Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Gilang (part 2)


__ADS_3

Kehadiran baby Syahki memang sangat disambut baik, oleh keluarga Nada maupun Ando, begitupun sahabat-sahabatnya.


Termasuk Gilang, yang berstatus adik tiri Ando, dan kini ia bersikukuh ingin ikut ke Jakarta, untuk menemui baby Syahki, meski ditempat ia bersekolah sedang banyak sekali tugas.


Rendra pun mengiyakan, atas saran mama Indri, dengan syarat tak bisa lama-lama, apa lagi menginap.


Dan demi keinginannya terwujud, Gilang pun hanya bisa pasrah, yang penting bisa bertemu dengan baby Syahki, meskipun sebentar. pikirnya


Sesampainya di rumah Ando, mama Indri bergegas masuk lewat pintu belakang, atas saran Ando, sewaktu menelpon, karena didepan sudah dipadati oleh tamu undangan.


"Sini ikut mama, biar papa ngobrol sama om Abidzar didepan." seru mama Indri, sembari menarik tangan Gilang agar mengikuti langkahnya menuju kamar baby syahki.


"Itu dia, si baby gantengnya, uhhh.. sayangnya oma, lagi bobo ternyata." mama Indri mengelus gemas pipi mungil Baby Syahki, yang berada digendongan Nada.


"Maaf ya Nad, mama telat terus datangnya." ucap mama merasa bersalah.


"Yaampun nggak apa-apa ma, wajar aja, kan perjalanan cukup jauh, sama sekali nggak masalah kok ma."


"Iya, tadi sedikit macet Nad, sini dedenya mama mau gendong," mengambil alih baby Syahki dari gendongannya.


Sedangkan Gilang mengulurkan tangannya kearah Nada, untuk bersalaman.


"Wah, Gilang sekarang makin ganteng ya, udah punya pacar belum?" Goda Nada, membuatnya kini tersipu malu.


"Jangan pacar-pacaran dulu ah, sekolah yang bener de!" mama mengingatkan.


"Iya ma." Gilang mengangguk, selama hidup bersama mama Indri yang penuh kelembutan serta penuh kasih sayang, membuat Gilang kian merasa memiliki seorang ibu yang sesungguhnya.


"Eh, nggak apa-apa Gilang, biar semangat belajarnya." lanjut Nada sembari terkekeh.


"Gilang ini bersikukuh banget pengen ikut keJakarta, biar bisa ketemu dede Syahki katanya, padahal tugas sekolahnya sangat padat." seru mama sembari mengelus-elus rambut baby Syahki.


"Yaudah Gilang sekolahnya pindah keJakarta aja ya, tinggal sama kak Nada, sama bang Ando ya, biar bisa barengan terus sama baby Syahki." ucap Nada.


sedangkan Gilang hanya meringis malu.


...


...


"Ma, maudy juga mau punya adik cowok yang lucu kaya dede Syahki ya ma!" ujar Maudy yang merupakan putri kedua kak Burhan dan kak Alea.


"Bisa nggak ngasuhnya, kamu aja masih suka ngerengek minta di gendong mama." seru Sitta putri pertamanya.


"Ini malah minta punya ade." lanjutnya mencibir sang adik.


"Ih kakak." Maudy merajuk.


"Tuhkan, baru juga di omong udah ngerengek lagi kan, payah!"


"Udah-udah, kok malah jadi pada ribut sih, kasian tuh dedenya nanti kebangun." sambar kak Burhan.


"Tahu tuh kakak!" lagi-lagi ia merengek.


"Tinggal sini aja ya Mau, sama tante Nada, bareng dede Syahki ya!" rayu Nada.


"Sama mama juga?" ucapnya gadis berumur 4 tahun itu polos, menoleh kearah sang mama yang sedang memangku baby Syahki.

__ADS_1


"Maudy aja sendiri, udah gede kan, masa harus sama mama terus?" goda Nada.


"Nggak ah, nanti kalau ada petir nggak bisa peluk mama."


"Payah!" lagi-lagi sang kakak mencibirnya.


"Nanti punya adeknya, kalau Maudy udah pinter aja ya!" seru kak Elea.


"Maunya sekarang mama!"


"Kan Maudynya belum pinter, masih suka nangis!"


"Maudy janji deh ma, bakalan pinter asal punya adek, persis dede Syahki."


Dan semua orang yang berada disana, hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kepolosan Maudy.


.


.


Setelah acara aqiqah selesai, kini hampir seluruh tamu undangan sudah pulang, dan kini hanya tersisa dari keluarga inti saja.


"Apakabar, gimana sekolahnya?" seru Ando ketika ia mendapati Gilang tengah duduk, dengan tatapan lurus kedepan.


"Baik, bang!" ia sempat menoleh sekilas, namun detik kemudian, kembali memfokuskan diri menatap kedepan, dimana ada beberapa orang yang sedang membongkar tenda bekas acara.


"Masih suka ketemu tante Riana?" lanjutnya, sembari mendudukan diri di kursi yang berada disamping Gilang.


"Jarang bang," balasnya singkat.


Ando terdiam sesaat, menimbang-nimbang perkataan apa yang harus ia bahas selanjutnya, pada remaja yang berusia 15 tahunan tersebut.


"B-bang Devan?" ia sempat tertegun, mendengar nama kakaknya disebut, yang bahkan hampir terlupakan dalam ingatannya, setelah terjadi insiden yang mengharuskan kakaknya bertahan didalam jeruji besi.


"Iya, bang Devan."


"Saya, belum sempat nengokin bang."


"Nengokin, bukannya dia sehat-sehat aja!" kini gantian Ando yang kebingungan, bahkan keningnya berkerut-kerut antara heran dan bingung.


"Iya, kan bang Devan dipenjara."


"Ohhh, jadi kamu belum tahu." Ando hampir saja tergelak, rupanya adik tirinya tersebut, sama sekali tidak tahu bahwa kakaknya sudah ia bebaskan, beberapa bulan yang lalu.


"Tahu apa?" gilang menatapnya bingung.


"Devan udah bebas Lang, saya pikir kamu udah tahu soal ini, berarti bener ya, kamu jarang banget ketemu tante Riana."


Gilang terdiam..


"Kalau boleh saya kasih saran." dengan ragu Ando pun mengangkat tangannya, menyentuh bahu ramping milik Gilang.


"Sesekali tengokin tante Riana ya, meski dia bukan ibu kandung kamu, tapi kamu harus ingat, bahwa selama ini, hingga kamu sebesar sekarang, dialah yang sudah merawat kamu Lang." ucap Ando, hendak bangkit dari duduknya.


Namun kini langkahnya terhenti, karena Gilang memanggilnya.


"Bang?" ia menoleh, dengan wajah yang berubah sendu, yang berhasil memancing Ando kembali mendudukan diri ditempat semula.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Makasih udah nyadarin Gilang bang."


"Saya minta maaf atas segala yang terjadi dimasa lalu, antara ayah, mama Riana, dan juga mama Indri, saya terlambat mengetahuinya bang."


"Maaf!" lanjutnya, dengan wajah menunduk.


Ando terenyuh, mendengar penuturan Gilang, memang tidak seharusnya anak seusia Gilang terlibat dalam masalah rumit keluarga, kini ia dipaksa kuat dengan keadaan.


Di usianya yang menginjak remaja, terpaksa harus mengikuti alur kehidupan yang sejatinya terasa rumit.


Dan kini Ando, tidak dapat lagi untuk tidak menyentuh kembali bahu ramping milik sang adik.


"Kamu nggak salah Lang, semua ini memang sudah jalannya,"


"Abang juga sudah pernah merasakannya," balas Ando, dengan tatapan lurus kedepan, mengingat masa-masa pahit di masa lalunya.


"B-boleh kah Gil-"


"Gilang, mama cariin ternyata kamu ada disini." seru mama Indri, membuat ucapan Gilang terpotong.


"Lagi ngobrol ma, sedikit." balas Ando.


"Ngobrolin apa sih, kayaknya serius banget?" ucap mama sembari terkekeh, dalam hati ia bersorak riang melihat kedua putranya kini terlihat semakin akrab.


Karena menurut mama, antara Ando dan Gilang, keduanya memiliki kesamaan, yaitu susah di dekati, dan susah untuk akrab, jika tidak dengan orang-orang tertentu.


"Biasa ma, obrolan laki." balas Ando.


"Mama nggak bisa lama-lama An, karena nanti sore Gilang ada acara disekolahnya, mama minta maaf ya!" ucap mama tak enak.


Ando menggeleng.


"Nggak apa-apa ma, acaranya juga udah selesai kok."


.....


Sesampainya di Bandung, Gilang bergegas mandi, dan berpamitan pada mama dan papa, ia berangkat lebih awal, padahal acaranya baru akan dimulai jam 16:00 sore.


Tidak seperti biasa, kali ini Gilang meminta izin naik Taxi online, padahal biasanya ia selalu diantar jemput supir, yang dikhususkan papa untuknya.


Dengan hati berdegup, ia mengetuk pelan pintu kayu coklat yang sudah mulai usang, akibat termakan usia.


Dan begitu seseorang yang ia tunggu, keluar dan menyembul dibalik pintu, tanpa berkata sepatah kata pun, ia menubrukan kepalanya tepat di dada seseorang tersebut, lalu menumpahkan tangisnya disana.


"Kamu kenapa nak?" Riana mati-matian menahan airmatanya agar tidak keluar, karena tak bisa ia pungkiri rasa rindu yang menggunung, dengan tanpa peringatan kini yang dirindukannya datang mengobati.


"Maaf ma!" hanya itu ucapan berulang yang keluar dari mulut Gilang, seterusnya ia masih sesenggukan di dada sang mama.


"Papa sama mama sehat?" ujarnya, ketika melihat Gilang sudah lebih tenang, dan berhenti menangis, dan kini mereka sedang duduk dimeja makan.


"Sehat ma!"


"Yaudah makan dulu yu, nanti kita lanjut lagi ngobrolnya." ujar Riana, mengambil sepiring nasi serta lauk pauk untuk Gilang.


.

__ADS_1


.


__ADS_2