
Adara dan Aditya sampai di sebuah danau dengan pohon pohon di sekelilingnya membuat suasana siang hari ini terasa sejuk dan angin sepoi-sepoi.
Ditempat itu Adara merasa tenang tanpa ada bayang bayang Gevan di dalamnya, saat ini Adara hanya ingin menenangkan diri sejenak.
Melihat Adara yang murung, Aditya rasanya ingin bertanya lebih dalam tentang hubungannya dengan Gevan. Mengingat awalnya Adara tidak ingin menikah dengan Gevan, hingga akhirnya pernikahan harus tetap terjadi.
"Dara, are you okay?." Tanya Aditya.
"Gue keguguran dit." Ucap Adara membuat Aditya kaget.
"Seriusan Dar?." Mendengar itu Aditya merasa jika hubungan Adara dan Gevan sudah membaik.
"Iya Dit, ini menjadi titik terendah dalam hidup gue. Gue rasa semangat untuk hidup udah hilang, bahkan nyokap gue aja gak perduli sama gue. Dia gak ada jenguk gue sama sekali." Ucap Adara.
"Lo gak boleh ngomong gitu, masih banyak kesempatan dihidup Lo yang harus Lo manfaatin. Dan untuk anak Lo, Tuhan tahu yang terbaik buat Lo. Mungkin untuk saat ini Lo belum dikasih kesempatan untuk punya anak dulu. Gue yakin anak Lo bahagia di surga sana." Aditya menunjuk ke atas langit biru.
Mendengar itu membuat Adara merasa mempunyai semangat baru dalam hidupnya, memang Aditya adalah teman terbaiknya. Ia mampu membuat Adara berharga di hidupnya.
"Iya, gue juga yakin kok ada hal besar di depan gue. Untuk itu gue sudah memutuskan untuk kuliah di Aussie." Ucap Adara excited.
"Gevan gimana?."
"Gue udah membicarakan ini sama dia, dan harusnya dia mengizinkan gue untuk pergi kesana. Karena itu adalah keputusan awal gue sebelum menikah sama dia." Ucap Adara tegas.
"Adara, sekarang dia adalah suami Lo. Kalo Lo gak di izinin Lo gak boleh menetang suami Lo. Lagian kuliah itu memakan waktu yang lama, Lo gak bisa seenaknya tinggal disana tanpa suami Lo " Tegur Aditya.
__ADS_1
Sebagai seorang sahabat sudah sepantasnya Aditya menegur nya jika memang salah.
"Lo gak bakalan paham Dit, masalah gue sama Gevan itu terlalu rumit. Dari awal gue gak yakin sama pernikahan ini, tapi demi orang tua gue harus melakukan itu."
"Tapi pasti dihati kecil Lo ada perasaan itu kan!." Tanya Aditya.
"perasaan apa?." Sahut Adara sok polos.
"Gue bisa lihat dari mata Lo saat nama Gevan di sebut, ada sebuah rasa yang tercipta di mata Lo. Udah berapa lama gue kenal Lo, Gue udah tahu ciri ciri itu di diri Lo." Kata Aditya membuat Adara semakin yakin jika hanya Aditya lah yang mengerti dirinya.
Dari pertemuan itu Adara semakin mantap untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Ia tak perduli jika semua orang menentangnya. Yang jelas ini sudah mimpinya dari awal, namun karena pernikahan Adara harus menghentikan niatnya.
Untuk sekarang ia yakin jika keputusannya adalah hal yang tepat.
"Gevan kamu udah pulang! Gimana tadi ketemu Adara?." Tanya Anggita melihat kedatangan Gevan.
"Ma.. Aku sudah kehilangan Adara." Ucapnya.
"Maksud kamu apa Gevan." Tanya Anggita kebingungan.
"Adara akan pergi ninggalin aku, dia akan pergi ke Australia untuk pendidikannya." Jelas Gevan.
"Terus hubungan kamu sama dia gimana?."
"Aku juga gak tahu ma, dia gak bilang apapun soal itu." Ucap Gevan.
__ADS_1
"Mama bingung sama Adara, kalo dia minta pisah ya pisah aja jangan buat bingung begini. Mama harus ketemu sama dia." Ucap Anggita mulai meradang.
Anggita merasa jika Adara sangat labil, ia tidak bisa menentukan mana langkah yang harus ia ambil.
"Gak usah ma. Gevan biar berusaha sendiri, benar kata papa. Gevan harus belajar bertanggung jawab." Sela Gevan. Anggita merasa jika anaknya sudah mulai bijak dalam menghadapi masalah.
Gevan pergi ke kamarnya, kemudian didalam kesedihannya ia tertidur.
Sementara itu didalam penjara, Excel merasa seorang diri tanpa ada siapapun yang menemuinya. Bahkan Tiffany yang ia bela tidak menunjukan rasa terimakasih kepadanya.
Rupanya Excel telah salah membuat keputusan, karena cintanya terhadap Tiffany membuat ia menyakiti perasaan sahabatnya yang sudah lama bersamanya.
"Gue kesepian ... " Ucapnya.
Adara sampai dirumah diantar oleh Aditya.
"Gimana sayang pertemuan kamu sama Gevan? apa yang kamu katakan samaa Gevan." Tanya Wisnu.
"Pah, aku mau ke Australia untuk sekolah aku lagi. Ini cita cita aku sebelum aku memutuskan untuk menerima perjodohan ini." Ucap Adara membuat Wisnu menghela nafas.
"Apa kamu sudah yakin? Australia itu jauh. Dan perlu beberapa tahun kamu di sana." Ucap Wisnu meyakinkan.
"Aku udah yakin pa."
Tidak ada lagi pembicaraan yang lain selain Wisnu menyetujui permintaan Adara untuk pergi ke Australia.
__ADS_1