Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Kepanikan Ando


__ADS_3

Setelah selesai makan, Ando dan sahabatnya asyik melanjutkan mengobrol, serta sesekali menertawakan hal-hal konyol yang dilakukan Pandu dan Danang.


Dilanjut dengan bermain truth or Dare, yang membuat semuanya bergantian merasa was-was saat harus jujur dihadapan sahabatnya.


Bahkan saking keenakannya bercanda dengan para sahabatnya, ia tidak menyadari waktu sudah berganti malam.


"Jam berapa nih, kalau pulang kemaleman bisa berabe gue,!" Danang melirik jam di pergelangan tangannya.


"Busyet udah malem, mampus gue, alamat digebukin emak gue inimah."


Repleks Ando ikut melihat jam di pergelangan tangannya, ia terkesiap saat melihat angka yang tetrera disana, 23:11.


"Nada!" gumamnya.


"Sorry semuanya, gue duluan!" Ando bergegas pergi kearah luar dengan sedikit tergesa.


Lalu ia merogoh benda pipihnya, sebelum ia menaiki motornya.


Ia tersentak saat melihat ada 10 panggilan tak terjawab, serta beberapa chat masuk dari Nomor yang sama.


"*Kamu pulang jam berapa?, aku mau pulang jam 7."


"Tadinya mau nungguin kamu jemput aku, tapi dirumah Bt cuma ada bibi, mama papa lagi menghadiri pesta sahabatnya*."


"Aku minta dianter pulang mang Arif aja supir papa."


.


"Ando, aku udah dijalan, tapi mobilnya mogok, kemungkinan dibenerinnya butuh waktu yang lama, bisa jemput nggak, aku kedinginan, perut aku juga mual."


"Kamu kemana sih."


"Aku nungguin kamu."


..


Ando segera menekan handphonenya menelpon istrinya.


"Maaf nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif."


Deg!


"Argghhh..Sial!"


Ia merutuki kebodohannya sendiri, seharusnya ia tidak kebablasan sampai selarut ini, bagaimana jika terjadi sesuatu pada istri dan anaknya. batin Ando


Ia pun segera melesat mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, ia bahkan tak peduli dengan keselamatannya sendiri.


Yang ada di pikirannya saat ini adalah, bagaimana keadaan istrinya.


Dimana dia?


Saat sampai dirumah Ando meninggalkan motornya dihalaman, tanpa sempat memarkirkannya di garasi.


Ia berlari sekuat tenaga menapaki satu persatu anak tangga, lalu segera membuka pintu kamarnya.


Ia menghembuskan Nafas lega, melihat istrinya sedang terlelap di atas tempat tidur.


Tubuhnya merosot dibalik dinding kamar, lalu terduduk diatas lantai, mengatur nafasnya yang tersengal tak beraturan, dikarenakan kepanikan yang luar biasa, hingga kepalanya pun ikut berkedut pusing.


Setelah nafasnya mulai kembali teratur, ia bangkit menghampiri istrinya.


"Maafin aku sayang, udah dua kali aku lalai dari tanggung jawab aku sebagai suami." sembari mengelus kepala istrinya.

__ADS_1


"Aku siap menerima kemarahan dari kamu yang!"


Nada menggeliat, dan mengerjapkan matanya.


"Udah pulang?" ucapnya serak.


Ando mengangguk, dengan tatapan bersalah..


"Aku minta maaf sayang, A-aku."


"Minta maaf kenapa?"


"Tadi aku nggak sempet lihat hp, aku terlalu fokus main sama temen-temen aku yang."


"Maaf!"


Ucapnya menunduk.


Tanpa di duga Nada menyentuh wajah Ando, hal yang baru pertama kali dilakukannya.


Telapak tangan sehalus kulit bayi itu Terasa hangat dan lembut, mengenai pipinya.


"Nggak apa-apa, aku ngerti kok, tiap hari kamu sekolah dan pulangnya kamu juga harus kerja, sekali-kali kamu juga butuh hiburan dan main bareng temen-temen kamu."


Nada mengerti, seharusnya anak seusia Ando memang masih waktunya main dan senang-senang bareng teman-temannya.


"Tapi tadi pulangnya gimana yang, aku khawatir banget!"


"Naik taxi, bareng mang Arif, terus mang Arifnya pulang lagi setelah aku sampai rumah."


"Maaf."


"Nggak apa-apa ihs, aku minta maaf tadi hp nya abis batre, terus aku cas, dan ketiduran."


"Aku pikir kamu bakalan marah yang!"


"Tadi aku ketakutan setengah mati, takut kamu kenapa-napa yang, aku nggak bisa bayangin kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita."


Wajah Ando memerah, dan air matanya terjatuh lolos begitu saja, tanpa sempat ia cegah.


Tangan halus itu perlahan terangkat menghapus buliran air mata di pipinya.


"Aku baru tahu kalau seorang Ando si Vokalis tampan The Arcturus itu, ternyata aslinya cengeng ya, kelihatannya aja diluar Sok Cool padahal Aslinya-"


"Cengeng!"


"Bilang apa tadi?" Ando mengerjapkan matanya


"Cengeng!"


"Bukan, bukan yang itu!"


"Ihs yang mana?"


"Coba ulang dari awal!"


"Aku baru tahu kalau seorang Ando si Vokalis Tampan The-"


"Stop!"


Nada menggerenyit, menatapnya heran.


"Jadi istri aku yang paling cantik ini, udah ngakuin kalau suaminya ini tampan heh?" ucapnya dengan senyum menggoda.

__ADS_1


"Ihs apaan sih." Nada menepis tangan Ando, yang memegang dagunya, lalu menutupi wajahnya malu.


"Cieee, yang udah ngakuin!" Ando terus menggoda Nada sambil tersenyum jahil.


"Ihs Ando!"


"Gimana yang, sekarang udah bertambah berapa persen cintanya buat aku?" Ando menatapnya penasaran.


"Ehmmm..berapa ya?"


"Ayo dong sayang, jangan bikin aku penasaran."


"15% mungkin!" jawabnya Asal.


"Kok cuma 15% sih yang, tambahin dong!"


"Iya deh, 50%."


"Yesss!" ucapnya sambi melompat.


"Nggak apa-apa udah dapet setengahnya, aku bakalan terus berusaha, bikin kamu jatuh cinta full sama aku, dan aku bakal bikin hati kamu tak tersisa untuk orang lain."


Dan tanpa permisi ia segera meraih tengkuk istrinya, Melum*tnya dalam dan penuh cinta, dan ia baru melepaskannya setelah merasa kehabisan nafas.


Lalu mengusap sisa saliva yang menempel di bibir Nada menggunakan ibu jarinya.


"Manis, bikin nagih terus!" ucapnya sambil terkekeh.


"Ihs." Nada memukul lengan suaminya sebal.


"Lagi nggak, atau mau lebih?" Ucapnya dengan senyum di kulum.


...


"Dedenya nggak apa-apa kan yang?" Ia menyentuh perut Nada yang terbungkus selimut tebal, Karena mereka baru saja selesai melakukan aktifitas Favorit Ando.


"Tahu!" balas Nada ketus.


"Maaf yang, nggak bisa di tunda!" ucapnya merasa bersalah.


Entah karena masih muda, atau Nafsu Ando yang berlebihan, membuatnya kian tak terkendali.


"Maaf terus, tapi di ulangi lagi!"


"Yang ini beda yang, pengennya di ulang terus!" balasnya sambil terkekeh


"Dasar m*sum!"


"Sama kamu doang yang!"


"Udah ah, aku cape mau tidur."


Nada menarik selimut hingga batas leher, dan tidak berapa lama kemudian nafasnya mulai teratur naik turun, menandakan bahwa ia sudah terlelap.


Dipandanginya wajah Nada yang terlihat damai saat tidur, ia tersenyum sendiri, tidak menyangka akan menikah diusianya yang semuda ini.


Dan bahkan sebentar lagi ia akan mendapatkan gelar dengan sebutan Ayah dari buah hatinya.


Ia berharap kedepannya rumah tangganya dengan Nada akan selalu bahagia, dan penuh suka cita, bersama anak-anaknya kelak.


.


.

__ADS_1


__ADS_2