Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Mengulur waktu


__ADS_3

Nada berusaha melepaskan pagutan Ando yang tak kunjung berhenti.


"Mau yang, boleh ya!" Ucapnya serak, dengan tatapan yang sudah dipenuhi oleh kabut gairah.


Nada hanya mengangguk kecil mengiyakan, Karena ia sudah tahu kebiasaan suaminya, meskipun menolak, Ando akan berusaha terus menggodanya, sampai ia mendapatkan Haknya.


Kini keduanya kembali menyatukan diri, menuntaskan rasa yang kian menggebu, hingga melakukannya berulang kali.


Sementara diluar kamar, Raffa mondar-mandir bagai setrikaan. Ia menunggu Ando untuk mengajak mengobrol kembali, namun setelah 2 jam lebih ia menunggu, sejoli muda itu tak kunjung keluar.


Ck!


Ia berdecak kesal, sebagai remaja yang mulai mendekati dewasa, tentu ia sudah mengerti apa yang sedang dilakukan pasangan yang sudah menikah didalam kamar.


Usai melakukan aksi panasnya dengan Nada, Ando bangkit, melirik kearah istrinya, dan menyelimuti tubuh polosnya menggunakan selimut hingga batas leher.


lalu memunguti satu persatu pakaiannya yang berceceran dilantai.


Kemudian ia memasuki kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Ando melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukan pukul 22:11.


Mau tidak mau, ia harus berangkat malam ini juga untuk menyelesaikan permasalahan di rumah Mama, mengenai bi Mimin, mang Jajang dan mang Daman.


Ia kembali melirik Nada yang tertidur lelap, sepertinya lelah, setelah Ando melakukannya berulang kali tanpa henti.


Ando tersenyum sendiri membayangkan adegan panasnya tadi, ia memang tak bisa mengontrol diri ketika sudah bersentuhan dengan istrinya.


Perlahan ia menghampiri Nada mendudukan dirinya di sisi ranjang, lalu mengecup keningnya. ia tak tega jika harus membangunkan Istrinya.


"Aku berangkat ya sayang, tidur yang nyenyak!"


Meraih kunci mobil di atas Nakas, lalu bergegas pergi.


Saat melewati ruang tamu ia di kagetkan oleh keberadaan Raffa yang berdiri dengan tangan bersidakep, memandangnya dengan tatapan sebal.


"Lo ngapain aja tadi di kamar bang, lo tahu nggak sih gue nungguin elo dari jam 7."


Membuat Ando menatapnya dengan kening berkerut.


"Biasalah, anak kecil mana paham!" Ucap Ando tersenyum mengejek.


"Eh sembarangan lo ya bang, gue sama lo tuh seumuran, malah kalau di hitung dari pendidikan, gue lebih dewasa. gue udah kuliah lho ya, Nah abang masih Sma." Balas Raffa tak terima.


"Ssshhhtt..berisik!"


"Gue mau kerumah nyokap, titip Nada ya, soalnya kayanya malam ini gue nggak pulang!"


"Tega lo, udah gue lama nungguin, giliran keluar malah mau pergi gitu aja, gue sumpahin lo jadi orang sukses!"


"Aamiin." ucap Ando sembari terkekeh.


"Gue jalan dulu."


Raffa hanya terdiam, memasang wajah sebal..


Pukul 23:05 Ando sampai di rumah mama Indri.


"Assalamu alaikum?"


"Waalaikumsalam, eh si Aden akhirnya datang juga, apa kabarnya aden ganteng, duh bibi kangen banget udah lama nggak ketemu."


"Baik bi, bibi sendiri gimana kabarnya, kok belum tidur?" Ucapnya sembari melangkah menuju sofa.

__ADS_1


"Bibi baik den, Emang belum pada tidur, nungguin Aden datang!"


Membuat Ando meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia merasa bersalah pada semua orang yang sudah menunggunya, seharusnya dari sorepun ia sudah sampai disini.


Namun apalah daya, godaan didalam kamar membuatnya terpaksa mengulur waktu.


"Eh maaf bi, jadi telat datang, tadi ada urusan yang nggak bisa ditunda soalnya, oh iya mama dimana bi?"


"Iya nggak apa-apa den, Ibu lagi dikamarnya,."


"Yaudah aku kekamar mama dulu, tapi sebelah mana bi?" karena ia baru pertama kali datang kerumah mamanya.


Tahu alamat rumahnya pun, karena kemarin mamanya yang memberi tahu.


"Aden naik keatas, Nanti dari ujung tangga sudah kelihatan kamar ibu paling beda sendiri model pintunya!"


"Ok bi, makasih ya, saya keatas dulu!"


.....


Tok..tok..tok..


Ando mengetuk pintu kamar mamanya, dan tidak membutuhkan waktu yang lama, pintu pun terbuka, memperlihatkan sosok mama yang sedang tersenyum cerah kearahnya.


"Eh anak mama, udah nyampe, Nadanya mana?" mama menoleh kekiri dan kekanan, mencari-cari keberadaan menantunya.


"Nada nggak ikut!" ucapnya sembari meraih dan mencium tangan sang mama.


"Lho kenapa nggak di ajak sekalian?"


"Nada masih kurang sehat ma, kecapean juga!"


"Kok bisa kecapean, bukannya mama udah siapin Art disana?" mama menatapnya heran.


"Oh iya juga sih, yaudah nggak papa, ngomong-ngomong udah makan belum?" mama menuntunnya kearah dapur di lantai satu.


"Nggak sempet ma!"


"Kamu itu gimana sih, ngapain aja sampai nggak sempet makan."


"Ma!"


Mama menoleh kearah putranya yang sudah duduk di kursi meja makan, dengan wajah murung.


"Kenapa?" mama mengelus rambut putra semata wayangnya, dengan penuh kasih sayang.


"Papa kecelakaan!" ucapnya pelan.


Mama yang sedang mengambilkan nasi untuknya, seketika menoleh kearah Ando.


"Kapan?" tanyanya, sembari melanjutkan mengambil nasi serta lauk pauknya keatas piring.


"Tadi siang."


"Parah apa gimana?" sembari menyodorkan sepiring nasi tepat di depan Ando.


"Lumayan, tangan yang sebelah kirinya di Amputasi."


"Makan dulu, nanti lanjut ngobrol lagi." ucap mama sembari meletakan sendok dan garpu keatas piring Ando.


"Makasih ma," Ando langsung melahap makanannya hingga tandas, lalu meneguk segelas air putih yang di sediakan mamanya.


Mama Indri yang melihatnya makan selahap itu tersenyum senang.

__ADS_1


"Mama nggak makan?" Ucap ando sembari mengelap bibirnya menggunakan tisu.


"Udah tadi, bareng-bareng sama bibi dan mamang."


Ando pun mengangguk menanggapi.


"Mau lanjut cerita?" tawar mama.


"Ma, tadi aku ketemu sama selingkuhannya papa, sama anaknya juga!" Ando menghela nafasnya, sebelum kemudian melanjutkan ucapannya.


"Dia terlihat biasa aja, cantikan juga mama, beda jauh banget, papa aja yang bodoh!"


Mama menatapnya sambil tersenyum, menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak menyetujui ucapan Ando.


"Papa nggak bodoh nak, jangan ngomong gitu ah pamali, walau bagai manapun hubungan mama dan papa, kamu tetap harus menghormatinya sebagai orang tua."


"Tapi kesalahan papa terlalu fatal ma!"


"Itu sudah jadi masa lalu nak, kita harus bisa menerimanya dengan ikhlas, tidak baik menyimpan dendam terlalu lama."


"Ando juga sama seperti papa ya ma!"


"Maksud Ando?" mama menatapnya bingung.


"Ando sama papa, sama-sama udah bikin mama sedih."


Mama menggeleng tak setuju. "Nggak sama sekali nak, sudah ya jangan bahas masa lalu lagi, kita buka lembaran yang baru aja gimana?"


"Oh iya Nada udah ada tanda-tanda belum?" ucapnya sambil tersenyum penuh Arti.


Ando mengingat-ingat kembali, sepertinya sebelumnya ada yang bertanya hal yang sama seperti yang di tanyakan mamanya barusan.


Ia tiba-tiba teringat ucapan mertuanya beberapa hari lalu, pertanyaan yang sama batinnya.


"Eh, eumz Ando nggak tahu ma!" ucapnya meringis malu.


"Kok bisa nggak tahu?"


"Ya mana Ando ngerti begituan!"


"Tapi bikinnya rajin kan?" Ucap mama menahan tawa.


Sungguh saat ini Ando ingin menenggelamkan wajahnya ke dasar laut, mukanya sudah memerah menahan malu, Disaat ia masih sedikit canggung dengan kedekatan bersama mamanya, lalu kenapa mama malah membahas hal-hal yang berbau Intim seperti itu terhadapnya.


"Eh kok jadi merah gitu sih anak mama mukanya!" ucap mama sambil tertawa, ia tak sanggup lagi jika tidak tertawa.


"Ma, udah ah Ando ngantuk mau istirahat." buru-buru mengalihkan pembicaraan.


"Eh tunggu dulu, katanya mau bahas si Bibi sama Mamang, kok malah mau pergi gitu aja." ucap mama masih dengan tawa renyahnya.


"Yaudah, jadi Intinya gini ma! bi Mimin, mang Jajang sama mang Daman kerja dirumah Ando, nah yang sekarang ada dirumah Ando, ando pindahin kesini, mama setuju nggak?"


"Emang yang disana kenapa?"


"Kalau mang asep Ando nggak masalah, tetap disana di tambah mang Jajang juga nggak apa-apa, asal tiara tetep di pindah."


"Kenapa memangnya tiara?"


"Ando nggak suka ma!"


"Ok, nanti mama yang urus!".


**

__ADS_1


****


__ADS_2