
Sebuah pesan terkirim kepada Adara, ia tak segera membuka nya hanya ada nomor tidak dikenal yang mengirim pesan kepadanya.
Lalu Adara kembali ke kantor bersama rekannya yang lain, setelah itu Adara mulai melihat pesan tersebut. Sebuah foto menunjukan kebersamaan suaminya dan Mona.
Walaupun perasaanya sedikit terguncang, namun Adara memilih diam. Ia tidak ingin mempermasalahkannya, ia tidak ingin berdebat dengan siapapun saat ini.
Hari menjelang sore, Adara dan Gevan pulang dalam waktu yang berbeda.
"Sore bi." Sapa Adara yang lebih dulu sampai.
"Sore non, mau makan malam?"
"Iya bi, bibi masak kan?"
"Iya non, nanti magrib bibi masak biar masih anget." Ucap Sumi.
"Iya bi, kalo gitu Adara mandi dulu ya Bi." Adara naik ke lantai atas.
Tak berselang lama Gevan datang lalu ia langsung naik ke kamar, saat Gevan masuk Adara sudah dalam keadaan habis mandi. Memakai piyama Handuk dan sedang mengeringkan rambutnya.
"Kamu udah pulang." Ucap Gevan.
"Iya, kamu sendiri tumben pulang jam segini." Sahut Adara.
"Memangnya aku harus pulang jam berapa Ra?" Tanya Gevan.
"Kenapa gak kayak kemarin, pulang malam dalam keadaan mabuk. Diantar Brian padahal kamu mabuk sama cewek." Ucapnya datar.
"Aku itu pusing sama sikap kamu, makanya aku meluapkan kekesalan aku lewat minuman. Lagi pula aku sama Mona biasa aja." Sahut Gevan, ia meletakan jasnya di tempat biasa.
"Yaa yang namanya mabuk, mana orang sadar. Tapi aku gak perduli sih kamu mau berbuat apapun." Ucapnya kemudian pergi untuk memakai baju.
"Kenapa jadi gini ya, kamu boleh tanya sama Mona kita ngapain aja."Kata Gevan.
"Ga perlu, aku gak perduli juga sama apapun tentang kamu diluaran sana sama cewek manapun. Yang penting kamu pulang." Ucap Adara membuat Gevan tertegun.
"Kenapa gitu, itu tandanya kamu gak sayang sama aku." Kata Gevan.
"Harus bagaimana lagi aku menjelaskan aku sayang sama kamu, apa dengan berkorban perasaan itu sama sekali bukan bukti Van? Aku capek dengan semua ini." Adara mulai menaikkan nada bicaranya.
"Ya tapi emang salah aku berteman dengan perempuan toh kamu juga pasti punya teman laki laki kan."
__ADS_1
"Tapi apa perlu ketemu tiap hari, tiap waktu?"
"Maksud kamu apa?"
"Ini." Adara menunjukan foto di handphone nya.
"Astaga Adara, ini cuman makan siang biasa." Jelas Gevan.
"Ya, apa harus pegangan tangan?"
Gevan terdiam, lalu Adara meninggalkan Gevan di kamar.
"Sialan, siapa yang fotoin gue sama Mona ya." Gumamnya.
Kemudian Gevan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Adara pergi ke dapur untuk membantu Sumi menyiapkan makan malam. Bagaimanapun dia adalah seorang istri yang harus melayani suaminya.
Anggita mengantar suaminya Ziarah ke makam anak perempuannya, mereka memakamkan anaknya di pemakaman umum dekat dengan tempatnya tinggal. Dikarenakan Almarhum istrinya Bimo tidak mempunyai keluarga.
"Nak, ini papa sayang."
"Papa kangen sama kamu, bertahun tahun papa merindukan sosok anak perempuan. Papa hanya bisa mengirimkan kamu doa agar kita bisa bertemu lagi nanti."
"Maafkan ayah nak, tidak menemani kamu disana. Tapi perlu kamu tahu, papa sayang sekali sama kamu."
Bimo menangis di makam anaknya, di saksikan oleh Anggita. Walaupun hatinya sakit saat melihat makam madunya yang sudah mengkhianatinya. Anggita rela member Bimo waktu untuk menghabiskan waktunya menangisi anaknya kembali.
Anggita mengusap punggung Bimo, untuk menguatkan laki laki yang sedang hidup bersamanya.
Ditempat lain, Brian menjenguk Excel di penjara. Ia menceritakan semua yang terjadi kepada Tiffany.
"Begitu banyak yang terjadi cel, gue sangat tidak menyangka ini bisa terjadi."
"Jujur gue gak nyangka atas kejadian yang menimpa Tiffany, tapi disisi lain gue senang orang yang sudah membuat gue seperti ini sudah tiada. Tapi gue juga turut prihatin terhadap Tiffany dan Lo harus bantu kasusnya untuk naik." Pesan Excel.
"Gue juga berusaha untuk itu cel, dan yang gue bingung. Mona datang lagi ke kehidupan Gevan Cel. Gue bingung cara ngasih tahu Gevan jika Mona itu bisa membahayakan hubungannya dengan Adara." Ucap Brian.
"Mona, kok bisa? Jangan bilang kalo mereka mabuk lagi." Kata Excel syok.
"Itu dia masalahnya, Gevan sudah mulai mabuk mabukan lagi. Mana nyusahin gue lagi, gue yang harus cari alasan sama Adara dan gue hanya bisa meyakinkan dia kalo Gevan bisa berubah."
"Iya Brian, sebelum semuanya terlambat Lo harus selamatkan pernikahan mereka. Andai gue keluar dari sini pasti gue akan bantu Lo untuk masalah ini."
__ADS_1
"Gue akan coba ngomong sama Adara tentang masalah Lo, gue orang yang melaporkan Lo dan saat gue cabut laporan itu harus ada persetujuan dari semua pihak terutama korban."
"Gue paham kok, gapapa gue cuma bisa doakan yang terbaik untuk mereka. Dan untuk Lo juga."
"Makasih ya cel, gue tahu Lo orang baik."
"Sama sama Brian, gue juga berterima kasih karena Lo tidak membuang gue."
"Gak lah, gue harus bersikap netral. Disisi lain Lo sahabat gue, tapi gue juga gak bisa bela Lo kalo berbuat salah."
"Iya gue paham, oh iya ni gue kasih makanan kesukaan Lo." Brian memberikan sebungkus makanan kesukaan Excel. Burger king.
"Gue terharu yan." Excel mengusap air matanya.
"Santai aja cel, ngapain nangis ah elah." Brian juga merasakan kesedihan.
Brian melihat Excel memakan burger tersebut dengan lahap membuatnya merasa prihatin dengan apa yang menimpanya. Namun disisi lain ia juga mengajarkan Excel tentang bagaimana kejahatan itu sangat tidak enak ujungnya.
Ditempat lain, Mona mengirimkan beberapa pesanan dari pelanggannya yang sudah keep barang. Ia merasa senang bisnisnya berjalan dengan lancar, ia sangat bersyukur dengan kehidupannya sekarang. Tidak perlu kaya asalkan ia bisa menyambung hidup dengan menjual berbagai macam barang dengan cara halal.
Ia berkaca dari Tiffany, yang berlebihan itu tidaklah baik.
"Aaahhh, gue seneng banget akhirnya pesanan gue dua kali lebih banyak."
Mona mengirim pesan kepada Gevan.
Isi pesan..
"Van, lihat deh. Pesanan aku hari ini banyak banget. Kenapa ya sejak kita Deket lagi rejeki aku makin lancar." Mona mengirimkan foto.
"Wah, selamat ya! Semoga usaha kamu kedepannya semakin sukses tanpa ada halangan apapun."
"Iya Van, makasih ya. Kamu mau gak aku pilihin kemeja, lumayan untuk kamu ke kantor. Yaa walaupun tidak semahal barang yang kamu punya."
"Gak usah repot-repot, pake kasih aku segala."
"Ih gapapa, ini bentuk terimakasih aku ya sesekali aku traktir ya kan."
"Makasih sebelumnya.".
Gevan terlihat senyum sendiri disaat bergelut dengan handphone tanpa menghiraukan istrinya yang berada didepannya.
__ADS_1