
Pukul 4:35 pagi, ketiganya sudah siap, menaiki mobil dan melajukan perjalanan menuju Sukabumi.
Setelah menempuh setengah perjalanan, Ando sempat khawatir dengan kondisi Nada, namun di luar dugaan, selama di perjalanan Nada justru bersorak Riang, sambil mengikuti alunan musik yang berasal dari audio mobil.
Bahkan ia sampai memutarnya berulang kali, membuat pak Jajang, dan Ando geleng-geleng kepala.
I have a dream
A song to sing
To help me cope
With anything
If you see the wonder (wonder)
Of a fairy tale
You can take the future
Even if you fail
I Have A Dream- Westlife.
"Masih jauh?" tanyanya saat sudah melewati kiara 2 ci Letuh.
"Bentar lagi sayang." Ando menengok kearah jok belakang dimana istrinya sedang duduk sendiri disana.
Karena Ando harus menunjukan arah jalan pada mang Jajang, sekaligus menemani mengobrol agar beliau tidak mengantuk, mengingat perjalanan lumayan jauh.
Kurang lebih 45 menit, dari kiara 2 ci letuh, kini mobil yang ditumpangi Ando berhenti di depan rumah pamannya.
Perjalanan menuju sukabumi-jampang kulon, memakan waktu hampir 7 jam, karena di ci Curug Sukabumi, sempat terjebak macet yang lumayan lama.
"Udah sampe yang!"
"Oh udah." Ia pun bergegas turun saat Ando sudah membukakan pintu Untuknya.
Lalu mengikuti langkah Ando, menuju rumah yang terlihat sederhana, tidak terlalu kecil, namun juga tidak terlalu besar.
Tok...tok...tok..
Assalamu alaikum?
Ando mengetuk pintu serta mengucapkan salam.
"Waalaikum salam," jawab seorang remaja perempuan, dan membukakan pintu untuknya.
"Eh a Ando, Ayo masuk a." gadis itu mempersilahkan Ando, Nada dan mang Jajang untuk duduk disebuah sofa ruang tamu.
"Eh Ando kesini, Aduuuh, makin kasep aja nya!" Ucap seorang wanita paruh baya, yang merupakan istri dari pamannya, yang baru saja muncul dari belakang.
"Sehat bi."
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat, si Vina meni Riweuh pisan tadi, katanya ada a Ando sama teteh geulis." lanjutnya sambil terkekeh.
"Mamang sama Revan kemana bi?"
"Ah biasalah mamang kamu mah, mancing kelaut, sama si Revan juga katanya bararosen dirumah."
Ando mengangguk-anggukan kepala mengerti.
"Oh iya Bi, kenalin ini Istri Ando, Nada namanya."
"Nada." ucapnya sembari mencium tangan bi Imas.
"Aduhh iya, ternyata bener si Vina, meni geulis pisan nya neng Nada teh!"
"Kapan nikahnya, kok nggak kabar-kabar atuh kesini, emang Ando teh udah lulus sekolah?" tanyanya tak percaya.
Ando meringis, "Belum resepsi bi, karena Ando juga belum lulus."
"Kunaon atuh meni buru-buru nikah, kalau belum lulus, aduh anak jaman sekarang mah ya, meni nggak sabaran, pengen cepet-cepet nikah, tapi nggak apa-apalah ada baiknya juga, biar jauh dari hal-hal yang tidak di inginkan."
"Iya bi." balas Ando canggung, sedangkan Nada tersipu malu.
"Kumaha kabar papa, mama sehat jang?"
Ando meringis, entah harus menjawab apa, mengenai orang tuanya.
"Sehat bi sehat, tapi nggak bisa ikut lagi pada sibuk."
"Oh kitu, yaudah nggak apa-apa, sok atuh sekarang pada mandi dulu, habis itu pada makan, kebetulan bibi teh baru selesai masak ikan barusan sama si vina."
"Iya bi, Nuhun." Ando pun berjalan kearah kamar diikuti oleh Nada dan mang Jajang.
Setelah selesai mandi, Ando, Nada, dan mang Jajang menyantap makanan yang disediakan oleh Bi Imas, lalu setelahnya berkumpul untuk mengobrol di ruang tamu.
"Assalamu alaikum?"
Ucap seseorang, yang tak lain adalah paman Ando.
"Waalaikum salam," Balasnya serentak.
"Waduuh, ada tamu ternyata nih."
"Mang sehat?" Ando terlebih dulu menyalami mang Badru.
"Alhamdulillah!" balasnya sembari menepuk-nepuk pundak Ando.
"Gimana kabar mama papa sehat disana?" tanya mang Badru.
"Sehat Alhamdulillah mang, kalau papa sedikit kurang sehat."
"Mamang udah lama nggak kesana, apa lagi mama kamu sekarang sibuk terus ya."
"Ya gitu deh mang!"
__ADS_1
"Eh ini siapa,? Cantik bener ." ucapnya, saat Nada mengulurkan tangan untuk menyalaminya.
"Pacar?"
"Bukan mang, itu Istri Ando, Nada namanya."
"Eh yang bener, kapan nikahnya? kok mamang nggak dikasih tahu, udah nggak di akuin ni, mentang-mentang jauh." Ujar mang Badru kecewa.
"Baru akad doang mang, Nanti kalau resepsi pasti di undang semua kok."
"Oh gitu, udah ngebet banget emang pengen nikah, Ando masih sekolah kan.?"
"Hehe iya mang."
"Takut keburu di ambil orang kali, orang neng Nada nya meni geulis kitu, iya nggak neng?" seru bi imas menimpali, sembari melirik kearah Nada.
Membuat Nada lagi-lagi tersipu.
"Tapi nggak apa-apa, mamang lebih setuju kalau Ando mau menikah cepet, dari pada berlama-lama pacaran, jadi fitnah, jadi maksiat juga."
"Kira-kira mau berapa lama disini, banyak wisata baru lho sekarang, si Revan aja tiap hari nggak diem di rumah, main mulu sama temen-temennya, tadi aja bilangnya mau ikut mancing, tahunya malah pergi bareng temen-temennya dasar emang."
"5 harian lah mang, Nada pengen lihat pantai katanya."
"Oh si neng nya mau lihat pantai, hayu gampang neng deket dari sini mah, cuma beberapa menit aja nyampe." melirik kearah Nada yang tersenyum canggung.
"Iya mang!" balas Nada pelan.
....
Pukul 15:05 Ando dan Nada masuk kamar untuk beristirahat.
"Mau istirahat dulu, apa mau lihat pemandangan sore, dulu kalau aku kesini sering ke panenjoan sama si Revan."
"Apa itu panenjoan,?" Tanyanya penasaran.
"Susah sih kalau dijelasin, tapi yang pasti kita itu berdiri di pinggir jurang, dan seluruh pemandangan dibawah itu terlihat semua dari atas."
"Kok serem gitu sih ada jurangnya segala?"
"Kalau nggak lihat langsung sih pasti nyangka nya serem yang!"
"Yaudah ayo kesana lihat, aku penasaran."
"Besok ajalah, sekarang istirahat dulu, pasti cape kan, kasian tuh dedenya."
"Nggak ih dedenya kuat Ayo."
Ando menghela Nafas, kalau sudah begini mau di apakan lagi batinnya.
"Yaudah Ayo,"
Dan sore itu mereka berangkat hanya berdua, menggunakan motor Matic milik mang Badru.
__ADS_1
.
***