
"Caraa.. udah jangan galau lagi! kan masih ada kita disini." Goda Excel membuat Clara berdecih.
"Paan si lo cel? kayak tau aja galau itu kek gimana? lo taunya keluar masuk aja soal perasaan. Gak pernah kan pacaran sampai melakukan sexs hampir tiap hari dan emang itu karena saling sayang." Ucap Clara.
"Ya itu salah lo sendiri, jadi cewek kok ga bisa jaga harga diri. Taunya cuma dia Cinta sama lo dan bodohnya lo percaya! Clar sebajingan bajingannya cowok pastinya dia mau istri yang baik baik." Ucapan Brian menampar keras hati Clara.
"Kenapa lo gak pura pura hamil aja! siapa tau dia lebih milih lo daripada dia, ya kan? Celetuk Excel.
"Cel, lo gila. Udah deh Clara lo gak usah ngelakuin hal gila kayak si Excel. Lo itu cantik dan seharusnya cari yang lain aja masih banyak kok, Contohnya aja gue." Ucap Lucky.
"Kalian sama aja, gak ada yang bener! nih ya walaupun gue suka minum minum gini sama kalian gue gak pernah tuh nyakitin cewek atau siapapun." Ucap Brian menyombongkan dirinya.
"Heh, lo nya aja yang sok suci. Giliran ada cewek aja yang gak pake baju di hadapan lo kalo lo lagi berdua pasti di santap juga." Sindir Clara..
"Udh udah, kita semuanya emang gak bener. Kalo kita manusia benar pasti kita gak bakalan ada disini! Timpal Excel,
.
.
.Keesokan harinya..
.
.
"Selamat pagi istriku." Ucap Gevan yang sedang berjalan ke arah meja makan.
"Selamat pagi juga Van! Sarapan sudah siap." sahut Adara.
"Kok panggil nama sii, mulai sekarang panggil aku sayang. Oke? Ucap Gevan sambil memeluk istrinya.
"Iya, sayang."
__ADS_1
Adara dan Gevan sarapan bareng, kemudian mereka berangkat kerja bareng. Gevan mengantarkan Adara setiap dirinya pergi ke kantor dan menjemputnya sepulang dari kantornya.
Sampai di Kantor Brian, Adara turun dan segera masuk ke dalam kantor tersebut. Sementara itu Gevan langsung berangkat ke kantornya.. Namun saat Gevan sampai, tiba tiba kerumunan orang sedang melihat ada orang yang akan bunuh diri.
"Itu kenapa? Tanya Gevan ke salah satu staff kantornya.
"Itu ada yang mau bunuh diri pak." Jawab staff tersebut.
Saat melihat dengan baik, Gevan tersadar bahwa itu adalah Clara. Ia nekat mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari atas gedung kantor Gevan.
Gevan langsung berlari ke atas untuk menyelamatkan Clara. Entah apa yng dipikirkan olehnya.
"Claraaa..." Teriak Gevan.
"Stop Van! stop disitu atau nggak aku lompat sekarang." Ancam Clara.
"Kamu ini kenapa si? ada masalah apa dengan hidup kamu sampai kamu ingin bunuh diri dengan cara seperti ini." tanya Gevan.
"Kamu nanya aku punya masalah apa? setelah apa yang kamu perbuat sama aku, kamu nanya aku punya masalah apa? Emang dasar ya laki laki bejat kayak kmu itu gak punya hati sama sekali." Ucap Clara memaki Gevan.
"Van, aku gak bisa hidup tanpa kamu! Lebih baik aku mati daripada aku harus melihat kamu bahagia dengan istri kamu. Aku gak sanggup Van." Clara menangis berharap Gevan akan luluh dan mereka balik lagi.
"Clara... Oke sekarang kamu turun kita omongin baik baik ya! Bujuk Gevan.
"Aku mau turun, kalo kita bisa balikan lagi. walaupun gak serumah aku gapapa van, Asalkan kamu sama aku masih bisa bersama." Pinta Clara.
"Tap-ii Clar...
"Atau kalo nggak aku terjun sekarang! Ancam Clara.
"Oke, oke, kita balikan asal kamu turun." Ucap Gevan mengiyakan permintaan Clara.
Clarapun turun dan segera memeluk Gevan yang berdiri tidak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
"Makasih Van! Ucap Clara.
Gevan membalas pelukan Clara, " iya, Clara.. kamu harus janji gak akan gini lagi ya! Aku takut kalo kmu sampe beneran bunuh diri." Ucap Gevan mengambil nafas lega
Clara akhirnya turun dan ia pergi kerumahnya dengan perasaan bahagia, Gevan akhirnya balik lagi ke pelukannya.
**Dikantor Brian..
"Dara!" Panggil Brian.
"Iya pak, ada apa ya?
"Kamu jaga Gevan ya! usahakan untuk bersama dirinya kemanapun dia pergi dan beri dia waktu lebih untuk berduaan." Ucap Brian mewanti-wanti agar Adara menjaga Gevan dari Clara.
"Maksudnya gimana ya? masa iya aku harus ikutin dia kemanapun pergi. Gak enak ah masa harus se overprotektif banget." Sahut Adara yang sebenarnya juga takut akan kenakalan suaminya.
"kan saya semalem habis nongkrong sama dia, tapi si Excel bilang suruh pura pura hamil biar Gevan tanggung jawab sama dia. Tapi mudah mudahan itu tidak akan terjadi ya Dara." Ucap Brian yang memberitahu tentang obrolan mereka semalam.
"Makasih udah ingetin aku." Ucap Adara hatinya semakin tidak karuan.
Omongan Brian berhasil membuat Adara selalu berfikir negatif kepada suaminya, walaupun Gevan selalu berbuat manis akhir akhir ini. Namun Adara tidak bisa percaya 100% kepada suaminya.
Waktu terasa semakin cepat, malampun tiba Adara dan Gevan sudah bersantai menonton TV.
"Apa kamu tidak takut kalo Clara hamil? Tanya Adara secara tiba tiba membuat jantung Gevan serasa berhenti sejenak.
"Sayang, Pertanyaannya kok gitu? ya jangan sampai itu terjadi dong! Emang kamu mau kalo Clara hamil dan aku meninggalkan kamu? Ucap Gevan berusaha untuk tidak memperlihatkan wajah paniknya.
"Secara kan kamu sering bercinta sama dia, apa itu tidak membuatnya hamil?
"Ya nggak dong sayang, kan dia pake pil kb untuk jaga jaga agar tidak hamil. Dia juga sering kok berhubungan sama Lucky." Ucap Gevan.
"Syukur deh kalo gitu." Ucap Adara bernafas lega dengan jawaban yang Gevan berikan.
__ADS_1
"Maafkan aku dara, aku janji akan segera menyelesaikan masalah aku dan Clara agar tidak menyakitimu lagi. Aku sayang kamu." Gumamnya dalam hati**.