
Ando berjalan dengan langkah pelan, sembari mencoba menetralkan jantungnya yang terasa melompat-lompat, Seharian tak bertemu dengan istrinya membuat ia, kian tak berdaya.
Ando melewati beberapa ruangan, hingga menembus pintu belakang rumah tersebut.
Dipandanginya punggung seseorang, yang telah membuat moodnya seharian ini memburuk karenanya, terlihat damai dan tenang disebuah kursi yang menghadap kearah kolam renang yang luas.
"S-sayang!" ucapnya pelan, berdiri tepat dibelakang Nada.
Nada menoleh, dan tersenyum manis kearahnya, sembari menyodorkan kue tart yang diatasnya terdapat lilin merah dengan angka 19.
"Selamat ulang tahun suamiku sayang, semoga panjang umur, selalu diberi kesehatan, semakin sukses, semakin dewasa, dan menjadi suami serta ayah yang baik untukku dan calon anak kita." mengecup pipi kiri dan kanan Ando.
"Sekarang tiup lilin dulu ya, jangan lupa berdo'a." sambung Nada.
Bukannya menuruti Nada untuk meniup lilinnya, Ando justru malah terbengong, dengan air mata yang sudah menganak sungai.
"Abang ihs, kok malah nangis, cengeng!" seru Nada sembari mengusap air mata Ando menggunakan tangan kanannya.
"Tiup dulu lilinnya abang ihs, tangan aku pegel!"
Dan ucapan istrinya yang merengek, sontak membuatnya tergelak.
Dan wushhh.. Ando meniup lilin tersebut dalam satu kali tiupan.
"Gitu dong,"
"Ini hadiah pertama buat suami ganteng aku, nggak mewah sih, tapi aku berharap abang suka!" menyerahkan kotak hitam kecil pada Ando.
Ando menarik tangan Nada setelah meletakan kue tart yang dipegang istrinya.
Duduk di kursi, dan meletakan Nada di pangkuannya.
"Terimakasih sayang, udah bikin surprise yang buat aku deg-degan setengah mati." seru Ando sembari memeluk tubuh Nada erat.
"Terimakasih juga buat hadiahnya, apapun yang kamu kasih adalah hal istimewa yang tiada duanya bagi aku."
"Pakein sekalian!" lanjut Ando dengan suara manja yang dibuat-buat.
"Iya sini!"
"terimakasih sayangku." seru Ando, setelah Nada memasangkan jam pemberiannya, dipergelangan tangan Ando.
"Sama-sama."
"Aku hampir Gila hari ini yang, kamu pergi gitu aja tanpa ada kabar." ucapnya dengan tatapan sedih.
"Siapa suruh suka emosian, main hajar orang sembarangan, semuanya kan bisa di omongin baik-baik abang!" menyentuh Rahang Ando yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus.
"Abis aku nggak suka yang, ada cowok lain yang nyentuh kamu, aku nggak rela!"
"Tapi nggak harus di hajar juga kan?"
"Mulai sekarang, abang harus bisa belajar menahan emosi, dan mengendalikan diri, karena aku nggak mau suami aku terlihat seperti pereman di mata orang-orang, dan yang paling penting aku nggak mau abang sampai terluka." ucap Nada sungguh-sungguh menatap manik hitam milik suaminya.
"Abang harus tahu, meskipun banyak laki-laki diluar sana, bagi aku abang udah cukup dari segala-galanya."
"Nggak akan ada yang lain."
__ADS_1
"Dan nggak akan pernah ada yang lain."
"Juga nggak akan pernah tergantikan oleh siapapun."
Ando tersenyum mendengar penuturan istrinya, dengan perasaan bahagia.
Dan detik kemudian ia mulai menyatukan dahinya, lalu m*lum*t bibir Nada dengan lembut, dalam, dan menghanyutkan.
"Ihs abang, suka nggak lihat-lihat tempat, gimana kalau ada orang yang lihat?" seru Nada, saat Ando mulai melepaskan pagutannya.
"Biarin aja!" balasnya Acuh, dan hendak melanjutkan aksinya, namun urung, karena Nada keburu beranjak dari pangkuannya.
Ando tidak menyerah, ia berusaha meraih kembali tubuh mungil Nada, kemudian di dekapnya erat.
"Abang ihs, jangan kaya gini, masih banyak tamu didepan!" Nada berusaha melepas pelukannya dari Ando.
"Ok, aku lepasin, tapi ada syaratnya."
"Pake syarat segala!"
"Nggak mau yaudah."
"Ok, apaan?"
"Lanjutin dirumah!" bisiknya.
"I-iya, iya." lebih baik mengalah, dari pada berdebat terus pikir Nada.
******
Usai merayakan hari pentingnya Ando, yang disambut baik oleh para sahabat serta keluarganya, kini Ando dan Nada telah kembali kerumahnya.
Kini Keduanya tengah kelelahan, usai melakukan aktifitas panasnya.
"Sehari nggak ketemu kamu tuh, rasanya nggak ketemu bertahun-tahun tahu nggak sih yang."
Nada mendongak, menatap wajah Ando. "Katanya abang nggak fokus latihan ya, bengong mulu, diajak ngomong juga nggak nyambung, seharian nggak mau makan lagi!" ucapnya menahan tawa.
"Kamu ngetawain aku?"
"Nggak!"
"Pasti si duo bintang redup ya, yang cerita?"
"Siapa lagi."
"Kurang ajar banget mereka, musti dikasih pelajaran tuh besok, ternyata mereka sekongkol ya sama kamu?"
"Nggak kok, aku baru ngasih tau mereka tadi sore, tapi emang sih, satu hari sebelumnya, aku ngomong ke mereka, jangan ada yang ngucapin ulang tahun dulu sampe malem, dan mereka nurut juga ternyata." Nada terkekeh.
"Sekarang udah berani ya, menghubungi cowok lain, tanpa sepengetahuan suami!"
"Kapan coba, kamu ketemu mereka?"
"Ihs, Aku nggak ketemu mereka."
"Terus?"
__ADS_1
"Aku nelpon Pandu."
"Dari mana punya nomor dia?" Pertanyaan Ando semakin mendesaknya.
"D-dari hp abanglah!"
"di hapus nggak bekasnya?"
"Nggaklah, ngapain dihapus, biarin aja, siapa tahu nanti ada hal yang penting lagi, kan gampang!"
"Yang!"
Ando menatapnya dengan tatapan memohon, membuat Nada akhirnya beranjak mengambil ponselnya dengan kesal.
"Tuh, nggak ada kan, udah dihapus." seru Nada ketus.
Membuat Ando tersenyum, dan mengusap lembut kepalanya.
"Istri penurut, makasih ya, sayang."
..
..
Bandung..
.
Rendra masih dengan sejuta kegelisahannya, setelah semalam ikut merayakan ulang tahun calon putranya, dan siang ini ia meluncur kerumah orang tua Gilang, untuk mengajak Gilang jalan sekaligus mengobrol serius.
Dan kebetulan Riana hari ini meliburkan Wartegnya, karena ingin mengantar Papa Jordy untuk check up.
"Gilang, om mau tanya sesuatu boleh?" Ucapnya, ketika sudah duduk, dan memesan makanan, di saung makan lesehan yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal Gilang.
"Boleh, tentang apa om?" balasnya antusias, selalu ada kebahagiaan sendiri bagi Gilang, jika Rendra mengajaknya mengobrol santai.
"Ehmm...tapi Gilang jangan marah ya, kalau om nanyanya yang sedikit berbau sensitif, atau om gak jadi nanya deh!" lanjutnya sembari terkekeh.
"Eh om kok gitu, nggak apa-apa kok om, tanya aja, Gilang mah orangnya selow, jadi om jangan sungkan, santai om santai." ucapnya yang balas terkekeh.
"Ehmm Gitu ya, ok kalau gitu, om mau tanya, seandainya orang tua Gilang masih ada, Gilang mau nggak ketemu mereka?"
Gilang terdiam sesaat.
"Selama ini Gilang hanya tahu kalau mama sama ayah adalah orang tua kandung Gilang, Gilang juga nyaman sama mereka, bagi Gilang mama adalah ibu terbaik di dunia, Ayah juga, Gilang sayang mereka berdua."
"Tapi."
"Jika seandainya orang tua Gilang masih Ada, Gilang juga pengen ketemu mereka, Gilang pengen tahu seperti apa wajah mereka, karena biar bagaimanapun Gilang tidak akan pernah hadir di dunia ini tanpa mereka."
Dan ucapan Gilang barusan, sontak membuat wajah Rendra seketika memanas, ingin rasanya saat ini ia memeluk Gilang, dan mengatakan kalau dia adalah ayah kandungnya.
Namun ia tak kuasa, ia akan menunggu waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya, biarlah keadaan tetap seperti ini dulu, dengan Gilang masih terus bersama dengannya pun sudah membuatnya bahagia.
"Om kok nanya gitu, kenapa?" tanyanya, sembari menyuapkan sesendok makanan ke arah mulutnya.
Rendra tersenyum, "Nggak kok, om pengen tahu aja, udah lanjutin makannya, kalau kurang, nambah lagi." ucapnya sembari mengusap kepala Gilang.
__ADS_1
.
.