
Bandung..
.
"Pa, jangan banyak gerak dulu. papa belum sehat bener!" Riana menahan tubuh papa Jordy yang hendak bangkit dari tidurnya.
"Badanku sakit semua Ri, tanganku terasa perih dan Ngilu."
Riana terdiam, menatap suaminya dengan tatapan sedih.
"Tanganku kenapa sih Ri, kenapa di perban begini!"
Riana diam tidak menjawab, wajahnya tertunduk dengan air mata yang sudah berurai, tanpa bisa ia cegah.
"Kenapa Ri?" Papa Jordy kembali bertanya.
"Maaf mas, mas harus sabar ya, mas harus ikhlas, T-tangan mas Jordy di Amputasi." Riana semakin menunduk.
"Apa?!"
"Kamu bercanda Ri."
Riana menggelengkan kepala, semakin terisak. "Nggak mas, aku nggak bohong, tangan kamu beneran di Amputasi."
"Nggak, nggak mungkin!" teriaknya histeris.
"Mas tenang!"
"Dokterrrr!" Riana berlari sambil memanggil-manggil dokter, panik.
"Tolong suami saya dok." Ucap Riana dengan suara yang semakin panik.
"Saya kasih obat penenang untuk pak Jordy ya bu, soalnya di khawatirkan ia akan menyakiti dirinya sendiri."
"Lakukan yang terbaik dokter!" balasnya dengan suara bergetar.
Setelah dokter menambahkan obat penenang yang di suntikan melalui tangan kirinya, perlahan papa jordy mulai lemas, lalu tertidur kembali.
"Saya permisi bu, kalau ada apa-apa hubungi saya ya!"
"Baik dokter terimakasih!"
"Sama-sama bu, saya permisi!"
"Silahkan dokter."
Rianapun memutuskan pulang terlebih dahulu, untuk menemui Gilang yang sendirian menjaga Rumah.
I jam berlalu, kini papa Jordy terbangun, Namun kali ini ia hanya diam, tidak berontak, ataupun berteriak seperti sebelumnya. ia menatap langit-langit kamar pasien dengan tatapan kosong.
Kemarin ia seperti bermimpi bertemu dengan Ando, yang terlihat sedang menangis memandangnya.
Apa ia terlalu merindukan putranya, atau merasa bersalah atas kelakuan buruknya selama Ini terhadap Ando.
Benar kata pepatah, seseorang akan sadar, saat ia sedang dalam keadaan susah. Batin papa Jordy.
Tanpa ia sadari bulir-bulir Air mata berjatuhan membasahi pipinya, dadanya terasa sesak, mengingat masalalu nya yang begitu buruk.
Mengorbankan anak istrinya demi rasa bersalahnya terhadap mantan kekasih, memisahkan antara cinta ibu dan Anak, dalam waktu yang cukup lama.
__ADS_1
Terlalu ceroboh ia mengambil keputusan, hingga semuanya hancur tak tersisa.
Kini ia tahu Rasanya sakit dan kehilangan, karena harus dibenci oleh darah dagingnya sendiri.
Lalu bagaimana? semuanya sudah terjadi, kini sisa hidupnya hanya akan menikmati seluruh penyesalan atas dosa-dosanya di masa lalu.
.
.
"Yaampun Nad, sumpah ya, gue kangen banget sama lo!" Bianca memeluknya erat tak ingin melepaskannya.
"Iya gue juga!" timpal Chaca, ikut memeluk.
"Ahhhh, terharu gue!" Ucap Nada balas memeluk kedua sahabatnya.
"Udah lama ya kita nggak main bareng!" Ujar Nada yang diangguki kedua sahabatnya.
Ketiganya kini sedang berada di salah satu mall yang terkenal di daerah ibukota, setelah tadi malam janjian lewat pesan Chat.
Meski saat meminta ijin pada suaminya, Nada harus membayarnya dengan melewati malam yang panjang bersama Ando, karena Ando tidak akan membiarkannya begitu saja.
"Aku mau ijin main sama temen-temen besok ya!"
"Cewek, cowok?"
"Cewek!"
"Dimana?"
"Di mall!"
"Ihs kebanyakan nanya, boleh apa nggak?"
"Paan sih, pakai acara di syarat-syaratin segala!"
"Nggak mau ya udah, berarti nggak usah main juga."
"Iyadeh iya, apa?"
"3 Ronde."
Begitulah drama tadi malam, saat Nada meminta ijin pada suaminya.
....
"Eh ngomong-ngomong cowok yang nganterin lo tadi siapa Nad, bukannya si Raffa udah kuliah ya, kok tadi masih pake seragam Sma?"
Ujar Bianca sembari mengaduk-aduk jus melon yang baru saja di antar oleh pelayan.
Ketiganya kini sedang duduk di salah satu Cafe didalam mall tersebut.
"Tapi keknya yang tadi bukan si Raffa deh, gue kaya pernah lihat, tapi dimana ya!" Chaca mengetuk-ngetuk dahinya, mencoba mengingat dimana ia pernah melihat cowok muda tadi.
"Lo yakin pernah lihat Cha?" Bianca menatapnya penasaran.
"Lo berdua kenal orangnya kok!"
Sontak kedua sahabatnya nya menoleh kearah Nada.
__ADS_1
"Serius?" ucap Bianca dan Chaca bersamaan.
Nada mengangguk, mungkin sudah saatnya ia harus jujur pada sahabatnya, tentang Ando dan statusnya.
"Ando!"
"Serius?" Lagi-lagi Chaca dan Bianca berucap secara bersamaan.
"A-ando The Arcturus?" Bianca memastikan.
"Iya."
"Eh serius, Ando The Arcturus.?" Chaca menatapnya tak percaya.
"Gimana bisa Nad?"
"Kenal dimana?"
"Kenapa bisa kenal sama lo?"
"Kenapa nggak cerita ke gue!"
Rentetan kalimat yang di lontarkan kedua sahabatnya, membuat ia merasa pusing.
"Aduh, gue pusing mesti jawab yang mana dulu nih!"
"Yaudah yaudah, jawab intinya aja, lo punya hubungan Apa sama si Ando?" Bianca mendekatkan wajahnya pada Nada, jiwa kepo nya kini bertambah berkali lipat.
"G-gue." Nada menggigit bbirnya ragu.
"Ih buruan!" desak Bianca dan Chaca tidak sabaran.
Nada memejamkan matanya."Gue sama Ando udah married!"
"Hahhhhh?" Bianca dan Chaca membelalakan matanya tak percaya.
"Sumpah lo ya Nad, bercanda lo nggak lucu tahu nggak!" Bianca berteriak histeris.
"Gila, nggak percaya gue!" Chaca menjambak rambutnya frustasi.
Nada terdiam, ia tidak menyangka dengan Respon kedua sahabatnya yang berlebihan.
Chaca beranjak dari duduknya, berjalan sambil mencak-mencak kearah Nada.
"Gue mimpi apaan sih semalem, Gila gue bisa gila ini, Idola gue udah married, sama sahabat gue." Chaca mondar-mandir tidak jelas mengelilingi meja.
Nada hanya meringis, melihat tingkah sahabatnya.
"Selamat ya Nada sayang, gue masih belum percaya tahu nggak sih, kalau lo udah married, apalagi sama si Ando yaampun." Namun detik kemudian ia tetap memeluk sahabatnya.
"Kenapa nggak cerita kalau lo udah married Nad." Chaca menatapnya sendu.
"Lo punya hutang cerita pokoknya ke gue!"
"Iya Nad, gimana ceritanya sih bisa nikah sama Ando?" Bianca menimpali.
"Aduhh panjang ceritanya!"
"Gue siap dengerin kok," Chaca sudah kembali duduk manis.
__ADS_1
"Gue juga!" Bianca antusias.
Nadapun akhirnya menceritakan insiden yang membuatnya terpaksa menikah dengan Ando si anak Sma.