Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
Tiffany yang malang


__ADS_3

Gevan pulang, namun ia tidak melihat istrinya di rumah. Ia mencari di setiap sudut rumah namut tidak terlihat batang hidungnya.


"Bii." Panggil Gevan.


"Iya den." Sahut Sumi ia berlari kearah Gevan.


"Adara kemana ya bi?" Tanya Gevan.


"Non Adara tadi keluar den, katanya tidak lama tapi sampai sekarang belum juga pulang." Ucap Sumi.


"Gitu ya, yaudah biar saya telpon."


Gevan memanggil Adara namun tidak ada jawaban, tak lama setelah itu Adara datang.


",Sayang." Sapa Adara.


"Kamu dari mana aja? Kenapa gak kabarin aku." Tegur Gevan.


"Iya maaf sayang, tadi habis dapat bukti dari kamu aku ketemu sama Tiffany." Sahutnya.


"Mau ngapain? Kamu gak takut di sakitin?" Tanya Gevan.


"Nggak kok, malah sekarang masalah ini selesai. Yang harus kita lakukan adalah membantu Tiffany untuk meminta orang itu tanggung jawab." Ujarnya.


"Adara, kamu gak tahu orang itu siapa? Dia orang yang sangat berbahaya asal kamu tahu. Kenapa kamu gak bilang dulu sama aku sebelum kamu bertindak."Gevan memarahi Adara.


"Kamu kok gitu, bukannya seneng udah aku bantuin. Ini semua demi kebaikan kita, cuma hal kecil kok."


"Yaampun Adara, kamu gak tahu apa yang kamu hadapi. Bisa saja dia menyakiti kamu." Ucap Gevan.


"Aku gak tahu Van, terus gimana?"


"Sudah lah nanti kita fikirkan lagi."


Gevan pergi ke kamar begitu saja.


Malampun tiba, sekitar pukul 21:24 Tiffany menelpon Adara.


"Tolong.. Tolong aku Adara .."


"Tiffany kamu kenapa?"


"Jangan Om, aku mohon."


Dengan sengaja Adara merekam percakapan mereka, karena ia yakin akan terjadi sesuatu kepada Tiffany.


"Sayang, sini." Adara load speaker handphone nya.


Gevan mendekat.


"Tolong jangan sakiti aku om."


"Aku tidak ingin terjadi apapun sama anak ini."


"Ampun om." Tiffany meringis kesakitan.


"Tiffany, kamu kenapa? kamu di mana kita akan kesana sekarang."

__ADS_1


Di hotel..


"Kamu selalu menuntut saya untuk tanggung jawab, saya tidak mungkin mempertaruhkan reputasi saya ." Arif menendang perut Tiffany sebanyak lima kali.


"Sudah cukup om, aku tidak ingin anak ini mati." Tiffany meraung.


"Saya bisa saja membunuh kamu, ini untuk pelajaran kamu saja. Jangan pernah paksa saya!" Arif mengancam.


"Terserah, tapi saya tidak akan menyerah meminta keadilan untuk anak saya. Meskipun saya tidak ingin kamu menjadi ayah anak saya. Sangat di sayangkan anak ini punya ayah yang sangat kejam, sampai sampai ingin membunuh anak ini sebelum lahir."


"Laki laki macam apa kamu?"


Brughh, Arif kembali menendangnya, lalu ia menjambak rambut Tiffany.


"Ingat, saya yang berkuasa disini. Sekalipun kamu ke polisi mereka tidak akan menanggapi laporan kamu. Saya yang akan membayar mereka supaya kamu tidak bisa berkutik sedikitpun." Ancam Arif.


"Saya tidak takut."


...Arif membenturkan kepala Tiffany ke lantai, sampai kepalanya berdarah. Kakinya dilumuri darah yang berasal dari rahimnya yang terluka, entah apa yang akan terjadi....


...Saat Tiffany terkapar lemas, Arif meninggalkannya langsung bergegas pulang. Tanpa memperdulikan keselamatan Tiffany....


...Telpon masih terhubung, Tiffany mengatakan jika dirinya berada di hotel horison. Sementara itu Gevan dan Adara langsung pergi ke tempat yang di tuju. Kemudian Gevan menelpon Brian untuk meminta bantuan....


"Hallo,"


"Hallo Brian, Lo cepet panggil polisi dan ambulan. Saat ini gue dalam perjalanan menuju hotel horison."


"Tunggu, siapa yang sakit."


"Udah nanti Lo tahu sendiri, bilang aja ada korban kekerasan."


Gevan dan Adara sampai di hotel lalu ia mencari tamu atasnama Tiffany atau Arif.


"Permisi kak, apa ada tamu yang bernama Tiffany?" Tanya Adara.


"Maaf kak, kita tidak bisa membocorkan nama pelanggan. Ini sudah jadi ketentuan hotel."


"Ini urgent kak, saya mohon. Atas nama Tiffany atau Arif, ini menyangkut nyawa orang kak." Adara memohon.


"Baik kak, sebentar saya tanyakan dulu kepada manager hotel." Resepsionis hotel menghubungi manager untuk meminta ijin.


...Seletah beberapa saat, akhirnya resepsionis memberikan nomor kamar tempat dimana Tiffany menginap....


...Mereka segera menuju ke lantai atas, mereka menuju kamar nomor 346. Mereka membuka kamar atas ijin pegawai hotel. Betapa terkejutnya mereka menemukan Tiffany sedang terkapar dengan darah berceceran di lantai....


...Dengan keadaan tidak sadarkan diri akhirnya ia dibawa kerumah sakit dan segera ditangani oleh dokter....


"Pak, saya mau melaporkan orang yang bernama Arif. Ia adalah kekasih dari korban yang bernama Tiffany." Ucap Gevan, kepada polisi yang berada di rumah sakit.


"Kita akan mengumpulkan bukti terlebih dahulu, dan kami akan memanggil semua saksi." Ucap polisi tersebut.


"Pak, saya mohon sebelum pelaku menyabotase bukti yang ada di hotel alangkah baiknya bapak menyidik tempat itu pak. Bukannya apa pak, orang itu adalah orang yang sangat berpengaruh." Jelas Gevan.


"Anda tidak perlu mengajarkan kami, sebelum anda suruh kami pasti akan menjalankannya sesuai prosedur kepolisian."


"Maaf pak, tapi saya cuma takut aja barang bukti berupa cctv hilang."

__ADS_1


"Silahkan lanjutkan laporan anda di kantor."


...Adara cemas melihat Tiffany yang sedang berjuang untuk hidup. Ia tak tahan saat Tiffany meringis kesakitan namun dirinya tidak bisa membantu apapun. Mengingat dirinya juga pernah berada di posisi yang Tiffany alami. Atau ini karma?...


"Van, apa sebenarnya yang terjadi kepada Tiffany? kok bisa Lo tahu Tiffany di aniaya."


"Iya, tadi siang bini gue sama Tiffany bertemu."


"Tunggu, jadi pas Adara minta nomor Tiffany sama gue itu buat ketemuan?"


"Adara minta nomor Tiffany sama Lo? Kenapa gak minta sama gue ya! Maksudnya kenapa gak bilang sama gue."


"Gue gak tahu, mungkin aja kan dia mikirnya Lo gak punya nomor Tiffany."


"Iya si, emang Adara sering hubungin Lo?"


"Nggak lah Van, cuma masalah lo doang Adara chat gue."


"Soalnya Adara gak pernah bilang kalo dia sering chat Lo."


"Santai aja sih, cuma sebatas berkabar keadaan Lo saat Lo sakit."


"Gitu yah, yaudah tapi makasih Lo bisa tepat waktu bawa ambulan. Semoga nyawa Tiffany terlolong."


Adara datang..


",Kamu kok kayak cemas kalo Tiffany kenapa napa." Tanya Adara.


"Apaan si Adara, kamu kan tahu aku gimana sama dia saat ini. Aku cuma gak mau aja dia mati mana lagi hamil."


"Kirain kamu takut kehilangan dia."


"Apaan banget si Dar, gajelas."


"Kok gitu."


"Udah udah, gak enak ini di rumah sakit. Berantemnya nanti aja di rumah Napa. Udah kalian pulang aja biar gue yang tunggu disini." Tegur Brian, ia tak tahan melihat pertengkaran pasutri ini.


...Lalu mereka memutuskan untuk pulang, tidak ada percakapan didalam mobil. Mereka sama sama berdiam diri, entah apa yang ada dipikiran mereka. Sampailah Mereka di rumah lalu Adara pergi ke kamar disusul oleh Gevan....


"Kamu kenapa si? Bukannya kamu yang minta aku untuk bantuin dia. Kok malah marah." Gevan memecah keheningan.


"Aku tahu kecemasan kamu bukan yang biasa."


"Maksud kamu apa?"


"Dari tadi kamu gelisah terus memikirkan keselamatan Tiffany." Ucap Adara, ia cemburu.


"Aku bingung deh, kamu yang minta aku bantuin dia. Setelah aku bantuin kamu malah cemburu gak jelas gini. Aku tahu kok kamu sering chat Brian." Celetuk Gevan.


"Kamu serius mikir aku chat Brian untuk kepentingan aku pribadi?" Tanya Adara.


"Ya kenapa kamu gak ngobrol dulu kek sama aku, ini sedikit sedikit Brian."


"Gajelas kamu."


"Udah ah aku tidur di kamar lain aja." Gevan merajuk.

__ADS_1


"Kayak anak kecil ada masalah dikir aja kabur." Ledek Adara.


Gevan meninggalkan Adara di kamar sendirian lalu ia pergi ke kamar yang satunya lagi.


__ADS_2