
...Gevan menelpon polisi untuk melaporkan kematian dari Tiffany, lalu polisi datang dan meminta keterangan saksi yang menemukan Tiffany di hotel....
"Bagaimana anda bisa mengetahui jika saudara Tiffany mengalami penganiayaan."
"Pada pukul 21:00 Tiffany menelpon saya, lalu saya mendengar suara laki laki. Dan saya juga merekam percakapan itu di handphone saya. Setelah itu Tiffany mengirimkan lokasi dirinya berada." Jelas.
"Baik, apakah anda yakin jika Arif adalah pelakunya?"
"Iya pak, soalnya ada beberapa bukti juga yang membuktikan jika Tiffany dan Arif mempunyai hubungan spesial sehingga menghasilkan anak dari hubungan tersebut. Dan sekarang mereka berdua telah tiada." Ujarnya.
"Lalu apa hubungan anda dengan korban?"
"Tiffany adalah teman saya pak."
"Baik, saya akan memeriksa barang bukti yang ada di hotel tersebut, kamar itu sudah kami beri garis polisi agar tidak ada yang keluar masuk ke area TKP."
"Iya pak, tolong selidiki lagi kasus ini. Tolong buat kami percaya kalau keadilan di negara ini ada." Pinta Adara.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengungkap kasus ini, jika saksi dan bukti lengkap."
"Terimakasih pak, saya akan segera siapkan buktinya."
"Baik kalo begitu saya akan tunggu di kantor, setelah semua bukti mengarah ke pelaku. Kami akan segera mengirimkan surat pemanggilan untuk saudara Arif ."
"Baik pak."
Polisi itu pergi.
...Tiffany dan bayinya segera dibawa oleh ambulance ke kediaman Tiffany untuk di makamkan dengan layak, mungkin ini akhir dari Tiffany....
...Adara dan Mona ikut ke mobil ambulance sementara itu Gevan dan Brian menyusul menggunakan mobil pribadi mereka....
...Mobil ambulan membawa jenazah Tiffany, dipenuhi dengan Isak tangis dari Adara DNA Mona. Entah dimana keberadaan orang tuanya Tiffany hidup sebatang kara hingga dirinya harus bekerja sebagai pelacur kelas kakap untuk menyambung hidup. ...
...Sepeninggalan neneknya, Tiffany seperti hilang arah. Tidak ada tempat untuk pulang, Hingga akhirnya ia terjerumus dalam lembah hitam....
Beberapa lama kemudian Tiffany selesai di makamkan bersebelahan dengan bayi yang masih belum cukup usia untuk dilahirkan. Setelah selesai mereka kembali ke mobil.
"Mona, apa kamu masih ingin tinggal di apartemen Tiffany?" Tanya Adara.
"Aku gak tahu, tapi aku bingung mau tinggal dimana lagi. Kalo untuk sewa apartemen uangku masih belum cukup." Ucap Mona.
"Gitu yaa."
"Iya, sementara ini biar aku tinggal di apartemen Tiffany aja. Siapa tahu masih ada sisa waktu sewanya." Sahut Mona.
"Kamu yakin? Apa gak kesepian sendirian disana." Timpal Gevan.
__ADS_1
"Yaa dari pada aku harus hidup di jalanan, ya mending di sana."
",Iya si, tapi aku gak mungkin bawa kamu kerumah. Takut ada sesuatu ."
"Sesuatu apa?" Sela Adara.
"Gak ah, kalo kamu mau aku bisa bantu bayar sewa kontrakan buat kamu." Saran Gevan.
"Kamu serius?"
"Yaelah Van, cari penyakit aja. Udah Mona mending Lo tinggal di paviliun gue aja! Tempatnya enak kok." Saran Brian.
"Serius Brian? Tapi orang tua Lo gapapa kan? Gue takut di marahi." Ujarnya.
...Adara pergi begitu saja, ia merasa kecewa dengan sikap Gevan. Mulai dari pertengkaran semalam Adara merasa Gevan mulai berubah....
"Susul Van." Titah Brian.
"Aarghhh." Gevan mengerang.
Lalu ia menyusul istrinya.
"Adara kamu mau kemana?" Tanya Gevan.
"Apaan si Van, kenapa kamu nyusul aku kesini? Kenapa gak temenin teman kesayangan kamu itu." Ucap Adara dengan cemberut.
"Oh ya? Terus perhatian itu gimana?"
"Perhatian yang mana? Aku hanya merasa kasihan aja sama Mona, ia tidak mempunyai keluarga. Sama seperti Tiffany."
"Kenapa harus dihadapan aku kamu bersikap seperti itu. Apa kurang puas kamu buat aku over thinking terus, kepercayaan aku hampir musnah sejak kejadian kamu sama Tiffany. Apa kamu mau menghancurkan perasaan itu." Ucap Adara dengan hardiknya.
"Stop bahas masalah yang udah lalu, aku mau fokus dulu sama kasus ini. Aku gak pernah selingkuhin kamu dengan siapapun, bahkan sama Clara sekalipun. Kamu yang masuk ke dalam kehidupan aku." Kata Gevan.
"Kenapa jadi bahas Clara? Apa kamu belum move on dari dia?"
"Aku gak ngerti sama kamu, kamu bawa bawa masalah dengan Tiffany. Aku cuma ngingetin kamu bahwa perasaan kita bukan murni cinta pandangan pertama. Hanya saja aku mulai jatuh cinta saat akhir akhir ini karena kita sering sama sama."
"Jadi kamu nyalahin aku karena pertemuan ini? Kamu tahu aku juga tidak ingin ini terjadi. Aku terpaksa menuruti keinginan papa untuk nikah sama kamu."
"Ya, dan awalnya aku juga nikahin kamu karena harta orang tua aku. Puas." Gevan merasa emosinya terpancing.
...Pada akhirnya mereka menyesal mengatakan hal itu yang mana itu menyakiti hati keduanya. Akhir akhir ini hubungan mereka terasa renggang, entah mereka mulai capek dengan keadaan dan masalah yang selalu datang silih berganti....
...Adara meneteskan air mata lalu ia berlari untuk menghindari Gevan, agar tidak merasa sakit hati kembali. Adara sudah berjanji untuk tidak mengatakan kata pisah, namun hatinya merasa belum sembuh total....
...Gevan merasa bersalah kepada istrinya, terlalu banyak ia memberikan penderitaan kepada istrinya. Entah apa yang ada dipikirannya. Gevan kembali ke Brian dan Mona....
__ADS_1
"Adara mana?" Tanya Brian.
"Dia pulang."
"Pulang naik apa Van? Dia bahkan tidak tahu sekitar sini." Ucap Brian.
"Adara itu seperti anak kecil, selalu ngambek kalo ada masalah. Gue capek yan." Kata Gevan sembari mengacak-acak rambutnya.
"Lagian kamu si Van, terlalu berlebihan sama aku. Apalagi itu di depan istri kamu, aku juga kalo di posisi dia pasti ngambek lah." Timpal Mona.
"Lo dengerin tuh, perasaan wanita itu sensitif. Lo gak akan tahu rasanya cemburu karena Adara wanita baik baik tidak banyak dekat dengan cowok. Lah Lo sana sini Deket." Sindir Brian.
"Segitunya Lo belain istri gue? suka Lo sama dia?"
"Pikiran Lo dangkat banget." Brian meninggalkan Mona dan Gevan lalu mencari Adara untuk mengantarnya pulang.
...Ia melihat sekitar namun tidak ada Adara disana, lalu ia maju sedikit ternyata Adara sedang menunggu taxi di tempat yang sepi....
"Dara.." Panggil Brian dari dalam.
Adara menengok kemudian menghapus air matanya.
"Brian, kenapa kamu susul aku kesini?"
"Aku khawatir, ayok naik biar aku antar kamu pulang." Ajak Brian.
Adara masuk kedalam mobil, ternyata Gevan melihatnya di belakang bersama Mona menaiki mobilnya.
"Udah jangan hiraukan Gevan, dia sakit." Ucap Brian.
"Kamu gak takut Adara di ambil Brian? Bagaimanapun dia istri kamu harusnya jaga perasaan kamu lah." Mona memanas manasi.
"Udah ah, capek bahas dia terus." Gevan menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga menyalip mobil Brian.
"Emang Gevan gitu ya orangnya? Dia kaya gak perduli sama aku." Ucap Adara.
"Dari dulu Gevan selalu berganti pasangan, jika dia merasa bosan tidak segan langsung mencari gantinya bahkan saat mereka masih berhubungan. Termasuk Mona, memang mereka tidak ada hubungan spesial tapi Mona selalu menemani Gevan saat ia sedang bermasalah dengan Clara." Jelas Brian.
"Kamu serius? Segitunya Gevan sampai mencapakan cewek cewek. Apa dia bisa berubah, setelah bertemu lagi dengan Mona."
"Aku yakin dia akan berubah, asal kamu lebih sabar menghadapi Gevan. Batu pun akan hancur jika ditetesi air terus menerus." Kata Brian menenangkan.
"Tapi rasanya aku capek, aku gak mau Gevan kembali ke masa kelamnya. Aku ingin Gevan berubah bagaimanapun dia sudah menikah sekarang."
"Iya, kamu harus sabar lagi."
"Akan aku coba."
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di rumah.