
Paginya Ando bangun terlebih dahulu, lalu bergegas membersihkan diri dikamar mandi.
Selesai mandi ia mengambil kemeja didalam koper yang sama dengan Nada, lalu mengenakannya secepat kilat.
Berdiri di depan cermin, dan tersenyum sendiri mengingat kelakuannya semalam.
Lalu menoleh kearah Nada yang sepertinya masih betah bergelut dengan mimpinya.
Ada rasa kasihan saat ia memandangi istri cantiknya tersebut, bagaimana tidak, Nada baru tertidur saat sudah hampir jam 3 pagi.
Dan kini Ia memutuskan untuk membiarkan Nada istirahat, sampai bangun sendiri.
"Anjirrr, lo semalem tidur bareng Nada." seloroh Agil sembari menyelidik penampilan Ando dari atas hingga bawah, ketika ia baru saja menutup pintu kamar hendak keluar.
"Sok tahu lo!" balas Ando, sembari meninggalkan Agil, yang menyimpan sejuta rasa penasarannya.
"Eh tunggu, gue belum selesai ngomong, elo belum jawab juga anjirr." Agil mengejar langkahnya.
"Apaan sih?" Ando memandangnya malas.
"Bener kan, kalau semalam lo tidur dikamar Nada?"
ucapnya dengan suara yang lumayan keras.
"Busettt, itu mulut cempreng banget kek emak-emak pemilik kontrakan lo!" Ando membekap mulutnya menggunakan tangannya.
"Pengap Njir!" ucap Agil melepas bekapan dimulutnya.
"Salah sendiri, rese!"
"Tapi beneran kan, semalem lo tidur sama Nada?" ulangnya.
"Kalau iya emang kenapa?" tantangnya.
"Serius lo sampai senekat itu, Nodain anak orang, nggak habis pikir gue!" Agil menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.
"Sembarangan lo kalau ngomong, udah ah, gue mau cabut nyari makanan diluar!"
"Eh eh, tunggu dulu napa, gue belom selesai ngomong, penting banget ini." menarik tangan Ando yang hendak pergi.
"Elaah apaan sih Gil?" Ando mendengus kesal.
"Minta nomor handphone nya Marissa dong!"ucapnya sembari menyengir Kuda.
"Elaahh, kirain mau ngomong apa, kagak punya gue, udah gue hapus, lo coba minta ke si cewek yang dua noh!" tunjuknya pada Selli dan Steffy yang sedang berjalan menuju teras.
"Payah lo, yaudah deh, entar gue minta ke mereka."
"Udah kelar kan urusannya, sekarang gue mau keluar!" Ujarnya sembari melangkahkan kakinya.
...
Ando kembali ke kamar Nada dengan membawa semangkok bubur ditangannya.
Ia tersenyum geli, kala mendapati istrinya yang masih tertidur nyenyak.
"Hei sayang, bangun!" ucapnya, sembari mengelus wajahnya.
Nada menggeliat pelan, dan mulai mengerjapkan matanya.
"Jam berapa?" tanyanya serak, khas seperti baru bangun tidur.
Ando tersenyum "Jam 7 pagi sayang."
Nada terperanjat kaget, hingga tak menyadari selimut yang menutupi tubuh polosnya melorot hingga bawah dada, membuat Ando membelalakan matanya.
...
"Hallo cewek!" goda Agil, mendudukan dirinya disamping Marissa, yang lagi-lagi duduk dipinggir empang.
"Doyan banget nongkrong di empang ya, perasaan dari kemarin maennya di empang mulu."
Marissa menatapnya sedikit malas.
__ADS_1
"Adem aja gitu, kalau gue duduk disini." balasnya
"Iya juga sih!" Agil membenarkan ucapan Marissa.
"Cuacanya cerah ya!" ujarnya memecah keheningan.
"Sama cerahnya kaya cewek yang lagi duduk disamping gue." seru Agil, sembari tersenyum kearahnya.
Membuat Marissa merona, dan memalingkan wajahnya gugup.
"Sa!" ucapnya lembut.
Ia meraih tangan Marissa, menggenggam dan meremasnya pelan, "Jujur, Gue suka sama lo, dan mungkin bagi elo ini terlalu terburu-buru, tapi lo perlu tahu satu hal, gue nggak suka basa-basi, suka ya langsung gue ungkapin."
"Gue nggak mau ngelewatin kesempatan berharga ini, karena mulai besok kita udah pisah kan?"
"G-gue?" Marissa menelan ludahnya gugup.
"Nggak perlu jawab sekarang, gue tahu lo butuh waktu." lagi-lagi Agil tersenyum.
"Gue duluan!" ucapnya, sembari beranjak pergi meninggalkan Marissa yang sedang terbengong dengan perasaannya yang tak menentu.
Setelah kepergiaan Agil, ia baru tersadar menepuk kedua pipi kanan dan kirinya, untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi.
"Jadi beneran, barusan gue di tembak?" ucapnya pada diri sendiri.
"A...!"
"Tapi kok dia maen pergi aja sih!" gerutunya kesal.
..
..
Day after day
Time pass away
And I just can't get you off my mind
I hide it inside
I keep on searching, but I can't find
The courage to show to letting you know
I've never felt so much love before
And once again I'm thinking about
Taking the easy way out.
If I let You Go-Westlife.
..
..
Ando yang sedang bernyanyi bersama Pandu, Danang, Ramon serta Beny, tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan Agil yang melompat ke arah sofa, yang berada ditengah-tengah mereka.
"Lo semua kagak ada yang tahu kan, kalau semalem ada yang ehmm..ehmm..tuh dikamar berdua." Agil melirik Ando, yang sedang menatapnya tajam.
"Apaan sih lo, akhir-akhir ini suka nggak jelas!" seloroh Ramon.
"Lo semua nggak bakalan nyangka kan? sama gue juga!" ucapnya sembari terkekeh.
"Lo lagi ngomongin apa si Gil?" Danang penasaran.
"Kagak jadi cerita deh, takut gue!" Agil tidak berniat melanjutkan ucapannya.
"Ck, Gak jelas banget lo!" Pandu beranjak dari duduknya, menuju kamar mandi.
Dan diikuti oleh Ando, yang ikut beranjak dari duduknya berjalan kearah kamar Nada, ia merasa khawatir karna Nada tidak keluar kamar sejak tadi.
__ADS_1
"Yang!" Ucapnya, ketika hendak menutup pintu dari dalam.
Dilihatnya Nada tengah cemberut, menatapnya dengan tatapan horor.
"Kenapa sih yang, ngelihatinnya gitu banget, terus kenapa dari tadi nggak keluar-keluar?"
"Abang yang bikin aku nggak bisa keluar tahu nggak?"
"Hah?" Ando terperangah dan menatapnya dengan kening berkerut.
Ck!
Nada berdecak, ketika menyadari wajah bingung suaminya, dengan kesal ia membuka dua kancing teratas bajunya, lalu menyingkirkan rambut yang menutupi leher putihnya.
"Lihat ni!" Nada menunjuk keseluruhan leher dan dadanya, yang dipenuhi gambar kepemilikan yang dilukis Ando.
Ando meringis, menggaruk tengkuknya, "Maaf sayang!" ucapnya kemudian, sembari tertawa simpul.
"Semalam tuh sama sekali nggak terkendali yang." lanjutnya.
"Tapi efeknya merugikan buat aku tahu nggak, aku jadi nggak bisa kemana-mana abang, aku malu!"
"Iya deh iya maaf sayang!"
...
Malam ini malam terakhir mereka berada di Villa, karena esok hari sudah mulai kembali sekolah, dan mereka berencana untuk pulang jam 3 pagi, agar tidak terlambat masuk sekolah.
Termasuk, Agil, Ramon dan Beny, yang juga harus kembali bekerja di Cafe milik Ando.
Rasanya kurang bermakna bagi mereka, jika tidak melakukan kegiatan seru dimalam hari, ketika mereka sedang berkumpul seperti sekarang.
Dan pilihan yang tepat untuk mengisi malam ini, mereka mengadakan makan bersama, dengan tema bakar-bakar sate sendiri.
"Kok gue bagian bikin sambal bumbu kacang, mana bisa gue bikin begituan," protes Marissa, ketika Ramon memberi mereka masing-masing tugas.
"Gak, gak mau pokoknya harus ganti." lanjut Marissa.
"Lo kebanyakan protes jadi cewek, bikin gituan doang kagak bisa, bisanya apa sih, makan doang?" sela Pandu sarkas.
"Biar gue aja yang gantiin tugas si Marissa." ucap Agil yang sejak pertama melihat keributan yang disebabkan oleh Marissa dan Pandu.
"Kagak bisa gitu dong, tugas laki kan bakar-bakar gimana sih lo!" Pandu tak terima.
"Iya kan tadi lo denger sendiri, Marissa nggak bisa!"
"Anjir, kenapa jadi ribut begini sih," seloroh Ramon, yang dibuat pusing melihat kelakuan sahabatnya.
"Tahu tuh si Agil, sok-sok an pengen gantiin tugas si Marissa segala, tugas dia aja banyak banget." timpal Pandu dengan nada ketus.
" Udah, biar Adil gue aja yang bikin, Marissa gantiin gue nyiapin piring bisa kan?" timpal Nada.
Ramon, Agil dan Pandu saling pandang. "Yaudah gue setuju!" ucapnya bersamaan.
"Yaudah deh Nada aja yang bikin, gue sih lebih percaya sama dia, dari pada yang bikin si nenek sihir, entar malah rasanya ancur nggak karuan." Ucap Pandu sembari berjalan kearah Ando yang sudah mulai membakar beberapa tusuk sate.
"Heh, lo kalau ngomong mulutnya di jaga ya, sembarangan banget ngatain gue nenek sihir." Marissa mencak-mencak dengan wajah emosi.
"Udah ya, jangan di terusin!" bisik Agil lembut, membuat Marissa terdiam dan melangkah kearah meja untuk merapikan piring yang sudah di siapkan Nada sebelumnya.
Dan akhirnya mereka mulai sibuk dengan tugasnya masing-masing.
Ando meletakan piring yang sudah terisi penuh dengan sate yang sudah matang disamping Nada.
"Kayaknya sambal bumbu kacang buatan istriku Enak nih!" ucapnya, sembari mencicipinya dengan satu tusuk sate.
"Enak banget sumpah!" lanjutnya, dengan mulut penuh mengunyah sate.
"Istriku emang terbaik!" mencium pipi kirinya, yang langsung mendapat pelototan tajam dari Nada.
"Ini tempat umum Abaaanggg!"
.
__ADS_1
.