya orang kaya yang mau kerja keras." Ucapnya.
"Saya cuma melihat perjuangan papa saya untuk membuka perusahaan ini dengan kerja kerasnya, bahkan rela sampai jatuh bangun membuka usaha ini." Adara membayangi ayahnya bekerja keras.
"Saya salut sama ibu, saya aja kadang masih minta sama orang tua." Ucap Raka.
"Yaa itu mah kamunya aja yang boros masa gaji besar masih minta sama orang tua." Timpal Vina.
"Yaa kan harus bayar cicilan rumah cicilan mobil dan biaya hidup satu bulan." Sahut Raka.
__ADS_1
"Iya deh, si paling nyicil." Nency tertawa.
Pesanan datang lalu mereka mulai makan, sementara itu di kantor Gevan. Mona datang ke kantor Gevan untuk mengajaknya makan siang.
"Hai Van, makan siang yuk!" Seru Mona.
"Loh kamu kenapa gak telpon aja biar aku yang ke bawah." Ucap Gevan.
"Ya gapapa sembari lihat isi kantor kamu."
"Yaudah yuk,kebetulan aku udah lapar." Gevan beranjak dari kursi.
Mereka mencari restoran yang dekat dari sana untuk tidak memakan waktu banyak. Sampainya di restoran mereka memesan dua makanan dan dua minuman.
"Istri kamu gimana saat semalam kamu pulang dalam keadaan mabuk?" Tanya Mona.
"Gak tahu, aku kurang sadar."
"Terus paginya, kan kalian ketemu." Kata Mona.
"Dia katanya mau kerja di perusahaan papanya, cuma pamit aja tanpa ada obrolan lainnya." Sahut Gevan.
"Kamu harusnya minta maaf sama Adara, bagaimanapun dia itu polos saat tahu kamu mabuk mungkin dia marah sama kamu." Kata Mona.
"Dia tahu kok dulu aku sering mabuk, masa sekarang marah gara gara itu doang. Cuma mabuk ini bukan narkoba atau main cewek." ucapnya.
"Kamu kan mainin aku." Kata Mona menggoda.
"Masa, kayaknya gak mungkin deh ."
"Kan kamu gak sadar, bisa aja aku perkosa kamu Van." Mona tertawa.
"Udah deh Mona jangan mancing, nanti aku tergoda." Gevan tertawa kecil.
"Yaa gapapa kali, aku kan udah biasa jadi bahan pelampiasan nafsu kamu. Jadi dengan senang hati." Kata Mona, ia menggenggam tangan Gevan.
"Mona, aku udah janji sama istri aku gak akan khianati pernikahan kami lagi. Jadi maaf ya sekarang kita sebatas teman asyik aja gak lebih." Gevan memberi batas.
"Yaa aku ngerti, tapi yang jelas saat kamu butuh aku. Aku siap dengan semua yang kamu inginkan." Ucap Mona.
"Tapi makasih loh, dari dulu kamu selalu pengertian sama aku. Aku sayang kamu sebagai teman." Ucap Gevan.
"Iya Van, makasih juga selalu ada kalo aku butuh." kata Mona.
__ADS_1
"Siap Mon."
Makanan datang lalu mereka menyantap makanan tersebut. Tak di sangka seseorang memotret kebersamaan Gevan dengan Mona.