
...Seminggu kemudian, Bimo mengajak keluarganya untuk kembali ke Jakarta. Keadaan Gevan yang sudah sembuh membuat mereka siap menghadapi masalah yang dibuat oleh Tiffany....
...Sampailah dijakarta, Yassa ikut bersama keluarga Bimo menggunakan sepeda motor miliknya....
"Bi, tolong tunjukin kamar tamu untuk Yassa. Bibi sudah bereskan kamarnya?" Bimo memerintah.
"Sudah tuan.. Mari." Bi Santi membawa Yassa ke kamar tamu yang berada dilantai atas tepat disebelah kamar Gevan.
"Mah ,pah. Mungkin dalam dua hari ini kita nginep disini dulu. Habis itu kami akan pindah kerumah kami." Ucap Adara.
"Gapapa sayang, sampai kapanpun kalian mau. Boleh tinggal disini." Sahut Anggita.
"Iya ma, kalo gitu aku ke kamar ya" Adara pergi ke kamarnya.
...Sementara itu Gevan masih berada di luar, ia melamun memikirkan Tiffany yang mengaku jika ia hamil anak Gevan....
"Kok bisa Tiffany ngaku kalo gue hamilin dia, padahal kan kita gak ngapa ngapain. Kayaknya ada yang aneh." Batin Gevan.
...Sementara didalam kamar, Adara mengaktifkan ponselnya. selama mereka di Bandung Adara tidak membuka ponselnya sama sekali....
Banyak pesan di hpnya..
"Adara kamu sudah sampai Jakarta belum.."
"Adara ada masalah yang ingin aku bicarakan."
"Adara, kapan kalian pulang."
"Adara Tiffany selalu mengancam."
"Adara hubungi aku kalo kamu sudah sampai."
...Itu merupakan pesan dari Brian, Lalu Adara menelpon Brian untuk mengabari jika dirinya sudah sampai di Jakarta....
Ditelpon..
"Hallo, Adara kamu sudah sampai Jakarta?"
"Hallo Brian, aku baru sampe di rumah papa Bimo."
"Tiffany selalu menanyakan kapan ia akan bertemu keluarga Gevan untuk membicarakan kehamilan ini."
"Aku belum nanya sama mereka, apa mereka siap untuk ketemu Tiffany. Aku akan coba bicarakan dulu sama mama papa Gevan ya Brian. Nanti aku kabarin lagi ."
"Iya Adara.." Brian menutup telponnya.
Adara bergegas ke bawah untuk memberitahukan Bimo dan Anggita.
"Ma, pa. Maaf aku mengganggu, Tiffany selalu mengancam Brian untuk bisa bertemu dengan kalian."
"Astaga, yasudah. Nanti malam suruh dia datang." Ucap Bimo tegas.
"Iya, biar masalahnya selesai. Mama pusing dengernya." Kata Anggita.
"Ada apa ini.." Tanya Gevan yang baru saja masuk.
"Sayang, apa kamu siap bertemu dengan Tiffany?" Tanya Adara.
"Aku siap, aku gak salah dan gak akan takut dengan ancaman apapun yang Tiffany katakan. Suruh dia datang."Kata Gevan.
"Baik, nanti aku kabarin Brian."
...Adara kembali ke kamarnya dan segera mengabari Brian untuk membawa Tiffany kerumah keluarga suaminya. Mereka ingin segera masalah ini cepat selesai, agar tidak ada lagi masalah yang akan menimpa mereka....
"Hallo Adara, gimana?"
__ADS_1
"Brian kamu boleh bawa Tiffany nanti malam, kita sudah siap untuk bertemu dengan dia."
"Yaudah nanti aku bawa dia kerumah om Bimo."
"Iya Brian, makasih ."
"Sama sama Adara."
Ditempat Lain...
"Brian belum ada hubungin gue lagi, awas aja kalo gak ditepatin gue bakal hancurin hidup mereka." Gerutu Tiffany.
"Lo kenapa si dendam banget sama keluarga Gevan." Tanya Mona.
"Yaa gue gak terima aja Gevan campakan gue gitu aja di hotel Jogja. Lagian gue udah ketanggung basah waktu itu, Gevan malah ninggalin gue." Jelasnya.
"Cuma itu masalahnya.. " Kata Mona meledek.
"Bukan cuma itu Mona, sebelumnya gue gak pernah diperlakukan seperti itu sama cowok. Baru kali ini aja gue digituin."
"Gue juga pernah ditinggal cowok gue nikah sama orang lain. Dan disaat gue bisa Nerima itu Dia malah ninggalin gue dan memilih istrinya yang dijodohkan oleh keluarganya." Kata Mona.
"Mon serius?"
"Yaa, tapi gue gak bisa berbuat apa apa."
"Kenapa?"
"Yaa karena gue cuma di pake doang sama dia, gue cuman nemenin dia disaat dia galau dan mabuk." Jelas Mona.
"Mona, gue di labrak sama anaknya Reno." Kata Tiffany membuat Mona kaget.
"Serius.. Terus gimana?"
"Yaa gue ngelak lah, yakali gue ngaku kalo gue simpenan bokapnya. Yang buat gue malu adalah dia ngelabrak gue didepan banyak orang." Ungkap Tiffany.
"Yaa untungnya, eh Lo mau gak gue kenalin sama Sugar Daddy." Kata Tiffany.
"Gue geli kalo lihat bapak bapak tua, perut gendut gitu." Ejek Mona.
"Wah Lo belum pernah ya ketemu sama sugar Daddy sungguhan, Walaupun bapak bapak tapi perut sixpack berkumis tipis dandanan rapih." Tiffany mengiming imingi Mona.
"Seriusan?"
"Iyaa, Lo cobain aja dulu." Kata Tiffany.
Mona berfikir sejenak.
Telepon Tiffany berdering..
"Hallo Tiff, nanti malam gue jemput lo. Kita kerumah orang tua Gevan."
"Nanti malam? Oke gue tunggu kedatangan Lo. Baru aja gue ngomongin Lo."
"Udah jangan banyak ngomong kita akan kesana."
"Oke.."
...Tiffany senang mendengar ucapan Brian, ia tak sabar ingin cepat bertemu dengan Gevan dan menyusun rencana pernikahan mereka....
Malampun tiba...
...Brian menjemput Tiffany dan membawanya kerumah Bimo, disana sudah ada Bimo, Anggita, Gevan dan Adara menunggu kedatangan Tiffany. Walaupun kesal namun Adara berusaha tenang....
Tiffany dan Brian datang...
__ADS_1
"Hallo, om, Tante." Sapa Tiffany.
"Gak usah basa basi, cepat kamu ngomong apa yang kamu inginkan?" Kata Bimo.
"Om galak yaa!" Ucap Tiffany menggoda.
"Tiffany jangan kurang ajar." Tegur Brian.
"Aku kesini cuma mau Gevan tanggung jawab."
"Tanggung jawab apa, sedangkan gue gak berbuat apapun sama Lo ." Timpal Gevan.
"Kamu lupa ya Van, waktu itu kita senang senang Lo buatnya. Masa sekarang kamu lupa, jangan cuma mau enaknya. Anaknya juga harus dong." Kata Tiffany.
"Jangan gila Lo, apa buktinya itu anak gue? sedangkan Lo tidur dengan banyak laki laki." Kata Gevan emosinya meradang.
...Namun Anggita tidak berkata apa apa, saking kesalnya Anggita sampai membuang muka. Ia tidak ingin melihat Tiffany....
"Kamu boleh aja gak inget Van, tapi aku bisa buktiin dengan tes DNA saat anak ini sudah lahir. Tapi kamu harus mengurus aku selama 9 bulan."
"Nggak, gue gak Sudi."
"Gevan, aku punya banyak bukti loh, dari mulai tiket pesawat. Kamar hotel, bahkan foto kita berdua." Ucap Tiffany membuat Adara merasa emosi.
"Kita gak perlu nunggu 9 bulan untuk membuktika anak itu anak Gevan atau bukan."
"Maksud kamu gimana?" Tanya Tiffany.
"Kita bisa kok mengambil Sempel dari bayi yang belum lahir untuk tes DNA. Kamu jangan cari alasan untuk bisa dekat dengan suami saya!" Kata Adara.
"Kalo gitu kita kerumah sakit sekarang." Seru Gevan.
"Loh, gak bisa gitu dong. Aku maunya nanti saat anak ini sudah lahir." Tiffany memberikan sanggahan.
"Kenapa? Kamu takut?" Tanya Anggita kali ini.
"Udah sekarang tanpa basa basi kita kerumah sakit." Kata Bimo, ia beranjak dari duduknya.
"Gak bisa, aku gak mau." Ucap Tiffany.
Brian memangku Tiffany kedalam mobil.
"Lo harus ikut, apapun hasilnya mereka pasti terima kok." Ucap Brian.
"Gue gak mau Brian.." Tiffany memukul punggung Brian.
Mereka langsung berangkat kerumah sakit untuk tes DNA.
Sampainya di rumah sakit, Bimo menemui dokter kandungan yang terpercaya disana.
"Dokter, saya ingin melakukan tes DNA untu bayi yang masih dalam kandungan apa bisa?" Tanya Bimo kepada dokter.
"Bisa pak. Kalau boleh saya tahu berapa usia kandungannya." Tanya Dokter.
"Lima Minggu dok, pasti gak bisa kan?" Kata Tiffany.
"Maaf pak, tes DNA hanya bisa dilakukan saat usian kandungan minimal sepuluh sampai 18 Minggu. Dengan mengambil sampel dari cairan ketuban atau jaringan plasenta. Tapi tindakan ini beresiko untuk janin." Jelas Dokter tersebut.
"Jadi gak bisa dok?" Tanya Gevan.
"Maaf, tidak bisa."
"Yess." Batin Tiffany.
"Beresiko gimana ya dok?" Tanya Adara.
__ADS_1
"Iya, tindakan itu bisa beresiko keguguran. Saya sarankan untuk dilakukan setelah bayi lahir." Saran Dokter tersebut.
...Dengan berat hati, Bimo tidak memaksakan niatnya untuk tes DNA. Namun sembilan bulan itu bukan lah waktu yang singkat. Apa bisa diselesaikan sebelum Tiffany melahirkan....