Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
Kebahagiaan, Benarkah?


__ADS_3

Sampainya di rumah, Adara berniat untuk membereskan baju yang ada di koper milik Gevan. Saat ia membereskanya ia melihat struk pembayaran hotel yang Gevan sewa.


dengan keterangan 2 kamar dengan connecting room.


"Gevan ke Yogyakarta katanya sendiri, tapi kok pesan 2 kamar. Apa aku tanya aja kali ya!."Gumam Adara.


Gevan yang baru keluar kamar mandi melihat Adara memegang sehelai kertas.


"Sayang..."Seru Gevan.


"Sayang, aku mau nanya deh sama kamu. Katanya kamu ke Jogja sendirian ya, tapi kok kamu pesan 2 kamar." Tanya Adara.


Deg!!! Gevan bingung dengan jawaban yang akan ia berikan kepada istrinya, ia terpaksa harus berbohong lagi. Dan Gevan mengingat bahwa dia sempat bertemu dengan Anjani.


"Ia sayang, aku gak jadi sendiri. Sekertaris aku jadinya ikut karena aku gak mungkin sendirian kesana. Dadakan banget si emang."Gevan berdalih.


"Gitu ya!! Kata Adara berusaha percaya.


"Iya sayang, maaf aku gak bilang dulu sama kamu! Soalnya pas paginya aku dikabarin kalo dia jadi ikut. itu juga suruhan papa."Jelasnya.


"Tapi, apa harus pake kamar connecting room? Tanya Adara lagi.


"itu.. ehh.. soalnya hotelnya penuh! Jadi aku pesan kamar yang ada sayang. Kenapa kamu curiga sama aku? Sayang aku gak mungkin berbuat sesuatu seperti dulu lagi. kan aku udah janji sama kamu." Kata Gevan meyakinkan.


Adara nampak kurang percaya dengan penjelasan Gevan.


"Gini deh kalo kamu gak percaya, kamu tanya sama Anjani! Aku sempat ketemu sama dia di pesawat. dia juga tau aku kesana sama siapa."Ucapnya.


"Iya sayang iya, nanti aku tanyain sama Anjani. Kamu itu gak bisa aku percaya begitu saja, Katanya kalo orang yang pernah berkhianat dia akan terus melakukannya. Aku harap kamu gak gitu "Ucap Adara tersenyum.


"Jadi ceritanya kamu nyindir aku nih!."sahut Gevan merasa tersindir.


"Itu kalo kamu kesindir, kalo nggak ya berarti bukan."Ucap Adara membuat Gevan terdiam.


Adara melanjutkan membereskan baju baju Gevan, namun Gevan terlihat gusar.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Udah jangan pikirkan omongan aku, aku akan percaya sama kamu. Dan kalo kamu merusak kepercayaan aku, mungkin kesempatan itu gak akan datang lagi."Ucap Adara dengan nada mengancam.


Gevan hanya terdiam, ia hanya bisa berbicara dalam hatinya. Permintaan maaf saja mungkin itu tidak akan cukup untuk menumbuhkan lagi rasa percaya istrinya terhadap Gevan. karena ia sudah sering kali mengkhianati Adara yang notabene adalah istrinya.


Sore harinya, papa dan mama Gevan mengunjungi rumah mereka.


"Assalamualaikum,"Anggita mengucapkan salam.


Sementara itu, bi Sumi yang membukakan pintu karena Adara dan Gevan sedang berada di kamarnya.


"Waalaikumsalam, silahkan masuk bapa ibu."Sahut Bi Sumi.


"Bi, Gevan sama Adara dimana? Tanya Anggita.


"Mungkin di kamarnya Bu, sebentar biar saya panggil dulu."Jawab bi Sumi, lalu pergi ke atas untuk memberitahukan kedatangan orang tua Gevan.


"Non, Aden... Di bawah ada Bu Anggita sama pak Bimo."Kata Bi Sumi.


Adara mendengar bi Sumi mengetuk pintu dan memberitahukan kedatangan orang tua Gevan yang mendadak.


Gevan yang tengah tertidur tiba tiba terbangun mendengar kata papa.


"Papa??....


"Iya, ayok ke bawah."Ajak Adara.


Adara segera bergegas membuka pintu kemudian di susul oleh gevan.


"Bi, tolong buatin minum ya!Seru Adara.


"Baik non."Bi Sumi lebih dulu ke bawah di susul oleh Adara kemudian oleh gevan.


"Mama sama papa kesini kok gak bilang bilang? Tanya Gevan dari atas.


"Sayang, kamu harusnya seneng dong mama sama papa datang."Tegur Adara.

__ADS_1


"Iya, aku seneng tapi maksudnya kok tiba tiba sih."Ucap Gevan.


Kemudian Adara mencium tangan kedua orang tua Gevan, begitupun Gevan.


"mama sama papa sengaja kesini sayang, soalnya tadi kata temen mama lihat kalian keluar dari rumah sakit. Apa kalian baik baik aja?."Jelas Anggita.


"Oh, soal itu ma."Sahut Gevan.


"Iya van, sama satu lagi. Kalian kok udah pulang dari Jogja? perasaan baru kemarin berangkat kok sekarang udah disini aja."Tanya Bimo.


"Iya pah, lagian semuanya sudah selesai kok. Makanya aku pulang cepet soalnya khawatir sama Adara. Kasian kalo di tinggal lama lama."Kata Gevan.


"Lho, bukanya papa suruh kamu untuk ajak Adara? Lagian hotel pesanan papa kok kamu cancel."Tanya Bimo lagi.


Mendengar hal itu, Adara sama sekali tidak mendapat ajakan dari suaminya. Belum lagi soal kamar hotel.


"Ini pah... kita kan baru saja pulang dari Bangkok. Jadi aku gak mau Adara kecapekan, Kita kan sedang ikut program kehamilan. Dan soal tadi, aku jemput Adara di rumah sakit karena dia abis dari dokter kandungan."Kata Gevan.


"Gimana sayang hasilnya? Tanya Anggita mengalihkan pembicaraan.


"Sekalian aja aku mau ngomong ma, pa."Ucap Adara dengan wajah berseri.


Anggita dan Bimo mendengarkan Adara dengan seksama.


"Kata dokter, Alhamdulillah aku hamil. Dan sekarang memasuki usian kehamilan 5 Minggu."Kata Adara.


Mendengar hal itu, Anggita, Bimo dan Gevan merasa senang.


"Sayang, ini serius? Tanya Gevan tidak percaya.


Adara mengangguk, kemudian Gevan memeluk istrinya dengan erat sambil meneteskan air mata bahagia sekaligus penyesalan atas yang ia lakukan di hari kemarin. Dan merasa takut akan kebongkarnya nanti persoalan antara dirinya dan Tiffany. Dan mungkin saja masalah sedang mengintai mereka.


"Sayang, selamat ya. Papa sama Mama ikut seneng dengernya! kita sudah menunggu menunggu momen ini dari lama sayang. Semoga kamu dan bayi kamu sehat ya!."Ucap Anggita.


"Iya Adara, kamu jangan kecapekan ya! Dan kamu Gevan. Jaga istri dan calon anak kamu, kalo terjadi apa-apa papa gak akan memaafkan kamu."Ancam Bimo.

__ADS_1


Gevan pun mengangguk dan kembali merangkul istrinya, melihat itu Anggita dan Bimo merasa bahagia dengan pernikahan anak semata wayangnya. Ditambah lagi dengan perubahan Gevan yang sangat besar semenjak menikah dengan Adara


__ADS_2