
...Adara sampai rumah, namun Gevan entah kemana bersama Mona. Namun ia tidak ingin memikirkan tentang Gevan lagi setelah kejadian tadi di pemakaman. Adara memutuskan untuk membersihkan diri kemudian tidur....
" Minum Mon." Seru Gevan.
"Van kamu mabuk loh, udah kita pulang yuk!" Ajak Mona.
"Nggak, gue mau disini aja. Kita nikmati malam ini dengan minum." Ucap Gevan yang kesadarannya mulai menurun.
"Tapi Van, nanti istri Lo khawatir."
"Gak usah pikirin dia, Toh dia juga gak ada nyari gue."
...Mona tak tinggal diam, ia langsung menghubungi Brian untuk membawanya pulang....
"Si Gevan cari masalah Mulu, heran gue." Gumamnya, Brian harus memutar balik lagi ke tempat dimana Gevan berada.
...Beberapa lama, Brian sampai lalu ia segera mencari Gevan dan Mona. Sampailah ia di pojokan Gevan sedang gelendogan kepada Mona....
"Van, kita pulang."
"Gak." Gevan menolak.
...Lalu Brian langsung membopong Gevan untuk membawanya pulang, bersama Mona. Namun Brian menyuruh Mona untuk tetap berada di mobil saat Gevan masuk ke dalam rumah agar tidak terjadi keributan kembali bersama Adara....
Tok.. Tok.. Tok.. Brian mengetuk pintu, lalu Adara membukakan pintu rumahnya dikarenakan bi Sumi yang sudah istirahat.
"Siapa.." Tanya Adara, ia membuka pintu.
"Adara, gevan mabuk berat." Ucap Brian sembari membopong Gevan.
"Yaampun Gevan, kenapa jadi seperti ini? Bawa masuk ke kamar Brian. Tolong." Ucap Adara.
Brian langsung membawa Gevan ke kamarnya lalu membaringkannya.
"Besok juga akan biasa lagi, sabar untuk menghadapi Gevan Adara." Pesan Brian.
"Aku akan berusaha, tapi kenapa ya Gevan berubah saat ini. Padahal kemarin Gevan membelaku di depan mami." Kata Adara, ia bingung dengan Gevan seperti punya 2 kepribadian.
__ADS_1
"Gak salah kamu bingung, Gevan memang mempunyai dua sifat yang berbeda. Terkadang dia bisa baik tapi juga kadang bisa tidak perduli. Setelah beberapa tahun kalian berumah tangga pasti perlahan sifat satu sama lain akan kebuka." Ucap Brian, ia tahu betul tentang Gevan.
"Gitu ya, jujur aku bingung. Tapi rasanya aku malu kalau aku harus ngadu sama orang tua Gevan tentang masalah ini."
"Kalau saran aku mending keep aja dulu, siapa tahu besok dan seterusnya Gevan bisa berubah." Ucap Brian.
"Makasih ya Brian, kamu selalu ada diantara kami. Dan kamu jadi penengah untuk masalah yang ada di hubungan kami."
"gak masalah Adara, selagi aku bisa bantu kalian kenapa nggak, lagi pula aku gak mau terjadi sesuatu dengan hubungan kalian. Kamu tahu semenjak Gevan bersama kamu, dia jarang sekali berinternet dengan perempuan lainnya. Yaa akhir akhir ini aja dia kambuh lagi." Ucap Brian.
"Iya Brian kamu sangat berjasa untuk kami, teruslah menjadi orang baik." Adara mengusap pundak Brian.
"Iya Adara, kalo gitu aku pulang ya! Besok juga Gevan akan segera sadar. Kamu tidur aja jangan banyak pikiran."
"Iya Brian, sekali lagi terimakasih."
"Iya Adara."
Brian pulang diantar oleh Adara sampai depan rumah, saat Brian hendak pergi dari rumah Adara. Ia melihat ada sosok perempuan bersama Brian di mobil. Ia berfikir jika itu adalah Mona.
Sebuah siaran televisi mengabarkan telah terjadinya penganiayaan terhadap seorang perempuan sehingga mengakibatkan korban meninggal dunia.
"Selamat pagi pemirsa news update, berita hari ini di awali dengan meninggalnya seorang selebgram yang bernama Tiffany. Korban di duga dianiaya oleh seorang pengusaha pertambangan berinisial A-R. Laporan tersebut berasal dari staf hotel yang di panggil oleh keluarga korban, karena mendapati korban bersimbah darah."
"Kejadian itu diketahui pada pukul 21:24 WIB, belum diketahui motif pembunuhan itu, berdasarkan informasi pelaku mempunyai hubungan gelap dengan korban. Sehingga menghasilkan seorang anak."
"Pah.." Panggil Anggita.
"Iya mam." Sahut Bimo.
"Pah lihat deh, itu Tiffany katanya meninggal apa benar? Dan pelakunya berinisial A-R."
"Hah, mam ini serius? A-R itu Arif Rahman kan? dia mempunyai hubungan dengan Tiffany." Ucap Bimo.
"Mama gak nyangka Tiffany meninggalkan secepat ini. padahal dia ngotot banget kalau anak yang dia kandung adalah anaknya bersama Gevan." Ujarnya.
"Iya ma, biar papa telpon Gevan. Mungkin saja ia tahu apa yang sebenarnya terjadi."
__ADS_1
"Iya pah."
Bimo menelpon Gevan, lalu Gevan buru buru bangun. Ia baru bangun di jam 09:00 Pagi.
"Hallo pa,."
"Hallo Van, gimana kabar kamu?" Tanya Bimo.
"Aku baik baik aja pa, ada apa ya pa tumben telpon aku."
"Papa cuma mau tanya, apa benar Tiffany meninggal dunia?"
"Pa, aku lupa kabarin lalu Tiffany memang meninggal. Kemarin kami baru saja memakamkan Tiffany karena dia hidup sebatang kara."
"Papa turut berduka cita atas berpulangnya Tiffany, papa dan mama tidak menyangka akan secepat ini Tiffany meninggal. Tapi mama sama papa sudah memaafkan Tiffany. Kamu dan Adara jangan lupa meminta maaf." Kata Bimo.
"Iya pa, aku juga sudah memaafkan Tiffany. Saat ini kita doakan yang terbaik untuk Tiffany dan bayinya."
"Iya Van, Adara mana?"
"Adara ada di dapur pa, kayaknya lagi masak deh."
"Papa weekend ini gak kemana mana?"
"Nggak Van, papa mau quality time dulu sama mama." Sindir Bimo.
"Wah rupanya akan ada adik baru."
"Ssstt, jangan ngomong kayak gitu nanti mama kamu marah."
"Emang salah ya."
"Kita sudah tidak pantas punya anak lagi, harusnya kamu yang segera kasih cucu untuk papa sama Mama."
"Iya pa, aku lagi usahakan ini. Mohon doanya aja ya pa."
"Iya Van, kamu jaga Adara."
__ADS_1