Suami Pilihan Ayah

Suami Pilihan Ayah
di proses


__ADS_3

"Kok gue kangen Adara ya." Gumamnya sembari menghentikan pekerjaannya.


Aditya, ia sedang berada di luar negri. Entah mengapa ia merindukan sosok sahabatnya, Semenjak Adara menikah tidak ada lagi komunikasi diantara mereka.


Yang tersisa hanya foto foto kenangan mereka sebelum Adara menikah, bahkan jauh sebelum itu.


Aditya langsung memesan tiket ke Indonesia, ia berharap bisa bertemu dengan sahabatnya itu.


Di kantor polisi...


Brian dan Wisnu sampai lebih dulu, kemudian mereka masuk ke kantor polisi untuk menanyakan perkembangannya.


"Selamat malam pak." Sapa Wisnu.


"Malam pak, ada yang bisa kami bantu?." Ucap salah satu polisi disana.


"Saya mendapat telpon dari kepolisian, katanya pelaku penganiayaan putri saya sudah di tangkap pak."


"Atas nama siapa pak?."


"Excel pak." Timpal Brian.


"Baik pak, mari ikut dengan saya."


Wisnu mengikuti polisi itu kedalam, namun Brian menunggu kedatangan Gevan dan Anggita.


Tak lama kemudian Gevan datang bersama Anggita, ia menanyakan kepada Brian keberadaan Excel.


"Yan, papa mana?." Tanya Gevan.

__ADS_1


"Om Wisnu masuk kesana Van, kita masuk aja kedalam." Ajak Brian.


Gevan mengikuti arahan Brian, dan ia bertemu dengan Wisnu di dalam.


"pah.."


"Gevan kamu sudah sampai."


"Iya pah."


"Begini pak, Bu. Kami sudah melihat bukti bukti penganiayaan terhadap sodari Adara. Terdapat bercak darah di dalam apartemenya. Dan saat ini kamu akan melakukan visum terhadap sodari Adara. Apakah ada luka berat yang dialaminya?." Jelas polisi tersebut.


"Untuk visum, sudah jelas Adara sedang berada di rumah sakit. Dirawat secara intensif, saya bisa meminta berkasnya sekarang juga pak." Sahut Wisnu.


"Baik pak, kami akan menunggu hasil visum. Setelah itu kami akan secepatnya memproses hukum pelaku."


"Terimakasih atas kerjasamanya pak. Saya minta keadilan untuk putri saya satu satunya." Ucap Wisnu memohon.


"Mari ikut saya."


Gevan, Wisnu dan Anggita mengikuti polisi itu untuk bertemu dengan pelaku.


Excel dibawa ke ruang jenguk, ia merasa bersalah melihat wajah marah Ayah dan mertua Adara.


"Excel, tante gak habis pikir kenapa kamu tega melakukan ini sama menantu Tante. Apa salah dia sama kamu?." Anggita mencecar Excel.


"Kamu laki laki macam apa? beraninya sama perempuan. Kalo berani sini lawan saya." Tantang Wisnu.


"Om, Tante saya minta maaf yang sebesar besarnya. Saya gak bermaksud untuk melukai Adara bahkan untuk membunuh calon bayinya." Excel bersujud di hadapan Keluarga Adara.

__ADS_1


"Saya gak bisa memaafkan kamu, proses hukum akan terus berlanjut. Kamu harus bertanggung jawab untuk semua yang kamu lakukan. Saya harap ini menjadi efek jera untuk kamu." Wisnu meninggalkan ruangan.


"Tante saya mohon jangan penjarakan saya. Maafkan kesalahan saya Tante." Excel kembali memohon.


"Saya gak bisa mentolerir perbuatan kamu, ini adalah balasan atas perbuatan kamu yang sudah mencelakai menantu saya." Anggita pun meninggalkan ruangan.


"Van.. tolong maafin gue Van."


"Gue bukan cuma marah, gue kecewa kenapa Lo lakuin ini semua. Lo tau ini jauh dari apa yang gue pikirkan tentang Lo, ketika kita bersama sama Lo orang yang baik. Tapi nyatanya Lo adalah pengecut, Ingat baik baik. Lo gak akan menemukan lagi orang yang tulus sama Lo." Ucapnya menunjukan rasa kekecewaan yang amat begitu dalam.


Excel merenungi kata kata Gevan, ia seperti kehilangan separuh jiwanya. Jiwa yang hidup dalam pertemanan yang begitu tulu. Selama bertahun tahun mereka bersahabat namun harus berakhir seperti ini.


Excel menangis menyesali perbuatannya.


Diluar...


"papa kembali ke rumah sakit, kamu sama mama kamu pulang aja ya Van. Biar Adara merasa tenang terlebih dahulu, nanti kita bicarakan lagi." Ucap Wisnu mengusulkan hal itu.


"Iya pah, sekali laki maafin Gevan ya pah." Gevan memeluk ayah mertuanya.


"Gapapa, yasudah papa pergi bersama Brian ya. Kebetulan tadi papa nebeng mobilnya Brian." Sambungnya.


"Iya pah, hati hati ya. Brian hati hati ya, jangan ngebut." Kata Gevan kemudian bersalaman dengan Wisnu.


Wisnu dan Brian menuju ke rumahsakit kembali.


"Ma, kita pulang aja ya! besok kita ke rumah sakit lagi jengukin Adara. Biar dia tenang dulu." Ucap Gevan yang baru masuk kedalam mobil.


"Pak Wisnu ke rumah sakit Van? Iya gapapa kita pulang aja dulu. Lagian papa sendirian di rumah." Sahutnya.

__ADS_1


"Iya ma, untuk saat ini Papah sama mamanya Adara yang nemenin di rumah sakit."


Anggita dan Gevan pulang kerumahnya, diperjalanan Gevan sangat khawatir akan keputusan yang akan Adara ambil. Ia takut akan perpisahan, setelah rasa cintanya tumbuh yang ia takutkan adalah kehilangan istrinya.


__ADS_2