
Dengan perasaan yang kalut, Devan memberanikan diri untuk bertemu dengan Adara. Meskipun ia tahu hal bodoh yang ia lakukan ternyata berdampak besar seperti ini.
Devan membuka pintu kamar ruang inap, ia melihat Adara yang sedang tertidur lelap dengan mata bengkak dan selang yang mengalir darah.
"Sayang, maafkan kesalahan aku.. aku tahu ini kesalahan fatal yang aku lakukan. Aku harap kamu bisa memaafkan aku." Ucap Devan dengan penuh penyesalan.
Namun Adara tidak bangun, ia hanya berpura pura untuk tidur. Agar ia tidak terbawa emosi melihat Devan yang jelas jelas sudah mengkhianatinya.
"Aku tahu kamu dengar semuanya sayang, aku harap kamu bisa memaafkan aku. Aku janji mulai sekarang aku akan terbuka sama kamu, dan gak akan pernah ngecewain kamu lagi." Ucap Devan lagi dengan penuh tangisan.
Jarang ia meneteskan air mata, sekalinya untuk orang yang ia cintai.
"Semuanya sudah terlanjur Van, aku udah kehilangan anak aku. Dengan mudahnya kamu minta maaf setelah semuanya terjadi, semuanya sudah terlambat." Batin Adara, tak sadar ia meneteskan air mata.
Devan tersadar ia harus membiarkan Adara untuk menenangkan dirinya sendiri. Mungkin setelah ini Adara bisa membukakan hatinya untuk memaafkan Devan.
"Aku pergi dulu sayang, aku tahu kamu lagi pengen sendiri. tolong renungkan semuanya sayang." Devan mencium kening Adara dan pergi dari ruangan itu.
Orang tua Adara datang untuk melihat kondisi anaknya, setelah ia mendapatkan kabar dari Gevan.
"Gevan... apa yang terjadi sama Adara? gimana kondisi dia sekarang.." Ucap ayah Adara.
"Adara ada didalam pah, Adara keguguran pah. Ini semua salah aku pah, aku gak bisa menjaga dia." Ucap Gevan.
"Sudah, ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan siapapun, yang terpenting Adara selamat. Papa masuk dulu Gevan."Ucap Wisnu.
__ADS_1
Wisnu dan Stela masuk, ia mendapati Adara yang kening, tangan nya di balut kain putih.
"Adara, sayang .. kamu kenapa bisa begini? apa yang terjadi sama kamu nak?.. Tanya Wisnu panik.
"Pah, pelan pelan. Adara lagi istirahat." Tegur Stela.
"Pah, mah. aku gapapa kok. Yang aku mau aku pulang." Ucap Adara dengan suara pelan.
"Gak boleh! kamu harus dapat perawatan dulu sayang. Nanti kalo udah di bolehin pulang, kita pulang." Ucap Wisnu.
"Betul apa kata ayah kamu Adara, kalo kamu sudah baikan kita pulang Ya!" Ucap Stela.
"Kalo gitu, aku gak mau sampai Gevan masuk keruangan ini pah." Ucap Adara membuat Wisnu kebingungan, apa yang sebenarnya terjadi.
"Udah pah, iyain aja dulu. nanti kalo Adara sudah tenang baru kita tanya." Timpal Stela.
"Oke, nanti papa bilangin sama dia untuk tidak masuk keruangan ini." Wisnu mengangguk.
Anggita mengajak Bimo untuk kerumah sakit, tetapi Bimo sedang meeting dengan klien penting. Sehingga Anggita memutuskan untuk pergi sendiri menemui mantu kesayangannya.
Gevan menunggu diruang tunggu bersama Brian. Harap harap cemas menunggu Adara untuk bisa berbicara berdua.
Wisnu keluar kamar, ia nampaknya akan mengatakan sesuatu kepada Gevan.
"Gevan, papa harap diantara kalian tidak ada apa apa, Tapi untuk saat ini Adara tidak ingin berbicara atau melihat kamu. Papah harap kamu bisa mengerti keadaan dia saat ini." Ucap Wisnu. Ia bersikap sebagai mana mestinya seorang ayah dan mertua.
__ADS_1
"Pah, tolong kasih tahu Adara. Aku sangat ingin bertemu sama Adara pah. aku mohon." Gevan memohon kepada Wisnu.
"Maaf Gevan, ini keputusan Adara sendiri. Papah gak bisa berbuat apa apa." Ucap Wisnu.
"Ada apa ini?.. Tanya Anggita yang baru saja sampai sehingga mendengar pembicaraan Wisnu dan Gevan.
"Ma.. tolong bilangin sama Adara, Gevan mau ketemu ma." Gevan merengek ke ibunya.
"Biar mama masuk Van, pak Wisnu saya boleh masuk kan?" Tanya Anggita.
"Iya Bu, silahkan masuk. Di dalam ada istri saya." sahut Wisnu.
Anggita masuk ke kamar Adara dirawat.
"Adara sayang, kamu gak papa?" tanya Anggita cemas.
"Mama, aku gapapa kok. Tapi aku minta Gevan untuk tidak menemui aku untuk saat ini. Aku gak mau ma." Ucap Adara sekali lagi menegaskan.
"Ada apa sayang, apa yang terjadi sama kalian?" Tanya Anggita, ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku belum bisa jelasin sekarang ma, mama boleh tanya sama Gevan apa yang terjadi. Maaf ma, bukannya aku gak menghormati mama. tapi aku gak mau membuat hati aku lebih sakit lagi." Adara meneteskan air matanya lagi.
"Adara, belum boleh berbicara terlalu banyak Bu. Adara harus badreast." Timpal Stela
Anggita menghela nafas, "yaudah gapapa sayang. Mama mengerti, biar mama kasih pelajaran." Ucap Anggita.
__ADS_1