Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
pergi


__ADS_3

Sampai di rumah~~


Adara datang dengan raut wajah yang lelah, ia terpaksa jalan kaki dari kantor menuju rumahnya karena terbatasnya kendaraan malam itu.


Saat Adara membuka pintunya, sepi tanpa suara apapun selain suara jam dinding dan suara air galon.


Tanpa curiga Adara menuju kamarnya, dan tanpa sengaja melewati kamar Clara yang dimana ada dua orang yang sedang tidur.


Ceklek!! Adara membuka pintunya perlahan dan menyaksikan hal yang tidak sepatutnya terjadi. Ternyata ini sebabnya Gevan tidak menjemputnya.


Hikss.. Hikss.. Suara tangisan Adara membangunkan Gevan dan membuat Gevan kaget setengah mati.


"Adara?? Ucap Gevan sampai suaranya membangunkan Clara.


Adara langsung pergi ke kamarnya, dan mengambil koper lalu memasukan semua baju bajunya kedalam koper tersebut.


Dengan berderai air mata. "Mungkin sampai sini perjuangan aku untuk mendapatkan Cinta kamu Van!


"Adara, kamu mau kemana," Memegang tangan Adara "Maafin aku Dara, aku salah. Maafin aku, aku janji gak akan berbuat seperti itu lagi sama dia Dar. Aku mohon! Pinta Gevan


Adara menepis tangan Gevan dengan, "Gak ada lagi yang bisa aku lakukan disini! Aku terlalu lemah untuk menangisi kamu. Mungkin ini yang kalian mau." Ucapnya sambil menghapus air matanya.


"Aku Khilaf Dar, maafin aku." Gevan berusaha untuk membujuk Adara namun gagal. Adara tetap bersikeras untuk pergi dari rumah itu.

__ADS_1


Adara meninggalkan Gevan dan membuat Clara tersenyum puas.


Di depan pintu~~


"Tunggu,! Pinta Gevan.


"Aku nunggu kamu dari jam 8 malam sampe akhirnya aku memutuskan jalan kaki dari kantor dan datang kesini aku harus melihat kalian melakukan hal yang menjijikan! Itu yang kamu mau? kamu berusaha membuat aku terbang lalu akhirnya kamu juga yang menjatuhkan aku. Perasaan gak sebercanda itu Van." tekan Adara.


"Kamu jalan kaki kesini? Dara sumpah aku gak ada niatan untuk melakukan hal itu bersama Clara. Tadinya aku mau jemput kamu tapi dihalangi oleh Clara." Gevan berkelit.


Adara tidak menghiraukan Gevan, ia langsung pergi dengan hati tercabik-cabik. Rasa lelah berjalan seperti tidak berlaku saat itu, yang ia rasakan hanya kepedihan hati dan luka yang teramat dalam. Adara pergi ke rumah Gevan.


Sementara itu Gevan langsung memakai baju untuk mengejar Adara.


"Clar, maaf aku gak punya waktu untuk kamu. Aku hanya mengkhawatirkan istri aku clar, dia pergi entah kemana." Ucap Gevan sambil berjalan, namun Clara memeluknya dari belakang.


"Van, aku mohon diam disini untuk aku! Rayu Clara.


Namun Gevan melepaskan tangan Clara yang melingkar di pinggangnya.


lalu pergi untuk mencari Gevan, Namun ia berpapasan dengan Brian.


"Van, lo mau kemana? tanya Brian

__ADS_1


"Gue mau jemput Adara Brian, Sorry gue gak ada waktu untuk ngobrol sekarang." Ucap Gevan dan langsung meninggalkan Brian.


Disepanjang jalan Gevan tidak melihat tanda tanda adanya Adara di jalan tersebut. Ia terus mencoba menghubungi Adara namun gagal, hpnya sengaja Adara matikan.


ting tong.. Suara bel rumah Gevan berbunyi, Anggita yang berada di kamarnya segera turun untuk membuka pintu.


Ceklek..!!


Adara langsung memeluk mertuanya.


"Sayang? kamu kenapa, kok nangis gitu sambil bawa koper. Ini udah malem sayang! Apa ada masalah sama rumah tangga kalian? Tanya Anggita.


"ma, maaf aku belum bisa menjadi menantu yang baik untuk mama, dan istri yang baik buat Gevan." Ucap Adara dengan tangisan yang tidak bisa ia tahan.


"Ada apa sayang? sini masuk! kamu yang tenang ya! Anggita membawa Adara masuk.


Adara duduk di kursi sementara itu Anggita membawakannya minuman untuk Adara yang sedang terisak-isak.


"Ini minum dulu sayang! Abis itu kamu cerita sama mama, sebenarnya apa yang terjadi sama kalian."


Adara meminum minumannya, dan setelah ia tenang, langsung menceritakan apa yang terjadi.


"Apa? Sayang kenapa kamu baru cerita sekarang sama mama? mama benar benar malu dengan kelakuan Gevan," Ucap Anggita.

__ADS_1


__ADS_2