Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
Merenung


__ADS_3

Pagi ini rasanya pagi yang berat. Tidak biasanya Adara terbangun tanpa sosok Gevan disampingnya. Tidak ada ucapan selamat pagi, atau sekedar kecupan.


Rasa kecewa telah menyelimuti hatinya, untuk saat ini. hanya ada rasa kecewa yang tertanam di hati Adara, baru saja ia mencintai laki-laki yang dulunya bahkan tidak ia sukai sedikitpun.


"Sus.. kapan ya saya bisa cepat pulang." Tanya Adara kepada suster yang saat ini memberinya obat.


"Saat ini kakak harus mendapatkan perawatan yang lebih intensif, karena kakak masih ada pendarahan sedikit." Jawab suster tersebut.


"Gitu ya sus, makasih ya sus." Ucap Adara.


"iya kak, apa ada yang kakak butuhkan lagi?" tanya suster.


"gak ada sus." Jawab Adara.


"yasudah, kalo begitu saya mau ke ruangan pasien yang lain yaa kak."


"Baik sus."


Tak lama kemudian, Wisnu dan Stela datang.


"morning sayang,." Ucap Wisnu.


"morning paa."


"Sayang, kamu udah makan?." Tanya Stela.


"Udah kok ma, kalian gimana?." tanya Adara.


"Kita udah sayang." Ucap Wisnu.


Wisnu duduk disebelah Adara, ia ingin menanyakan hal yang terjadi kepadanya, sampai ia harus mengalami keguguran.

__ADS_1


Adara menceritakan secara rinci kejadian yang menimpanya, mendengar hal itu. Wisnu akhirnya geram mendengar jika Gevan terlibat dalam masalah ini.


"Gevan?." Tanya Wisnu. Adara mengangguk.


"papa gak nyangka, pantas saja Gevan menyalahkan dirinya atas kejadian ini. Papa akan buat perhitungan sama Gevan." Ucap Wisnu.


"Gak usah pa, gapapa. Tapi aku mau cerai sama Gevan, aku gak mau balik lagi pa." Ucap Adara memohon.


"Sayang, kita harus membicarakan ini sama keluarga Gevan. Karena mereka juga harus tahu keputusan kamu, kita harus pilih jalan tengah." Ucap Wisnu.


"Iya, papa kamu benar. Karena pernikahan itu keputusan dua keluarga, jadi kita harus membicarakan ini sebelum kamu ambil keputusan." Sambung Stela.


Adara hanya terdiam, ia berfikir apakah ia siap kehilangan Gevan. Walaupun ia tahu jika Gevan sudah menyakitinya, bahkan sampai mengakibatkan dirinya kehilangan calon bayi.


...Dirumah Gevan...


"Gevan, kamu jangan ketemu sama Adara dulu. Mama takut dia masih emosi sama kamu, untuk beberapa hari ini saat Adara dirawat. Biar mama yang jengukin Adara." Ucap Anggita.


"Tapi aku mau ketemu sama Adara ma." Ucap Gevan.


"Kalo aku gak ketemu sama Adara, pasti dia mikir kalo aku beneran gak peduli sama Adara ma."


"Yaudah lah terserah kamu, jangan mohon mohon lagi untuk bujuk Adara agar dia maafin kamu." Kata Anggita.


"Ini ada apa si, kalian ribut melulu." Tegur Bimo.


"Itu pa, masalah Gevan sama Adara. Gevan ini udah keterlaluan, masa dia nginep di hotel berdua sama cewek." Anggita mengadu ke Bimo.


"Jadi yang terjadi sama Adara itu karena ini?." Ucap Bimo, ia baru mengetahuinya.


"Iya pa, emang pantes kalo Adara akan minta cerai. Mama juga kalo di posisi dia pasti bakalan minta cerai." Ucap Anggita membuat Gevan kesal.

__ADS_1


"Mama kok gitu, jangan lah ma. jangan biarin


aku sama Adara cerai. Aku cinta sama dia." Ucap Gevan.


"Kalo kamu cinta kenapa kamu melakukan ini sama Adara?. Mama juga sayang sama Adara."


"Aku khilaf ma."


"Udah sekarang kamu dengerin kata mama kamu. Sekarang jangan dulu ketemu sama Adara, dan mama juga jangan terlalu manjain Gevan. Dia itu anak laki laki harus bisa bertanggungjawab." Ucap Bimo.


Gevan terdiam, lalu Anggita bergegas pergi kerumah sakit dan Bimo juga akan kerumah sakit karena belum sempat menjenguk menantunya.


Gevan berangkat ke kantor untuk menenangkan pikiran. Walaupun tidak ada tenaga untuk melakukan kegiatan apapun.


...Dirumah sakit ...


Anggita dan Bimo tiba, ia menuju ke kamar dimana Adara dirawat. Disana sudah ada Wisnu dan Stela yang menjaga Adara.


"Assalamualaikum, mas, mba. Adara Gimana kabarnya?." Tanya Anggita.


"Maaf ya papa baru jenguk. Kemarin papa harus keluar kota." Ucap Bimo.


"Gapapa mas, Adara juga udah mendingan sekarang. Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk datang." Ucap Wisnu.


"Syukurlah kalo Adara sudah baikan. Maaf untuk apa yang sudah anak papa lakukan, Jujur papa malu nak. Bisa-bisanya dia melakukan hal yang menjijikan. Tapi papa mohon dengan sangat, kamu mau kan maafin Gevan?." Ucap Bimo memohon.


"Papa gak perlu minta maaf, Adara akan coba merenungkan keputusan aku. Aku cuma minta waktu untuk memikirkan semua ini." Jawab Adara.


"Mas, biarlah mereka menyelesaikan masalah yang terjadi di rumah tangga mereka. Kita sebagai orang tua hanya mendoakan yang terbaik untuk mereka." Kata Wisnu.


Adara harus benar benar merenungkan apa yang harus ia lakukan setelah ini. Apakah dia akan menggugat cerai Gevan atau memaafkannya. Hanyalah dia yang tahu jawabannya.

__ADS_1


Setiap rasa sakit pasti akan ada kebahagiaan didalamnya.


Perasaan yang awalnya tidak ada, kini menjadi rasa cinta yang amat besar untuk istrinya. Begitupun sebaliknya.


__ADS_2