Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
Kehilangan kebahagiaan


__ADS_3

"Keluarga ibu Adara?.."Tanya dokter yang menangani Adara.


"Saya suaminya dok, bagaimana keadaan Adara dokter? Bagaimana dengan janinnya?."Tanya Gevan dengan cemas.


"Mari pak, ikut ke ruangan saya."Ucap dokter tersebut, kemudian Gevan dan Brian mengikuti dokter tersebut keriangannya.


Merekapun duduk, kemudian dokter tersebut menghela nafas panjang.


"Begini pak, tadi pada saat ibu Adara di bawa kesini beliau mengalami pendarahan hebat di rahimnya. Sehingga kamipun melakukan tindakan kuret kepada ibu Adara."Jelas dokter tersebut.


"Itu artinya..."


"Iya pak, Ibu Adara mengalami keguguran karena benturan yang sangat keras sehingga menyebabkan pendarahan. Mengingat kandungan Ibu Adara yang lemah."Kata dokter itu.


Gevan merasa sangat kehilangan, ia bingung bagaimana menjelaskan kepada istrinya apa yang terjadi kepadanya.


Kemudian Gevan dan Brian masuk ke ruangan dimana Adara di rawat, Ia melihat Adara yang terkapar lemas dengan beberapa luka di kepala, tangan dan kaki.


"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu sayang? Gevan menangis dengan menggenggam tangan Adara yang dipasang selang infus.


"Apa perlu gue cari tahu kesana bro? gue yakin ada sesuatu disana. Atau nggak Lo cek hp Adara, siapa tahu ada petunjuk."Kata Brian.


Tanpa basa-basi Gevan mengambil tas Adara dan mengecek hp milik Adara dimana ia kaget melihat pesan yang sama sekali tidak ia kirim.


Kemudian Gevan mengingat Excel yang meminjam hpnya untuk menghubungi Tiffany.


"Gue tau, siapa yang sudah melakukan ini sama Adara. Gue mau Lo pancing orang itu nanti kalo Adara udah sadar gue susul Lo!."Kata Gevan.

__ADS_1


Gevan meminta untuk Brian bertemu Excel. Kemudian Brian pergi untuk bertemu dengan Excel.


Sementara itu Adara siuman dan melihat lihat sekitar, ia nampak bingung siapa yang membawanya ke rumah sakit. Adara melihat tangannya yang di pegang oleh Gevan lalu melepaskannya dan menghindari sentuhan langsung dengan suaminya.


"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar. Aku panggilkan dokter ya."Kata Gevan.


Adara hanya terdiam, Gevan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Adara saat ini.


Tak lama kemudian dokter pun datang dan memeriksa Adara.


"Apa yang di rasakan ibu saat ini? Apa masih ada yang sakit Bu? Tanya dokter tersebut.


"Perut saya dok, sedikit terasa sakit. Tapi kenapa saya di transfusi darah ya dok? Tanya Adara.


"Masa tadi, ibu mengalami pendarahan yang sangat banyak sehingga harus melakukan transfusi darah. Dan maaf sebelumnya Bu, ibu yang sabar ya! karena kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungan ibu. Mengingat lemah kandungan yang ibu alami dan terjadi benturan yang cukup keras mengakibatkan janin tidak bisa bertahan."Jelas dokter tersebut.


"Sayang, sabar sayang, ini ujian untuk kita." Ucap Gevan walaupun hatinya merasa emosi dengan tindakan yang di lakukan oleh Excel.


Adara terdiam sejenak.


"Puas kamu? hah...


"apa maksud kamu sayang? aku juga terluka dengan semua keadaan ini. Janin itu darah daging aku sendiri mana mungkin aku puas dengan keadaan ini."Ucap Gevan.


"Apa pedulinya kamu? mau aku hamil atau tidak, dan walaupun ini anak kamu. kamu gak akan pernah peduli sama aku. Yang kamu pedulikan adalah kepuasan kamu sendiri!


"Dara, dengerin aku! Aku bisa jelasin semuanya."

__ADS_1


"Oke, sekarang jawab aku! apakah benar waktu kamu ke Yogyakarta waktu itu bersama dengan Tiffany?..


Deg!! Pertanyaan itu membuat Gevan terdiam, karena benar adanya apa yang Adara ucapkan itu.


"Sayang.."


"JAWAB!!!!." Teriak Adara.


"IYA..."Ucap Gevan mengakui.


"Gevan, kenapa kamu lakuin ini sama aku? Apa salah aku sama kamu, dan kalo misalkan aku ada diposisi kamu apa kamu bisa maafin aku?.. Nggak Van!.


"Adara dengerin aku."Ucap Gevan menyela.


"Gevan, mulai saat ini aku ingin pernikahan kita berakhir."Ucapnya lirih.


Jreng... Seketika air mata Gevan menetes, hatinya sakit mendengar ucapan yang keluar dari mulut istrinya.


Walaupun ia sadar atas kesalahannya, namun disisi lain ia punya maksud tertentu mengapa dia mendekati Tiffany saat itu.


"Adara, sayang jangan mengambil keputusan disaat kamu emosi sayang. Aku minta maaf, aku punya alasan untuk itu! Aku minta maaf sayang."Ucap Gevan merasa terpukul.


"Sekarang kamu keluar!!! Adara menunjuk ke arah pintu.


"Sayang, aku mohon kamu pikir kembali ucapan kamu, aku sadar aku salah. Aku sangat mencintai kamu sayang. Aku mohon."Gevan terus menerus meminta maaf.


"Keluar!!! teriak Adara, kemudian Gevan menuruti kemauan Adara, ia sadar Adara sangat terpukul.

__ADS_1


__ADS_2