
"Sayang, kayaknya aku gajadi deh ajak mami tinggal sama kita." Ucap Adara tiba tiba.
"Loh kenapa?." Tanya Gevan.
"Iya Adara, gapapa kan untuk sementara waktu." Ucap Anggita.
"Atau nggak gini, ma kan kita punya ruko didekat kantor. Dan diatasnya itu ada rumah, bisa tuh di jadikan usaha juga." Saran Bimo.
"Ohh yang di pinggir jalan itu pah. Iya ide bagus tuh." Timpal Gevan.
"Iya bener, Adara lebih baik mami kamu tinggal disana aja. Biar sambil buka usaha disana, bisa rumah makan atau salon. Itu lumayan besar loh." Kata Anggita.
"Tapi ini beneran gapapa mah, pah. Atau biar aku yang bayar uang sewanya ya." Ucap Adara.
"Gausah, Adara. Kamu pake sampai kapanpun gajadi masalah, lagian itu cuma sitaan dari orang yang punya hutan. Jadi it's okay." Ucap Bimo.
"Aku hutang Budi sama mama sama papa." Ucap Adara.
"Adara kamu sekarang kan sudah jadi anak menantu mama sama papa! selagi kita masih bisa bantu kenapa nggak. Lagian kalo mami kamu tinggal di rumah, mama rasa ayah kamu agak keberatan." Kata Anggita, ia merasa mimik muka Wisnu berubah kala Gevan menyebut nama Ranti.
"Iya mama benar, memang papah seperti gak suka jika aku serumah sama mami, tapi aku tahu alasannya. Dan aku gak bisa memaksakan itu." Ucap Adara.
"Mama tahu, mungkin ada rasa sakit didalam hati ayah kamu." Ucap Anggita.
"Iya ma, yaudah nanti aku kabarin mami untuk pindah ke ruko itu."
"Biar papa telpon cleaning servis untuk membersihan ruko, karena dekat kok sama perusahaan papa." Ucap Bimo.
"Makasih yaa pah, mah." Ucap Adara.
...Ia merasa sudah benar benar dianggap keluarga oleh keluarga Gevan, hingga mereka tidak menghitung pengeluaran yang mereka keluarkan untuk membantu Adara....
"Yaudah, mama sama papa pulang dulu ya! Mama titip Gevan ya nak, maaf kalo Gevan merepotkan kamu." Kata Anggita.
"Mama apaan si, kan Gevan suami aku udah sewajarnya aku mengurus suami aku yang lagi sakit Dan aku akan jaga suami aku dengan sebaik mungkin." Ucap Adara sembari tersenyum.
"Iya mama percaya." Anggita memeluk Adara.
"Gevan kamu gak boleh terlalu merepotkan Adara, kasihan dia. Ya." Kata Bimo sembari menepuk bahu Gevan dengan lembut.
"Iyaa paa."
...Anggita dan Bimo pulang, sisa Adara dan Gevan berdua. Adara belum berniat untuk menceritakan tentang Tiffany yang datang kerumahnya, karena takut jika Gevan merasa terbebani dan mengalami sakit lagi....
...Adara menyembunyikan itu dari Gevan untuk kesehatannya, nanti jika Gevan sudah sembuh total barulah Adara akan menceritakan semuanya....
"Sayang, kamu lebih baik istirahat lagi yaa. Biar cepat pulang dan aku bisa ngurusin kamu di rumah. Kamu juga pasti gak nyaman kan disini." Kata Adara, yang sedang duduk di sebelah Gevan.
"Iya, aku gak sabar segera tidur diranjang kita. Kamu tahu aku udah hias kamar kita sama seperti kamar pengantin pada umumnya, dengan taburan bunga mawar merah di ranjang dan lainnya." Kata Gevan.
__ADS_1
"Oh ya? Kebayang sih pasti bunganya udah pada kering." Ucap Adara sembari membayangkan suasana kamar.
"Iya, kan habis itu aku tinggal di rumah mama sama papa." Ujar Gevan.
"Lagian kamu, dimaafin aja belum pasti. Ini udah pake hias hias kamar aja, jadi sia sia kan." Tegur Adara.
"Yaa kali aja diajak kekamar udah langsung luluh. lah ini mau peluk aja ditepis." Sindir Gevan.
"Aku juga sebenarnya gak tega, tapi itu jadi pelajaran buat kamu. Jangan kamu bermain api kalo tidak ingin terbakar." Pesan Adara.
"Iya iya, gak lagi deh. Aku sayaaaaanng banget sama kamu." Gevan mendekat ingin mencium Adara.
"Eisttt.. orang sakit gak boleh ciuman." Adara menjulurkan lidahnya.
"Gasabar pengen gigit bibir kamu." Ucap Gevan membuat Adara salting.
"Vaaan.. ihh takut ada Suster masuk. Nanti aja kalo udah dirumah, kamu boleh cium aku sepuasnya. Asal kamu sembuh dulu, Ya." Ucap Adara mengusap pipi Gevan.
"Iya deh iaa.. tapi bonusin ya."
"Bonusin apa??."
"Itu looo, yang kayak di bathtub." Ucap Gevan mengingatkan ketika mereka sedang berbulan madu.
"Vaaannn. Diem yaa! Aku cubit baru tahu.." Ancam Adara.
"Emang salah ya.."
...Gevan tersenyum mesum, Adara sudah mulai merasa gerah. Kata kata yang Gevan ucapkan membuatnya merasa bergairah....
...Gevan memeluk Adara dengan erat, jika saya ia tidak mengalami kecelakaan mungkin saja saat ini Adara sudah tidak disini. Itu membuatnya hampir gila....
...Pintu terbuka, seorang dokter ingin memeriksa keadaan Gevan....
"Permisi pak, saya mau memeriksa keadaan bapak." Ucap dokter itu.
"Iya dok silahkan."
...Dokter memeriksa keadaan Gevan, dan ia merasa jika besok Gevan sudah bisa pulang. Karena keadaannya yang semakin membaik....
"Ini sungguh keajaiban pak, bapak mengalami kecelakaan yang sangat parah. Namun dengan kuasa Tuhan bapak bisa selamat dan tidak mengalami cedera apapun pasca operasi."
"Iya dok Alhamdulillah, saya juga tidak merasakan sakit apapun saat ini. Namun sesekali pusing saat bangun tidur." Jelas Gevan.
"Itu biasa terjadi kepada pasien yang operasi kepala, Dan besok bapak bisa segera pulang. Tapi harus kontrol, nanti saya jadwalkan untuk kontrol nya pak."
"Baik dok, saya senang bisa segera pulang."
"Iya pak, kalo begitu saya tinggal dulu pak, buk." Ucap dokter itu kemudian meninggalkan ruangan.
__ADS_1
...Gevan dan Adara merasa senang Gevan akan segera pulang kerumah. Mereka merasa doanya terkabul....
"Kaann, kita akan segera pulang. Biar lebih leluasa di rumah." Kata Gevan.
"Iya Van, aku senang.." Ucap Adara.
...Brian datang untuk menjenguk kembali sahabatnya....
"Hallo Gevan.. Gimana kabar Lo bro." Tanya Brian.
"Baik, Bro besok gue pulang ." Kata Gevan.
"Wah, Gue seneng dengarnya. Tapi gue sedih kita gak bisa kumpul lagi bertiga sama Excel." Ucap Brian.
"Sangat disayangkan Excel bisa berbuat seperti itu yaa! padahal kalian dulu akrab banget. Tapi nasi sudah menjadi bubur, Excel harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu." Kata Adara.
"Iya, gue yakin setelah dari penjara Excel bisa menjadi manusia yang gak dendaman lagi, Ini semua gara gara Tiffany! Dia yang adu domba gue sama Excel. Dan gue juga gak nyangka Excel bisa suka sama Tiffany, padahal dulu dia yang paling benci sama Tiffany gara gara nolak gue." Ujar Gevan.
"Kan kata pepatah jangan terlalu membenci seseorang, nanti kamu akan jatuh cinta. Begitupun sebaliknya." Timpal Adara.
"Iya juga ya! Dulu aku juga gak suka sama kamu, eh sekarang jadi cinta banget ." Kata Gevan.
"Alah, ia deh yang paling cinta." Brian berdecih.
"bisa aja kamu, kamu juga dulu bukan tipe aku. Eh sekarang malah kamu kayak ganteng banget." Sahut Adara, menimpali Gevan.
"Gini nih, gue males kesini karena kalian suka gak tahu tempat. Jadi nyamuk dah." Sindir Brian.
"Iya maaf, eh lagian Van kamu beruntung dapet sahabat kayak Brian. Dia itu sosok sahabat yang selalu ada, bahkan saat kamu di operasi Brian itu cemas banget." Kata Adara.
"Gue yang beruntung dapet sahabat sebaik Gevan. Yaa walaupun cassingnya aja rusak tapi dalamnya Gevan Alus banget."
"Sialan Lo. Kalo gue gak sakit nih pala udah gue tonjok Lo."
"Ehh udah jangan marah marah. Nanti gantengnya ilang." Adara melempari gombalan.
"Kamu juga mundur deh, cantiknya kelewatan." Timpal Gevan.
"Kayaknya gue harus pergi deh. Gerah banget disini." Ucap Brian.
"Dih, cemburu ya sama gue. Lo kapan si dapet jodoh? Gak sabar lihat Lo bucin sama cewek." Ejek Gevan.
"Apa untungnya buat Lo? Nih ya Adara. Setiap gue deket sama cewek pasti habis itu si ceweknya malah nanyain Gevan. Abis itu..." Belum sempat berbicara lagi, Gevan sudah memberi kode untuk berhenti berbicara.
...Brian melirik ke arah Adara yang cemberut, sehingga menghentikan Brian berbicara....
"Terusin aja gapapa.. " Ucap Adara.
"Yaa, Abis itu gue gak jadi Deket sama cewek.. Hehe.." Brian menyeringai.
__ADS_1
...Gevan bernafas lega, ia takut akan ada ngambek jilid 2....