Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
8. Sujudku dan Sujudmu


__ADS_3

Zahira dan Altan selesai melaksanakan solat 2 rakaat, memohon perlindungan dari Allah sebelum melaksanakan MP. Zahira nampak gugup saat Altan membalik badannya. Zahira terkesima dengan wajah Altan yang tampak tenang dan penuh wibawa. Sedangkan Altan mulai terketuk hatinya melihat sosok Bidadari cantik dalam balutan mukena putih. Gadis bawel yang kini jadi istrinya. Tatap mata mereka beradu dalam debar jantung tak menentu. Tiba-tiba Altan mengulurkan tangannya, dengan refleks Zahira meraih dan menciumnya.


"Za, Aku tak akan memaksamu untuk mencintaiku, biarkan waktu yang menumbuhkan rasa itu."


"Tapi ... Aku harus bagaimana, aku akan berdosa jika tak menjalankan kewajibanku sebagai istri."


"Tak perlu kuatir, Za. Aku tidak akan memaksamu. Aku akan memberi waktumu, lakukan semampu kamu tanpa melukai hati kamu."


"Om, terimakasih banyak." Zahira tampak menunduk."


"Besok apa kalau kamu punya anak, anak kamu akan memanggilku Om juga?" wajah Altan berubah seketika karena telinganya panas mendengar kata-kata Om."


Zahira hanya nyengir dengan senyum manisnya yang membuat dia tampak lebih cantik.


"Karena seharian belum istirahat, istirahatlah kamu ditempat tidur." pinta Altan.

__ADS_1


Altan segera melipat sajadah dan berganti baju tidur, Ia segera melangkah di Sofa panjang yang ada di kamarnya, menata bantal dan selimut. Kemudian lelap dalam tidurnya.


Zahira tampak duduk mematung. Hatinya lega karena dia takut kalau Altan akan melakukannya disaat dia tidak siap. Zahira segera membenamkan tubuhnya yang merasakan pegal-pegal karena acara tadi pagi sampai sore. Walaupun dipercepat, toh masih banyak sanak saudara dan rekan bisnis mertuanya yang datang ke Masion Hadid. Zahira Kemudian lelap dalam tidurnya yang nyaman dalam hangatnya kamar Altan dengan desain warna putih dan elegan.


***


Adzan subuh berkumandang, Zahira bangun dan segera ke kamar mandi. Tapi dia melihat Altan yang kini sedang tidur di sofa. Zahira menghampirinya.


"Mas Altan, bangun! yuks solat subuh." ajak Zahira .


Solat fardhu telah dilaksanakan dengan khusyuk. kini masing-masing berdoa kepada Allah dengan entah doa apa yang mereka panjatkan ke sang Khalid.


Altan mengambil Alquran dan membacanya 3 halaman. kemudian dia beranjak keluar untuk berolahraga di sekitar halaman belakang. Sedangkan Zahira nampak turun menuju dapur untuk mengambil air putih.


"Pagi Nona Zahira." sapa ramah Bi Sum.

__ADS_1


"Pagi Bi Sum." jawab Zahira sambil duduk dan menuangkan air di gelas.


"Non Zahira ingin sarapan apa?"


"Bebas Bi Sum, bagaimana kalau Zahira bantu Bi Sum masak?"


" Jangan Non, Nanti Bi Sum dimarahi Nyonya."


"Bi Sum kan tidak memaksa saya, tapi itu keinginan saya. Jangan kuatir Bi, saya sudah terbiasa memasak." Jawab Zahira sambil tersenyum manis dan meletakkan gelasnya.


Bi Sum dan Zahira sedang asyik menyiapkan sarapan pagi di hari pertama sebagai menantu di keluarga Hadid. Keluarga ini merupakan keluarga yang kaya namun sering berbagi dengan orang lain. Bahkan saat ini keluarga Hadid sedang membangun panti asuhan dan beberapa masjid di Kota ini.


Bi Sum tampak bahagia dengan kehadiran Zahira, setidaknya cahaya terang menerangi keluarga ini. Setelah terpuruk selama beberapa tahun karena kematian putra sulungnya yang begitu tragis.


Bu Hadid melihat Zahira yang sedang di dapur dengan senyum lega. Dia merasa senang jika menantunya nyaman berada di Masion ini. Bu Hadid tahu benar bagaimana perjalanan kehidupan Zahira. Yang awalnya hidup dengan segala kemudahan kemudian harus benar-benar jatuh saat pamannya yang serakah memperdaya pak Renaldi hingga semua usahanya tutup atau dijual untuk melunasi hutang-hutang yang tidak pernah pak Renaldi lakukan.

__ADS_1


Inilah hidup sebenarnya, terkadang keluarga menjadi sumber kebahagiaan namun ada kalanya keluarga yang menorehkan luka dan kesakitan.


__ADS_2