Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
10. Hatiku berdebar


__ADS_3

Zahira melangkah ke toilet, saat ingin keluar ia tidak dapat membuka kuncinya. Wajah Zahira mulai panik. Zahira mencoba mengedor pintu tapi tidak ada jawaban dari Altan. Rupanya Altan sedang di ruang keluarga karena Bu Hadid memanggilnya.


"Altan, ini tiket kamu honeymoon ke Turki untuk 1 Minggu. Apakah cukup? " tanya Bu Hadid dengan senyum merekah


"Mah, sepertinya Altan belum bisa pergi, karena kondisi Ayah Renaldi belum sembuh total. Rabu besok ada jadwal pemasangan ring." jawab Altan sambil duduk di samping kedua orangtuanya.


"Wah sayang sekali, Altan." sahut pak Hadid sambil meletakkan gelas kopinya.


"Untuk papa dan mamah gimana. Sudah lama papah dan mamah harus refreshing." usul Altan


"Kamu Ndak papa Tan? jika mamah tinggal sendiri dengan Zahira? Kalian baik-baik saja kan? Zahira mau menerima kamu kan?" tanya Bu Hadid penasaran


"Zahira anak baik, sopan dan terlihat sangat sayang kedua orangtuanya." Jawab Altan. Tak mungkin Altan bicara jujur tentang kesepakatan yang tadi pagi dibuat.


"Wah kalau udah saling terima perjodohan ini pasti kita segera nimang cucu dong mah." tawa pak Hadid sambil menggoda putranya yang tampak wajahnya malu.

__ADS_1


"Benar sekali pak, siapa tahu setelah kita liburan dari Turki, Zahira hamil." tambah Bu Hadid dengan antusiasnya.


"Bikin anak tidak seperti bikin Indomie goreng mah ." jawab Altan malu karena dia sadar betul belum mampu meluluhkan hati Zahira, apalagi menyentuhnya dan Bermesraan selayaknya suami istri. Namun Altan menutup rapat karena Altan tahu Zahira butuh waktu untuk adaptasi. melihat usia Zahira yang masih muda.


Mereka tertawa bersama dengan kebahagiaan. begitu harmonis hubungan Altan dan kedua orangtuanya.


***


Situasi di kamar mandi tidaklah kondusif. Karena Zahira masih terperangkap di kamar mandi. dia mulai merasa sedih dan menangis. Dia berpikir bahwa Altan tidak mau menolongi dia karena mungkin Altan tersinggung dengan kesepakatan tadi pagi. Terlebih Zahira tidak dapat melayani Altan selayaknya istri. Zahira tahu betul itu kebutuhan biologis seorang laki-laki. Tak hanya itu itu adalah kewajiban Zahira, namun menjadi hak bagi Altan.


Zahira duduk dipojok sambil menangis karena tidak tahu harus bagaimana. Sedangkan Altan tidak ada respon sama sekali.


"Zahira, kamu kenapa?"


Zahira langsung berdiri menuju pintu dan mencoba untuk membuka tuas pintu..

__ADS_1


"Tolong aku Mas, aku terkunci. " suara Zahira dibarengi isak tangisnya.


Altan ingin tertawa tapi dia menahannya karena pastinya Zahira sudah merasakan Bete terkunci di kamar mandi.


"Zahira, minggir sebentar, mungkin ini pintu harus diperbaiki." sahut Altan dibalik pintu


Zahira menyingkir dari daun pintu, kemudian Altan membuka paksa pintu itu berkali-kali ...dan akhirnya terbuka hingga tubuh Altan hampir terpelanting.


Altan melihat Zahira dengan wajah kusut dan mata merah akibat menangis. Altan menghampiri lalu mengusap air mata Zahira. Dituntunlah Zahira ke Sofa. kemudian memberikannya segelas air putih untuk menenangkannya.


Altan memberikan pelukan sambil menepuk-nepuk halus punggung Zahira untuk menenangkan, bahwa semua baik-baik saja.


Zahira sebenarnya memiliki trauma dengan kamar mandi. karena saat SMA ia di kunci di kamar mandi dengan sengaja oleh temannya. Perasaan itu yang membuatnya takut berada di kamar mandi. maka kamar mandi di kamarnya dibuat fleksibel tanpa kunci, hanya kaca dengan kaca sehingga tak perlu di kaitkan. Dan Altan tidak tahu trauma yang dialami Zahira.


Zahira mencoba untuk menutup kedua matanya dan berusaha menenangkan diri. semua baik-baik saja. Saat dia mulai tenang, namun kini hatinya berdebar kencang, karena ini pertama kalinya ia berpelukan dengan laki-laki. Ya laki-laki yang sudah sah untuk menyentuhnya. Aroma tubuh Altan menari-nari di qolbunya, hatinya berdebar dengan makin kencang, Sentuhan Altan mampu menenangkan dirinya namun memunculkan rasa yang baru, yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Dekapan hangat dari Altan membuatnya dia mabuk kepayang dan rasanya ingin menyembunyikan wajahnya lebih dalam lagi. Namun Zahira sadar bila ini diteruskan hatinya akan meledak.

__ADS_1


"Lepaskan aku." pinta Zahira.


Altan melepaskan pelukannya dan menatap dengan jeli tiap inci wajah Zahira yang kini terlihat gugup dan berubah seperti buah kesemek.


__ADS_2