
Ando menuntun Nada untuk masuk keruangan yang terletak disebelah ruangan utama.
Saat Ando membukakan pintu untuknya.
Tiba-tiba suara tepuk tangan dari beberapa orang terdengar menggema didalam ruangan baru tersebut.
"Happy birthday to you..Happy birthday to you..Happy birthday..Happy birth day Nada."
Bianca dan Chaca berdiri paling depan memegangi kue ulang tahun yang diatasnya terdapat lilin dengan angka 21.
Dan disebelahnya, Mama sarah, papa Abidzar serta mama Indri ikut bernyanyi sambil tersenyum kearahnya.
Dan dibelakang mereka beberapa sahabat Ando turut hadir ikut menyanyikan lagu untuk Nada.
Sedangkan Nada yang dari awal sudah mendapat kejutan yang secara tiba-tiba ia hanya bisa menutup mulut, sambil menangis haru.
"Happy Birthday ya Nad, aduh sahabat gue yang paling cantik, semoga bahagia terus ya!" Bianca memeluknya.
"Happy birthday Nad, panjang umurnya, langgeng terus sama bang Ando ya." Chaca ikut memeluknya.
"Makasih." balasnya dengan berderai air mata. "Kok kalian bisa ada disini sih?" seru Nada saat sudah melepaskan pelukan dari kedua sahabatnya.
"Suami lo tuh yang ngasih tahu." Bianca menunjuk Ando, yang sejak tadi mengulum senyum.
Lalu Nada melirik kearah Ando, meminta penjelasan, Namun Ando hanya mengangkat bahu.
"Selamat ulang tahun anak cantiknya mama, panjang umur, sehat terus sayang, lancar segalanya ya nak." bisik mama Sarah saat memeluk putri tercintanya.
"Makasih mama, Nada sayang mama." ia semakin mengeratkan pelukannya sambil menangis.
"Selamat ulang tahun ya nak." papa Abidzar turut memeluknya.
"Makasih papa."
Dan saat keduanya selesai berpelukan, kini giliran mama Indri.
"Selamat ulang tahun menantu kesayangan mama, panjang umur sehat-sehat ya sayang, lancar segalanya."
"Makasih mama."
Dan satu persatu sahabat Ando mulai menyalami Nada, mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Dan kini diruangan itu hanya tinggal mereka berdua Ando dan Nada, karena usai acara potong kue semuanya berpamitan pulang, dan memberi ruang untuk mereka berdua melewati malam penuh makna.
"Selamat ulang tahun istriku sayang, Denada Sena Gantari, I Love You so much" Ando meraih dan mencium tangan Nada.
Nada tak bisa lagi menyembunyikan rasa bahagianya, bersama Ando membuatnya merasa menjadi wanita yang paling di cintai.
Tak mau membuang waktu, Nada segera memeluk Ando, menumpahkan air matanya di dada suaminya.
"Makasih!" ucapnya disela isak tangisnya.
"Buat?" balas Ando.
"Buat semuanya!"
"Sayang nggak sama aku?"
Nada mendongak menatap wajah tampan suaminya.
"Sayang." jawabnya malu-malu.
"Masa sih, beneran nggak tuh?" godanya.
"Ih abaanggg!" Nada mendengus kesal, membuat Ando tergelak.
"Cinta nggak?" lanjutnya, dengan tatapan berharap.
Nada yang merasa ditatap sedemikian rupa oleh Ando, kini wajahnya bersemu merah.
Lalu Ando menarik Nada dan mendudukannya disebuah kursi, sedangkan ia berlutut dibawahnya.
Kembali meraih tangan Nada dan di genggamnya tangan mungil tersebut, lalu mendongak menatap wajah istrinya.
"Cinta nggak sama aku?"
Nada mengangguk, "I love you." ucapnya tiba-tiba tanpa di minta.
Membuat Ando menganga tak percaya.
"A-apa barusan bilang apa? Ando hendak berdiri.
"I Love You Alby Orlando Arsenio." ucapnya dengan wajah memerah.
"I Love You too sayang," Ando meraih Nada dalam pelukannya, sedangkan bibirnya tak berhenti tersenyum.
__ADS_1
"Kamu kok sampai kepikiran ngelakuin semua ini buat aku, kamu nggak cape apa, kemarin kita baru aja pulang dari Sukabumi kan?"
Ando menyentuh wajah Nada, dengan kedua tangannya.
"Dengerin aku sayang, mana ada sih kata cape buat aku, jika semua itu menyangkut tentang kamu, justru kamulah obat dari segala rasa lelahku."
Lalu ia menyatukan dahinya dengan dahi Nada, dan detik kemudian berakhir di bibirnya.
*********
Sepulang dari Denada Cafe, Ando dan Nada memutuskan untuk menghabiskan malam mereka, dihotel MUTIARA, hotel legend yang membuatnya kini memiliki hubungan yang terikat selamanya.
Entah kebetulan atau keberuntungan, saat Ando meminta kamar legend nomor 17. Resepsionis tersebut menyanggupi, karena kamarnya memang dalam keadaan kosong.
"Inget nggak yang, saat pertama kali kita ketemu?" Seru Ando saat keduanya sudah berbaring di atas kasur hotel di kamar nomor 17.
"Inget, dan kesan pertama aku saat ngelihat kamu tuh, kamu kaya anak nakal yang sudah terbiasa keluar masuk hotel, membawa wanita teman tidur Abang."
"Yaampun yang!" Ando tercengang, dengan kedua mata membulat hampir keluar dari tempatnya, mendengar penuturan istrinya barusan.
"Pacaran aja aku nggak pernah yang, apa lagi sampe bawa-bawa cewek ke hotel." Ando berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala tak terima.
"Aku kan nggak tahu kalau abang anak baik-baik, soalnya kebanyakan temen aku waktu Sma, pada kaya gitu semua, jadi aku pikir abang juga sama." ucapnya santai.
"Cuma kamu yang, satu-satunya wanita yang menjadi teman tidur aku, dan cuma kamu satu-satunya wanita yang akan menjadi ibu dari anak-anak ku."
Iapun beringsut mendekati Nada, memulai kembali sesuatu yang selalu membuatnya menginginkan lagi, dan lagi.
*****
Bandung..
.
Selama seminggu ini Rendra masih terus memikirkan tentang orang tua angkat Gilang.
Ia ingin sekali mencoba menanyakan kembali tentang mereka pada Gilang, namun beberapa kali ia ingin bertanya, selalu ia
urungkan.
Karena beberapa kali juga ia mendapati Gilang tengah melamun dengan tatapan sendu.
Namun hari ini ia tak mau menundanya lagi, ia menyadari bahwa ia hidup di negri hukum, tidak mungkin ia terus menyembunyikan anak orang dirumahnya.
"Hai Gilang, boleh om duduk disini." menepuk sebelah tempat duduk Gilang yang berada di depan balkon kamarnya.
Gilang melirik Rendra, dan mengangguk kecil. "Boleh om!" balasnya, lalu tatapannya kembali terarah kedepan.
"Gilang betah nggak disini, Gilang nggak kangen sama mereka."
"Maksud om?"
"Maksud om, Gilang nggak kangen sama orang tua Gilang, karena om Rasa biarpun mereka orang tua angkat, tapi om yakin mereka sangat menyayangi Gilang."
"Secara kan mereka sudah mengurus Gilang dari kecil, jadi om anterin Gilang pulang ya!"
Rendra mencoba bicara setenang mungkin pada Gilang, takut jika kata-katanya menyinggung perasaannya.
"Gilang ngerepotin om ya!" balasnya sendu.
Membuat Rendra, menelan ludahnya susah payah, hal inilah yang selalu ia takutkan.
"B-bukan begitu, om nggak enak sama orang tua kamu, nanti om disangka menyembunyikan Gilang dari mereka, om sama sekali nggak ada niatan buat usir Gilang dari sini, sama sekali nggak seperti itu."
"Om janji, kapanpun Gilang mau main kesini, pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk Gilang."
Lama Gilang terdiam, namun akhirnya ia pun mengangguk setuju, untuk di antar pulang kerumah Riana dan papa Jordy.
"Ini rumah Gilang om!" Seru Gilang saat sudah sampai di depan rumah orang tuanya.
"Ayo om turun, Gilang kenalin ke ayah sama mama." Lanjutnya, sembari turun dari mobil terlebih dulu.
....
"Gilaanngg, ya ampun Nak, akhirnya kamu pulang juga." seru Riana saat ia membuka pintu yang sudah di ketuk berkali-kali dari luar.
Riana memeluk dan menciumi kepala putra bungsunya.
"Kamu dari mana aja sih nak, mama khawatir banget tahu nggak sih." Lanjut Riana yang sudah meneteskan air mata.
"Maafin Gilang ma, Gilang tahu Gilang salah." ucapnya menunduk.
"Yasudah nggak apa-apa, sekarang Gilang masuk dan Mandi ya."
"Ma, ini om Rendra, om ini yang udah nolongin Gilang selama Gilang nggak pulang."
__ADS_1
Riana menatap Rendra lalu mengangguk, "Terimakasih banyak pak, maafkan anak saya jika sudah banyak merepotkan bapak."
"Sama-sama bu, Gilang sama sekali tidak merepotkan"
"Yaudah, kalau begitu Ayo pak masuk dulu, saya buatkan kopi, sekalian saya kenalkan pada Ayahnya Gilang."
Rendra mengangguk, mengikuti Riana masuk kedalam Rumah.
"Mas kenalin ini, pak-" melirik ke arah Rendra yang sedang tersenyum kearahnya.
"Rendra, pak bu."
"Oh iya, pak Rendra ini yang udah nolongin Gilang selama nggak pulang kemarin mas."
"Papa Jordy beranjak dari sofa yang ia duduki, berdiri untuk menyalami Rendra."
"Silahkan duduk pak."
"Terimakasih banyak pak Rendra sudah berbaik hati merawat anak saya, maaf sekali jika Gilang sudah banyak merepotkan."
"Sama-sama pak, Gilang sama sekali tidak merepotkan, lagi pula dirumah saya tidak ada siapa-siapa, selain pelayan."
Papa Jordy mengangguk, dengan Rasa penuh sesal, lalu melirik Gilang yang sudah duduk di sampingnya, dan hendak meraih tangannya untuk disalami "Gilang kenapa sih baru pulang sekarang nak?"
"Maaf yah!" ucapnya menunduk.
Papa Jordy menghela Nafas, saat ini bukan waktunya untuk berdebat kembali dengan putranya.
"Yasudah sekarang Gilang mandi dulu, terus istirahat."
Gilang mengangguk, lalu berjalan beriringan dengan Riana yang juga hendak ke dapur, untuk membuat kopi.
"Ehmm, pak sebelumnya saya mohon maaf sekali, bukannya saya ingin mencampuri keluarga bapak, serta berlaku tidak sopan, tapi bolehkah saya bertanya sesuatu?" seru Rendra hati-hati.
"Soal apa pak?"
"Maaf pak, apa benar kalau Gilang bukan anak kandung bapak dan ibu?"
Jordy tak bereaksi apapun, bahkan ia tidak menunjukan rasa kaget, saat Rendra mengucapkan hal tersebut padanya.
Papa Jordy hanya menghela nafas, sambil memejamkan matanya.
"Betul pak, Gilang memang bukan anak kandung kami, tapi saya dan istri sangat menyayanginya,."
"Boleh saya tahu, dari mana bapak dan ibu mengadopsi Gilang?"
"Saya mengadopsi Gilang, dari salah satu panti Asuhan Harapan Bunda, di Jakarta."
"Kira-kira apa bapak tahu riwayat keluarga Gilang, saat bayi itu di titipkan di panti Asuhan?"
"Bu Rusmini selaku kepala panti bilang, kalau mereka menemukan Gilang, saat bayi itu berusia 3 bulan, tergeletak di depan panti."
Deg!
"Dan ada secarik kertas, disebelah Gilang kecil, bahwa ia menitipkan Gilang disana karena tak mampu membesarkannya seorang diri, karena ia baru saja bercerai dari suaminya."
Deg!
"Katanya mantan suaminya tidak mau memberi nafkah pada anak itu."
Rendra tercengang, berulang kali menghembuskan nafasnya yang mendadak berat.
Semua yang di ceritakan Papa Jordy, membuat tulang-tulang kakinya terasa lemas.
"Ada apa ya pak, sepertinya pak Rendra penasaran sekali dengan Gilang?"
"Tidak apa-apa pak, terimakasih banyak mau berbagi cerita dengan saya, maaf saya terlalu lancang untuk bertanya mengenai hal ini."
Papa Jordy mengangguk-anggukan kepala, "Tidak masalah pak, gilang juga sudah terlanjur tahu, tidak ada lagi yang bisa saya sembunyikan."
**************
Saat perjalanan pulang dari Rumah papa Jordy dan Riana, Rendra menepikan mobilnya sejenak, saat ini ia ingin menenangkan Pikirannya yang sedang berkecamuk tak karuan.
*Flashback on.*
"Pokoknya, setelah anak ini lahir aku minta cerai mas, aku nggak mau terus-terusan hidup susah sama kamu." Seru Marlina dengan suara lantang.
"Kenapa sih Lin, kamu nggak bisa sabar sedikit, aku juga nggak diem aja, ini aku lagi berusaha."
"Tapi buktinya apa, usaha kamu selalu gagal dan sia-sia kan mas, selama 6 tahun kita berumah tangga, hidup kita masih gini-gini aja, aku cape jadi orang miskin." Marlina menangis histeris.
setelah bayi itu lahir, Marlina benar-benar meminta cerai dari Rendra, Rendra yang tak mampu lagi menahannya, hanya bisa menuruti kemauan Marlina.
Dan Marlina berniat menyerahkan bayi itu pada Rendra, Namun Rendra meminta waktu sampai ia benar-benar mendapatkan pekerjaan yang tetap, namun Marlina yang tidak sabaran akhirnya membuang bayi itu di depan panti.
__ADS_1